Malam di Bandung masih ramai seperti biasa—jalan-jalan besar dipenuhi cahaya kendaraan dan tawa dari kafe-kafe yang belum juga tutup. Kota itu seolah tak pernah tidur. Tapi di sebuah sudut tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, suasana justru berbeda.
Di kawasan tempat tinggal Abim, jalanan tampak sunyi. Lampu-lampu teras menyala remang, menerangi deretan rumah kecil yang kebanyakan disewakan untuk para pekerja urban. Di sana, kehidupan bukan soal ramai atau sepi, tapi tentang rutinitas yang diam-diam menggulung hari.
Di dalam salah satu rumah itu, seorang pria duduk di depan meja kerja sederhana. Rambutnya berantakan, matanya menatap layar laptop yang penuh dengan data dan laporan. Tapi sesungguhnya, hatinya entah di mana.
Itu bukan Abim.
Itu Arju. Pria tampan berambut acak itu mencoba memahami pekerjaan yang sama sekali asing baginya. Dokumen demi dokumen terbuka, dan catatan kecil tertulis di buku catatan lusuh di sampingnya. Ia menghafal istilah, pola laporan, nama-nama rekan kerja. Semua harus sempurna. Semua harus meyakinkan.
Tapi konsentrasinya justru pecah di saat yang tak terduga.
Bayangan wajah seseorang muncul begitu saja di benaknya, senyum manis, mata teduh, dan rambut panjang yang selalu diikat tinggi.
Artika.
Arju mendadak bersandar ke belakang, mendesah keras.
"Aaaah! Kenapa tiba-tiba ada dia?!" serunya frustrasi, mengacak rambutnya yang memang sudah kusut.
Ia menutup laptop dengan kasar, membiarkan layar gelap mencerminkan wajahnya sendiri yang bingung.
Perasaan itu tak seharusnya muncul. Ini bukan waktunya. Dia punya misi. Ia harus menjaga nama saudaranya, menggali kebenaran, dan bertahan hidup dalam dunia yang bukan miliknya.
Tapi kenapa bayangan Artika justru menghantui di saat seperti ini?
Arju berdiri, berjalan mondar-mandir sebentar, lalu mengambil ponsel. Jemarinya sempat ragu. Namun akhirnya ia menekan satu nama yang selalu jadi pelariannya sejak kecil.
Ibu.
Ponsel menyambung. Ada jeda beberapa detik sebelum suara di seberang menjawab.
"Halo?" Suara lembut penuh kehangatan itu langsung menembus lapisan kegelisahannya. Dan untuk sesaat, dunia Arju tak terasa seasing itu lagi. “Kamu baik-baik aja, kan, Nak?”
"I’m okey. Ibu sendiri gimana di sana?" tanya Arju, mencoba terdengar santai meski nada suaranya menggantung. Ia tak terbiasa mengucap perhatian secara utuh, tapi kali ini ia berusaha—dengan gaya kaku khasnya.
"Ibu baik, kok." Jawaban itu terdengar tenang, namun tak bisa menyembunyikan sedikit gemetar di ujung kalimatnya. "Ibu cuma mau pesan… kalau kamu nggak bisa, jangan lanjutin. Terkadang kita emang harus siapin ruang ikhlas, Nak."
Kalimat itu menghantam d**a Arju dengan pelan tapi tepat sasaran. Ia langsung mendongak, dahinya berkerut. "Ruang ikhlas apa, Bu? Aku aja belum mulai!" Nada bicaranya meninggi sedikit, bukan karena marah, tapi lebih karena gusar, seperti anak kecil yang belum siap dikalahkan oleh kemungkinan terburuk.
"Ibu cuma khawatir."
Arju mengembuskan napas, pelan. Tangannya meremas ujung kaos yang ia kenakan, seperti menahan sesuatu yang tak ingin meledak keluar. "Nggak usah khawatirin aku. Doain aku aja seperti selama ini Ibu lakuin ke aku. Kita kan jarang banget ketemu..." Suaranya kini lebih tenang, tapi sarat dengan gengsi yang belum sepenuhnya luluh.
