"Kamu yakin?"
Zia menganggukkan kepalanya mantap, gadis yang kini memakai piyama pink sambil memeluk boneka panda itu masih berdiri di hadapan kedua orangtuanya yang sedang duduk di sofa tepat di hadapannya.
"Bunda kan bilang, Zia harus bisa belajar mandiri, apalagi setelah lulus sekolah nanti Zia mau kuliah."
Rena dan Farel berpandangan mendengar penjelasan putri satu-satunya itu, Farel berdehem kemudian menggeser tubuhnya sehingga menciptakan jarak antara dirinya dan sang istri.
"Duduk sini, Nak." Ucapnya sambil menepuk sisi kosong di tengah antara dia dan istrinya.
Zia menurut, ia duduk kemudian menatap Bunda dan Ayahnya bergantian.
"Sekarang coba Zia sebutin, hal apa aja yang Zia belum bisa lakuin sendiri sampai sekarang?"
Zia terdiam mendengar penuturan sang ayah, dahinya berkerut tanda berpikir keras.
"Zia ngga bisa masak, ngendarain kendaraan, uhmm, banyak ayah," jawabnya sambil mendengus sebal di akhir kalimat karena tidak dapat menghitung semuanya satu persatu.
Rena mengelus rambut Zia sayang, "Hal paling kecil, apa?" Pancingnya.
Zia kembali terdiam, cukup lama, "Buat simpul tali sepatu..." ucapnya lirih.
Rena dan Farel kembali berpandangan, Rena menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun, Farel menghembuskan nafasnya kemudian meraih wajah Zia, menangkup dan menatapnya dalam. "Hal kecil aja Zia ngga bisa ngelakuinnya, Ayah sama Bunda ngga akan tenang kalau ninggalin kamu disini sendirian, sayang."
Zia mencebikkan bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca, "Tapi Zia ngga mau ikut ke Bali!"
Rena menarik bahu mungil Zia, memeluknya sayang, Farel merangkul bahu Rena membuat Zia merasa hangat berada di antara dekapan antara Ayah dan Bundanya.
"Sayang, kamu itu titipan dari Allah paling berharga buat Ayah sama Bunda, kamu tau? Ayah sama Bunda sempat putus asa waktu Bunda ngga hamil juga, sampai akhirnya setelah delapan tahun menikah, akhirnya kamu hadir, Allah mempercayakan kamu sama Ayah dan Bunda, Ayah sama Bunda sayaaangg banget sama Zia, Kita ngga mau kamu kenapa-napa."
Mendengar penuturan sang Bunda membuat jantung Zia berdentum keras, ia tidak pernah tahu jika ternyata Ayah dan Bunda selama itu menunggu kehadirannya. Tangannya terulur membalas pelukan bundanya. Mendadak dirinya kembali bimbang, untuk memilih menetap atau ikut bersama Ayah dan Bundanya. Ia memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang kini mendekapnya erat, menyalurkan kasih sayang yang terasa hangat disetiap aliran darahnya, ia berjanji akan selalu bersyukur mulai saat ini, dan berusaha tidak akan pernah mengecewakan Ayah dan Bundanya.
Ya Allah, terima kasih sudah menempatkan Zia di tempat yang penuh cinta ini. Terima kasih sudah menitipkan Zia pada Ayah dan Bunda yang sangat menyayangi Zia, Zia janji akan jadi anak yang baik dan berusaha untuk tidak mengecewakan Ayah dan Bunda, Zia janji.
***
"Nih gua sempet mampir ke perpusda buat cari referensi, dah ya tugas gua selesai, cuma nyari sumber kan? Giliran kalian yang kerja." ucap seorang gadis cantik berkacamata sambil meletakkan beberapa buku tebal di tengah-tengah meja.
"Mantap, untung gua cuma kebagian buat nyetak, Hahahaha." sahut seorang pemuda kemudian tergelak sendiri. Bella dan seorang gadis lain hanya tersenyum kecil, sedangkan Kenzo dan Bara terlihat diam sambil sesekali saling melirik sinis membuat gadis yang duduk di samping Bella mengernyit.
"Tumben banget ni Couple goals diem dieman bae, biasanya suka pamer kemesraan ditengah-tengah kaum jomblo," cibirnya.
Bella mendesah kasar, "Apaan sih Mel, B aja."
"Iyaa ni, tumben juga si Kenzo diem," sahut seorang pemuda yang tadi tertawa, Gifan.
