Restoran itu riuh oleh suara gelas beradu dan tawa yang berhamburan. Meja panjang dipenuhi aneka hidangan—daging panggang beraroma gurih, sup panas yang mengepul, hingga deretan minuman berwarna cerah. Para staf menyantap dengan semangat, wajah mereka berbinar seakan beban kerja seharian terhapus begitu saja. “Wah... harusnya mah yang ngajakin kita makan teh Pak Hilman, nya,” celetuk Baim, suaranya keras hingga membuat beberapa pengunjung meja sebelah menoleh sekilas. Ia tertawa lepas sambil menunjuk sendoknya ke arah Arju yang duduk di ujung meja. “Nuhun atuh, Kang Abim!” Tawa riuh segera pecah. “Makasih, Kang Abim!” “Luar biasa, bos!” “Pokoknya tiap minggu aja traktiran gini, Kang. Baru mantap kerja!” Suasana benar-benar hidup. Semua orang sibuk mengunyah dan melontarkan candaan, ke

