Kenzo mengerjabkan matanya perlahan, matanya menyipit sejenak kemudian terbuka sempurna, sinar matahari diluar sana masih tertutup sempurna oleh tirai putihnya, pemuda yang bangun dalam kondisi tengkurap itu meraih ponselnya di nakas kemudian menyalakannya untuk melihat jam, setelah melihat jam menunjukan pukul 6.30 pagi, ia kembali menaruh ponselnya dan menenggelamkan wajahnya di bantal.
Rasa kantuk masih menguasainya karena setelah menunaikan sholat subuh ia memilih tidur kembali, sekitar 20 menit kemudian matanya kembali terbuka, ia menggeliat sejenak lalu bangkit dari posisinya. Duduk sambil menegak segelas air di nakas, setelahnya ia bangkit dan berjalan pelan menuju kamar mandi.
Tepat setelah pintu kamar mandi tertutup, pintu kamar Kenzo terbuka dari luar, tak lama, sebuah kepala muncul lalu sepasang mata itu menatap sekitar. Pintu semakin terbuka lebar menampakan tubuh mungil gadis SMA yang masih sering dikira anak SMP. Zia, berkacak pinggang saat berhasil menyelinap kedalam kamar Abang kesayangannya, senyum puas tercetak diwajah imutnya yang hanya terpoles bedak bayi dan liptint baby pink tipis.
"Ish, suram banget suasana kamarnya abang, persis kayak masa depannya Zia kalau tanpa abang," gumamnya lalu terkikik sendiri.
Dengan langkah ringan gadis itu menghampiri jendela, membuka lebar lebar tirai yang menutupi cahaya matahari, lalu berbalik menuju kearah ranjang, mulai merapikan ranjang yang besarnya dua kali lipat dari ukuran ranjangnya di rumah. Sesekali ia menoleh kearah pintu kamar mandi. Takut takut jika Kenzo tiba tiba keluar dan memergoki dirinya disini, bisa digantung hidup hidup dia.
Zia meneggakan tubuhnya waspada saat tak mendengar suara gemericik air lagi, mata bulatnya semakin melebar dan ia menoleh perlahan kearah pintu kamar mandi. Dengan jantung berdegub kencang, ia berjalan mengendap menuju pintu, berusaha sekuat mungkin agar tidak menimbulkan suara, baru saja tangannya memegang handle pintu--
CEKLEK
Tubuhnya membeku.
***
Kenzo membuka pintu kamar mandi, dan yang pertama dilihatnya adalah punggung seorang gadis dengan celana kodok pink dan kaos putih didalamnya, kaus kaki putih, dan rambut lurusnya yang diikat dua, sudah jelas itu siapa. Kenzo mendengus, "Ngapain?!" Ucapnya tidak santai saat melihat tubuh Zia masih membeku ditempat.
Beruntungnya ia sudah mengenakan pakaian di kamar mandi tadi, dengan masih mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, Kenzo berjalan menuju Zia. Sedangkan Zia membalikkan tubuhnya perlahan, terciduk dia.
"Eh, Abang hehe Pagi, Bang," sapa Zia cengar cengir saat melihat Kenzo sudah berdiri menjulang di belakangnya, pemuda itu masih bertahan dengan wajah datarnya, namun pagi ini terlihat berkali kali lipat tampan dengan rambut basah yang berantakan dan handuk yang menggantung di bahu tegapnya.
"Ngapain lo?!" Kali ini alis Kenzo sedikit menukik menunjukan ketidaksukaannya membuat Zia meneguk ludahnya kasar. "Cuma pengen liat Abang," lirih Zia sambil menunduk, tangannya bertautan didepan tubuhnya. Kenzo menghela nafas sambil memutar bola matanya malas, jika seperti ini ia terlihat seperti seorang kakak yang sedang menindas bocah SD!
"Keluar!"
Zia mendongak, dan mata bulatnya berhasil mengunci tatapan Kenzo beberapa saat sebelum akhirnya pemuda itu mendorong gadis berkucir dua itu keluar dari kamarnya dan ia segera mengunci pintu kamarnya. Ia memunggungi pintu kamar, menggelengkan kepalanya dan memukul mukul kepalanya saat bayangan wajah Zia tak mau enyah dari pikirannya.
