"Sekarang saya tanya, tujuan kamu ketemu Zia apa? Mau ngapain?" Tubuh Zia menegang, mendadak tenggorokannya terasa kering mendengar pertanyaan sang Ayah, padahal pertanyaan itu di tujukan untuk Kenzo, pemuda yang saat ini terlihat sangat tenang dengan wajah lebamnya. "Zo kan udah berkali kali bilang, Zo suka sama Zia Yah, Zo--" "Siapa yang ngijinin kamu manggil saya Ayah?" Kenzo bungkam ketika Farel memotong ucapannya, ia melirik kearah Rena yang kini tampak mengelus bahu suaminya menenangkan, dan Zia yang menatap cemas kearahnya. Kenzo tersenyum pada Zia yang kini duduk disebrangnya, tepat disamping Farel. Jika diamati, posisinya memang sudah persis seperti terdakwa yang sedang dihakimi. "Maaf, maksud Zo, Om." Farel diam tak menjawab, namun matanya masih menatap Kenzo lamat lamat.

