Arju duduk tegak di balik meja kerjanya, setelan formal rapi melekat di tubuhnya, rambut klimis tanpa satu helai pun berantakan. Dari luar, ia tampak seperti seorang profesional yang tengah fokus menyiapkan laporan. Tapi di balik layar tablet yang terhampar di depannya, jari-jarinya bergerak cepat membuka berkas demi berkas rahasia. Data yang tersusun rapih di folder digital itu ternyata menyimpan sesuatu yang lebih gelap. Beberapa catatan produk dengan angka yang tidak wajar. Margin keuntungan yang seolah dipoles agar terlihat masuk akal. Dan sebuah daftar panjang berisi nama-nama. Arju menyipitkan mata. Nama-nama ini… apa? Investor? Kontak bisnis? Atau justru orang-orang yang terlibat? Rasanya terlalu kebetulan. Dalam benaknya, ia yakin saudara kembarnya sudah sampai di titik ini. Mun