"Aargghh s****n!" Umpatnya lalu memilih berjalan cepat kearah lemari untuk memilih pakaian, ia ada kelas pukul sepuluh pagi, tapi tampaknya ia akan berangkat dua jam lebih awal agar tidak berlama lama dengan Zia. Pasti anak itu akan mengganggunya jika ia tidak juga berangkat ke kampus. Dibalik pintu kamar Kenzo Zia mencebikkan bibirnya kesal, lagi lagi ia diusir. Bahkan Kenzo sama sekali tidak mengucapkan terima kasih untuknya karena telah membersihkan ranjang nya!
Zia mendengus, namun kekesalannya berubah saat mencium aroma s**u kesukaannya bercampur aroma kopi, ia menoleh kearah tangga lalu dengan langkah kecilnya ia sedikit berlari menuju dapur.
"Zia, sini nak, Bunda udah buatin s**u kesukaannya Zia."
Zia tersenyum lebar, melupakan kekesalannya pada Kenzo gadis berumur 16 tahun itu berlarian dengan girang kearah Meja makan dimana Rahma sudah meletakkan segelas penuh s**u vanilla, "Makasihh Bundaaa,"
"Iyaa, habisin ya, habis itu sarapan bareng,"
Zia mengangguk semangat, ia duduk dikursinya, lalu mulai menikmati s**u hangat di hadapannya. "Pagi sayang, Pagi manis," Reza datang, mengecup kedua pipi sang istri lalu beralih mengecup puncak kepala Zia membuat Zia semakin berseri seri.
"Pagi Ayah,"
Reza duduk dikursi paling ujung, "Sama siapa kesini? Diantar ayah kamu?"
Zia mengangguk anggukan kepalanya, "Ayah sama Bundanya Zia masih silaturahmi ke tempatnya Uncle Buan, Zia gak mau ikut, Uncle Buan galak, Zia gak suka. Jadinya Zia minta anterin ke sini deh," ceritanya sambil mengaduk aduk susunya didalam gelas.
Rahma terkekeh gemas melihat ekspresi lucu dari Zia, sedangkan Reza mengangguk angguk mengerti.
"Abang Zo udah bangun?"
Zia menoleh pada Rahma, "Udah ganteng kok tadi, tapi Zia di usir trus Abang tutup pintunya lagi, Abang kenapa sih Bun?" Adu Zia lalu bertanya penasaran. Rahma tersenyum, sambil membawa semangkuk sup menuju meja makan, ia menatanya di meja, "Mungkin Abang masih butuh privasi, apalagi baru aja mandi,"
Zia mengangguk angguk paham lalu kembali sibuk dengan s**u dalam gelas yang tinggal setengah.
"Pagi Yah, Bun,"
"PAGII ABANG GANTENG,"
Kenzo mendengus sebal saat mendapat balasan dari Zia, ia melangkah malas menuju kursi disebrang ayahnya, lumayan jauh karena meja makan mereka berbentuk persegi panjang. Sengaja agar terjauh dari Zia.
"Ih Abang kok duduknya di situ, kan abang suka duduk disini," seru Zia sambil menepuk nepuk kursi kosong di sampingnya.
"Gak, alergi." "Alergi sama apa?" "Lo."
"Kenzo," nada peringatan itu keluar dari Reza, membuat Kenzo kembali mendengus.
"Sorry," ucapnya tidak ikhlas.
Zia tersenyum manis, "Ngga apa apa kok, Abang bercanda juga, iya kan?"
Kenzo hanya diam, ia tidak tahu terbuat dari apa Zia itu hingga tidak pernah menampakan wajah sakit hatinya atau setidaknya mimik wajah tersinggung. Selalu saja menampakan wajah ceria, bahkan suaranya tak kalah ceria seperti hidupnya tak ada beban sama sekali.
"Oke sekarang kita makan," Rahma mulai menaruh nasi ke piring mereka, dimulai dari Suaminya, Zia lalu Kenzo. "Oh iya, habis ini Zia mau kemana sayang?"
Zia mengerutkan dahinya menatap Rahma, kemudian menggeleng. "Ngga tau Bun, Zia takut sendirian di rumah."
"Yahh, Bunda juga mau arisan nanti siang, atau kamu mau ikut Bunda?"
