Kenzo mengamati wajah cantik gadisnya lamat lamat, entah bagaimana tapi Zianya tetap terlihat manis meskipun wajah rupawan itu dihiasi luka lebam dan cakaran, tangannya terulur, mengusap lembut pipi berisi Zia dengan buku jari telunjuknya, takut jika gerakannya membangunkan tidur pulas Zia. Menatap lekat, Kenzo semakin mendekatkan wajahnya, hampir saja bibirnya menyentuh permukaan pipi Zia namun getaran pada ponselnya menghentikannya. Tanpa mengubah posisinya, Zo tersenyum dengan jarak yang sangat dekat dengan pipi Zia. "Nggak sekarang, Kecil." Bisiknya pelan lalu segera menjauhkan wajahnya. Zo berdiri, berjalan agak menjauh dari Zia, ia merogoh ponselnya disaku celana lalu segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga. "Waalaikumsalam, Iya Bun Zia udah Zo bawa pul