Kenzo hanya melirik Gifan sekilas lalu menyibukkan diri dengan ponselnya, Bela menatap Kenzo sejenak kemudian menghembuskan nafas pelan, ia menarik laptop miliknya mendekat kemudian mulai mengetik tugas bagiannya. Keadaan yang hening membuat suasana di meja cafe itu menjadi canggung.
"Emm, gua mau nyari pesenan bokap dulu deh," Amel, gadis berambut pendek itu bangkit dari duduknya kemudian berlenggang pergi, menghindari suasana canggung yang tercipta akibat keterdiaman Bara, Kenzo dan Bela.
"Eh Mel ikut!" Gifan turut bangkit lalu berlari mengejar Amel yang sudah menghilang dibalik pintu keluar Cafe.
Sekarang hanya tinggal Bela yang sibuk dengan laptop, Kenzo yang sibuk dengan ponsel, Bara yang sedang mengamati keadaan luar cafe sambil memainkan kunci motor ditangannya, dan gadis berkacamata, Vina, yang sibuk dengan buku tebal di tangannya.
Keadaan tetap hening sampai suara dering ponsel Bela memecah kebungkaman disana, Bela menghentikan aktivitas mengetiknya kemudian meraih ponselnya, terlihat ada telfon dari Ibunya, dengan segera ia menggeser tombol hijau.
"Halo, Mi?"
..............
"Sekarang?"
..............
"Yaudah, Mami tunggu dirumah aja ya,"
............
"Ok, bye."
Bela mematikan sambungan telfonnya, ia menatap Vina, Bara dan Kenzo bergantian, "Sorry guys, Nyokap gue telfon nyuruh gue buat pulang,"
"Ngga masalah sih kalau gue, udah selesai berapa bab yang lo ketik?" Sahut Vina sambil membetulkan kacamatanya.
"Hampir selesai," "Yaudah tinggal aja biar dilanjut si Amel."
"Oke siap, sorry banget lho,"
"Santai kali,"
Bella membereskan barang barangnya, lalu menatap Kenzo yang juga sedang menatapnya, cukup lama mereka bertatapan, bahkan saat Bela sudah berdiri Kenzo masih duduk dengan menatap Bela. Melihat tak ada tanda tanda bahwa Kenzo akan bangkit dari duduknya dan mengantarnya pulang lantas Bela berbalik, pergi dengan langkah lebar tanpa mengucapkan apapun.
"Kalian kenapa si?" Tanya Vina yang merasa aneh dengan tingkah Kenzo dan Bela.
Kenzo tetap bungkam, ia menggidikan bahu acuh lalu bangkit dan menyusul Bela dengan langkah santai tanpa berkata kata.
Bara menatap kepergian Kenzo lekat lekat, ia mengeluarkan ponselnya kemudian mengirimkan pesan singkat pada gadis yang memenuhi pikirannya sejak tadi.
To Zia
Mau jalan-jalan?
Setelahnya ia tersenyum lalu menaruh ponselnya di meja.
"Tugas gue ngapain ni?" Tanya Bara kemudian. Amel melirik Bara, "Gimana kalau lo ngelanjutin tugasnya Bela aja?"
"Oke," ucapnya setuju lalu mulai membuka laptonya dan menerima flashdisk yang diberikan oleh Amel, selanjutnya mereka sibuk dengan tugasnya masing masing.
***
Bela berjalan terburu buru menuju pintu keluar pusat perbelanjaan dimana cafe yang tadi ia singgahi berada, baru saja ia hendak mengulurkan tangannya untuk menghentikan taksi, ia merasa sebuah tangan menarik tangannya.
Ia menoleh, mendapati Kenzo yang sekarang menatap dirinya tanpa ekspresi, tanpa mengatakan apapun, Kenzo menarik Bela menuju basement, Bela menurut, seulas senyum terbit di bibirnya. Beginilah Kenzo, sekesal apapun keadaannya, ia selalu peduli padanya membuatnya luluh akan sikap pemuda tempramen itu.
"Mami kenapa?" Tanya Kenzo setelah ia menyalakan mesin mobil.
"Ngga tau, cuma nyuruh pulang aja." Jawab Bela tanpa menatap Kenzo, gadis itu memilih menatap jalanan di depannya, begitu pula dengan Kenzo yang masih terdiam sambil fokus menyetir menuju rumah Bela.
***
"Zia?"
Zia yang tengah duduk sambil membaca novel ditengah ranjangnya menoleh kearah pintu yang terbuka, "Iya Bun?" Jawabnya saat melihat Rena masuk.