Zia bergidik lalu menggeleng, ia sudah pernah ikut Bundanya arisan, dan disana hanya berisi ibu ibu sosialita yang gemar pamer harta, memakai perhiasan berlebihan dan riasan yang tebal membuatnya risih, apalagi ucapan ceplas ceplos yang terlontar, bahkan tak sungkan bergosip tentang anggota lain yang tidak hadir. Ck, tak patut di contoh. Untung saja Bundanya hanya mengikuti arisannya saja, tidak ikut memamerkan harta atau bahkan Ghibah bersama. Big No!
"Nah berarti kamu ikut Abang ke kampus aja kalau gitu,"
UHUKK
Kenzo meletakkan sendoknya kasar lalu segera meraih air putih dihadapannya, meneguk airnya hingga tandas lalu berdiri dan menggendong tasnya dibahu kanan.
"Zo berangkat, Assalamualaikum," Bergegas menyalimi ayah dan Bundanya,
"Lho kok buru buru?" Reza mengernyit.
"Lanjut sarapan di kantin aja nanti," Balas Kenzo sambil memutari meja makan dan menyalimi Rahma. "Lhoo trus Zia?" Rahma menahan tangan Kenzo.
Kenzo melepasnya dengan lembut, pemuda itu memberikan cengirannya lalu mulai melangkah menuju garasi. "Zia mau main sama Bara aja deh,"
Langkah Kenzo berhenti mendadak membuat Reza dan Rahma lagi lagi mengerutkan dahi bingung, terlihat Kenzo menghela nafas dalam lalu menoleh kearah ke belakang
"Gua tunggu di depan!" Titahnya lalu melanjutkan langkahnya lagi. Kali ini Zia yang mengerutkan dahinya bingung, otak kecilnya tidak bisa mencerna apa yang baru saja Kenzo katakan.
TIINN TIINNN
Suara klakson motor yang nyaring membuat Zia kaget, "Sana udah ditungguin Abang," Sekarang Zia baru paham jika ternyata Kenzo mau mengajaknya ke Kampus, dengan senyuman manisnya ia bangkit dari kursinya, mencium tangan Rahma dan Reza, mengucap salam lalu berlari kecil ke depan rumah.
"Ayok buruan!" Teriak Zo saat melihat Zia berlari lari dari kejauhan.
Zia mempercepat langkahnya, setelah sampai dihadapan Zo, pemuda itu menyerahkan helm berwarna biru muda kearahnya, "Ngga ada yang warnanya pink?"
"Gausah nawar ayo cepet naik!"
Lagi, Zia mencebik, ia segera memakai helmnya lalu mulai menaiki motor sport Zo dengan susah payah, bahkan pemuda itu enggan membantunya sama sekali.
Setelah duduk dengan nyaman, Zia melingkarkan tangannya ke pinggang Zo, yang lagi lagi membuat jantung pemuda itu berpacu cepat. Menghembuskan nafas kasar untuk menetralkan jantungnya, Zo kemudian menggas motornya menuju kampus dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di kampus, Kenzo sukses menjadi pusat perhatian karena sudah membawa gadis kecil manis yang terlihat seperti anak SD seperti Zia, Zia memang terlihat paling pendek karena tinggi badannya hanya 155CM sedangkan Kenzo yang 186CM.
"Buruan jalannya!" Kenzo kembali mengomel saat dilihatnya Zia tertinggal agak jauh karena sibuk memperhatikan setiap lorong yang dilewatinya.
Zia segera berlari kecil kearah Zo, lalu menggenggam tepat dibagian samping kemeja pemuda itu, seperti kebiasaanya. Kenzo menghempaskan tangan Zia kasar, "Kusut nanti!"
Zia mendengus, "Abang marah marah terus! Zia gak like!"
"Gak like bodo amat, emang gua peduli." Setelah berkata demikian Kenzo berjalan dengan langkah lebar menghiraukan Zia yang kini menghentakkan kakinya gemas.
"Abang tungguin Ziaaaa!!!" Pekiknya yang berhasil mendapat perhatian mahasiswa disana.
"Ih jahat banget masa adeknya ditinggal,"
"Adek tiri kali ya itu?"
Kenzo berdecak sebal mendengar ucapan ucapan mahasiswa disampingnya, ia lantas berbalik membuat Zia yang tengah berlari menabrak tubuhnya tanpa bisa dicegah. Tubuh mungil itu terjatuh dengan b****g yang lebih dulu mendarat. "Ishh sakit Abang," Zia mencebik, mata bulatnya berkaca kaca membuat Zo tak tega. Pemuda itu segera berjongkok membantu Zia berdiri.
