“Hah?! Dia ninggalin lo di stasiun?!” seru Cindy, hampir menjatuhkan sendok es krimnya. Artika mengangguk cepat, wajahnya masam. “Uhm! Dari situ gue mikir… ini beneran bukan Abim yang gue kenal.” Cindy menghela napas panjang, lalu mencondongkan tubuh. “Wah, gila sih. Abim tuh nggak mungkin kaya gitu ke lo. Gue aja sering iri banget sama lo, tau nggak? Selalu diratukan, selalu dijagain. Tapi ya, lo emang pantes sih dapat itu semua.” Artika menggigit bibir, gelisah. “Terus gue harus gimana ini, Cin? Apa bener kali ya kalo Kang Abim ada cedera di kepala? Nggak mungkin beda orang, kan?” Cindy menggeleng pelan, alisnya berkerut. “Orang lain? Nggak mungkin, Tik. Emang Kang Abim punya adik atau kakak?” “Enggak. Dia sendirian sama mamanya.” “Ya, kan. Kakak-adik juga nggak mungkin se-mirip it