Rena mendekati Zia lalu duduk disamping putrinya, "Nih, hpnya Zia udah dibetulin." Zia menaruh novelnya lalu mengambil ponsel ditangan Rena, ia mengaktifkan ponselnya yang semula mati lalu tersenyum saat kembali melihat benda pipih itu menyala.
"Makasih Bundaa," riangnya sambil memeluk Rena.
Rena tertawa, "Iya, lain kali jangan dirusakin lagi ya?"
"Aye aye Captain!"
Zia menegakkan tubuhnya sambil mengambil sikap hormat, lagi lagi Rena terkekeh melihat tingkah lucu putrinya itu, "Yaudah Zia bobo ya, udah malem." Zia mengangguk dan tersenyum manis saat Rena mengecup sayang dahinya, setelah itu Rena keluar dan menutup pintu kamar Zia dengan pelan.
Perhatian Zia kembali teralihkan pada ponselnya yang kini bergetar dan terus berbunyi karena banyaknya notifikasi yang masuk setelah ia menyalakan koneksi internetnya. Setelah ponselnya tidak berbunyi lagi, ia segera membuka aplikasi chatting terlebih dulu.
2 missed call from Bunda
6 new messages from Raraakk Cancii
2 new messages from Aidarrr
34 missed call from Abang Zo?
29 missed video call from Abang Zo?
1 new message from Abang Zo?
1 new message from Unkown
Zia menggigit bibir bawahnya gemas saat melihat begitu banyaknya notifikasi dari Kenzo, Abang kesayangannya. Biasanya selalu dia yang selalu menghubungi Kenzo duluan, meskipun hanya di baca oleh Kenzo ia sudah bahagia, tapi sekarang apa? Notifikasi terbanyak ia dapat dari Kenzo, membuat rasa bahagia membuncah begitu hebat didadanya.
Ia lalu memilih membuka pesan dari Kenzo terlebih dahulu,
Abang Zo?
Dmn?
10.43AM
Zia menaikkan alisnya, oh jadi ini maksud Kenzo tadi siang saat mengatakan bahwa pemuda itu menelfon berkali kali. Zia menyengir, dengan semangat 45 ia mengetikkan jawaban meskipun sudah sangat terlambat.
To Abang Zo?
Zia dirumah kok
22.12PM
Sesaat kemudian mata Zia melebar ketika dua ceklis disisi kiri pesannya berubah menjadi biru, status bar disamping profil Kenzo pun menunjukan bahwa pemuda itu tengah Online. Zia berteriak kecil, ia menenggelamkan wajahnya kedalam bantal gemas lalu berguling kesana kemari menghiraukan ranjangnya yang berantakan akibat ulahnya dan boneka bonekanya yang berjatuhan.
Ting!
Ia menegakkan tubuhnya, jantungnya berdegub kencang, dengan hati hati ia menatap kearah ponselnya, ternyata balasan dari Kenzo. Pipi Zia memanas, dengan jantung yang bergemuruh ia membuka pesan balasan dari Kenzo.
Abang Zo?
Tidur!
22.12PM
Zia menarik nafas panjang, tangannya sedikit bergetar saat ia mengetikkan balasan,
To Abang Zo?
Iyaa ini Zia mau bobok kok
Abang juga ya
Dadaaah
Zia sayang Abang☺❤
22.13PM
Zia tersenyum, menaruh ponselnya di nakas, ia lalu mematikan lampu utama menyisakan lampu tidur remang remang yang menemaninya, ia bergelung dengan nyaman,
"Selamat malam Abang, mimpi indah," gumamnya sambil tersenyum lalu memejamkan matanya.
Dilain tempat
Ting!
Secepat kilat pemuda yang tengah duduk di balkon kamar itu meraih ponselnya yang berada di meja, ia menatap sebuah pesan yang baru saja masuk dari gadis kecil yang selalu menganggunya.
Hama?
Iyaa ini Zia mau bobok kok
Abang juga ya
Dadaaah
Zia sayang Abang☺❤
22.13PM
Tanpa dikomando seulas senyum geli terbit di bibir Kenzo, tak dapat dipungkiri bahwa kini jantungnya berdegub abnormal dan sesuatu terasa menggelitik perutnya hanya karena melihat ucapan sayang dan emotikon berbentuk hati.
Mendadak bayangan wajah manis Bela melintas dibenaknya membuat senyumnya seketika lenyap, ia menggelengkan kepalanya lalu menghembuskan nafas kasar.
"Jangan b**o! Anak kecil itu ga guna!" Gumamnya sendiri lalu memilih mematikan ponselnya lalu berjalan menuju kamar mandi, membersihkan diri sebelum tidur seperti kebiasaannya.