"Kalau lo gak mau gua tinggal sendirian, lo harus ikutin aturan gua, paham?" Bisikan tajam dari Kenzo membuat Zia mengangguk takut, dengan masih menampakan wajah datarnya Kenzo menarik Zia berdiri lalu menggenggam tangan mungil itu, menggiringnya menuju Kantin, ia baru makan tiga sendok makan dirumah tadi, jika tahu ujungnya Zia akan ikut dengannya, ia tidak akan terburu buru tadi. Ck.
"Woaahh woahh siapa nih, tumben bawa buntut,"
Kenzo mencibir saat melihat Gifan meledeknya, ia menarik kursi lalu menyuruh Zia duduk, lalu ia sendiri duduk disamping Zia, dihadapannya duduk Gifan dengan semangkuk soto. "Eh adek, hari sabtu kok bolos sekolah?" Sahut Gifan sok akrab.
Zia menatap Gifan lalu menatap Kenzo yang kini tengah asik membaca menu dari kejauhan, Zia kembali menatap Gifan. "Zia libur hari ini, Kak."
Gifan mengangguk, "Namanya siapa?" "Zia."
Gifan melebarkan kedua mata dan mulutnya dengan dramatis, "Sumpah dia adek lo? Lo bilang lo anak tunggal?"
Kenzo menatap sinis kearah Gifan, "Bukan! Dia bukan adek gua!"
"Lah, buktinya nama kalian mirip, Kenzo Zia,"
"Ck, dia anaknya sahabat nyokap."
Gifan kembali membuat mulutnya berbentuk huruf O, pemuda itu lalu kembali menatap Zia yang sedang menatap kedua kakinya yang ia mainkan. "Rencana mau lanjut sekolah SMP dimana, Dek?"
Zia menoleh dengan cepat, "Kok SMP?"
"Ppffttt,"
Zia memutar kepalanya kearah Kenzo yang tampak menahan tawa, matanya mulai menyipit sebal lalu menatap Gifan.
"Zia udah SMA Kak! Udah kelas sebelas!" Ambeknya.
"Lahh gilaa! ketipu casing gua, sorry banget gua kira masih SD,"
Pecah sudah tawa Kenzo membuat Zia semakin kesal. "Abang jangan ketawa!!" Serunya sambil memukul lengan Kenzo. Kenzo berdehem, "Salah siapa masih keliatan kek bocah."
Zia bersedekap, tidak merespon ucapan Kenzo sebagai bukti kekesalannya. Melihat itu Kenzo mendengus, dasar bocah.
"Gua mau beli makan nih, mau juga ga?" "Mau s**u!" Sahutnya cepat.
"Beli sendiri." "Abanggg ihh!!"
"Iya iyaa," Kenzo bangkit dari duduknya, baru beberapa langkah ia berjalan, ia kembali menoleh dab mendapati Gifan yang sudah selesai makan. Bahaya jika Zia ditinggalkan sendiri dengan Gifan, atau lebih parah bagaimana jika Bara datang saat ia tengah mengantri makanan? Oke ini tidak bisa dibiarkan. Kenzo kembali berjalan kearah meja dimana Zia duduk, kemudian menepuk bahu Gifan.
"Dah selesai kan lo?" Gifan mengernyit bingung, "Udah, napa?"
"Nih, beliin gua nasi goreng, sama coffee late, s**u vanilla sekalian." "Lu ngejadiin gua babu bro?"
"Wess kalem, gua ga bisa ninggalin ni bocah, anaknya gak bisa diem banget, kalau dia kabur gua yang di omelin Bunda Bro, sana buru, laper gua,"
Kenzo melirik lirik kearah Zia, dan untungnya gadis itu tengah sibuk memperhatikan sekitar sehingga tidak mendengar apa yang diucapkannya. Gifan berdecak namun akhirnya menerima uang dari Kenzo juga, pemuda itu bangkit lalu mulai berjalan menuju penjual nasi goreng. Kenzo tersenyum puas lalu kembali duduk di tempatnya, "Loh Abang kok gajadi?"
"Dibeliin," jawabnya sambil mengeluarkan ponsel.
Zia mengangguk angguk mengerti.
"Zia?"
"Kenzo?"
Kompak, Zia dan Kenzo menoleh.