Di seberang sana, sunyi. Hening.
Tapi bukan karena sinyal buruk, melainkan karena ikatan batin mereka sedang saling bicara dalam diam.
"Abim… oke aja, kan?" Arju akhirnya memecah keheningan, suaranya kali ini lebih lirih. Ada kekhawatiran nyata di dalamnya, sesuatu yang tak bisa ia tutupi lagi.
"Uhm… Abim stabil keadaannya." Jawaban Ibu terdengar hati-hati, seperti menahan isak kecil yang nyaris bocor dari lubang paling rapuh dalam suara seorang ibu.
Arju menegapkan tubuh, duduk lebih tegak, seolah mempersiapkan diri untuk melanjutkan sesuatu yang lebih pribadi. "Omong-omong…" Ia menarik napas pelan. "Apa Abim punya pacar?"
Pertanyaan itu meluncur dengan nada seolah ingin santai, tapi tak cukup lihai menyembunyikan kegelisahan. Arju butuh kepastian. Ia butuh tahu apakah kedekatan Artika hanyalah khayalan semu… atau kenyataan yang lebih rumit dari yang ia perkirakan.
Ponsel tetap menempel di telinga. Tapi yang lebih berdebar adalah dad4nya.
"Uhmm… Abim nggak pernah bilang apa-apa ke Ibu." Suara Ibu terdengar pelan, jujur, dan penuh pertimbangan. "Ibu sendiri juga nggak mau banyak tanya walaupun usia kalian sudah matang."
Terdengar napas yang melena, perlahan, seolah Ibu sedang membuka kembali pintu lama yang penuh debu kenangan. "Kamu tau sendiri, kan, apa yang terjadi pada pernikahan Ibu sama Daddy... itu jelas meninggalkan trauma."
Mata Arju menunduk. Ia membasahi bibir bawahnya yang terasa kering, lalu mengangguk kecil walaupun tahu Ibu tak bisa melihatnya. Tapi ikatan batin mereka cukup kuat untuk tahu bahwa ia mendengar dengan sungguh-sungguh.
"Aku ngerti perasaan Ibu." Suaranya dalam, sarat empati. Ada luka yang mereka bagi dalam diam, sejak lama.
Hening beberapa detik. Lalu Ibu kembali bicara.
"Tapi, Nak…" Suara itu kembali lembut, tapi kali ini mengandung jejak ingatan samar yang sedang ditelusuri. "Ibu pernah dengar kalau Abim dekat sama seseorang. Ibu lupa namanya. Namanya cantik sekali… biar Ibu ingat-ingat."
Jantung Arju langsung berdetak lebih cepat. Tubuhnya seketika menegang. Ia duduk diam menanti, seolah satu nama akan menentukan arah dari semua kebingungannya akhir-akhir ini.
"Artika!" seru Ibu, yakin. "Ya… Artika."
Arju membeku. Ia tidak tau siapa nama perempuan tadi yang senyumnya menyelinap di sela fokusnya, kini datang kembali.
"Apa dia punya kafe?" tanya Arju cepat, tak bisa menahan rasa penasarannya. Ia mencoba terdengar biasa saja, tapi gagal.
"Ah! Ibu ingat, Abim pernah bawakan dessert dan kue katanya dari Artika. Tapi Ibu belum sempat ketemu."
Arju menatap dinding di depannya, tapi pikirannya sudah melayang jauh ke tempat lain, ke kafe kecil dengan etalase kaca dan senyuman perempuan yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan. Artika bukan hanya bagian dari mimpi... dia adalah bagian dari kenyataan Abim.
Suara bel tiba-tiba menyeruak, memecah keheningan malam yang hanya diisi suara jangkrik dan detakan jam dinding. Arju sontak tersentak, seolah ditarik kembali ke dunia nyata dari percakapan batin yang belum tuntas. Ia buru-buru menutup telepon dengan Ibu, berdiri dari kursinya dan berjalan cepat keluar kamar.
Langkahnya terhenti sejenak di depan jendela kecil di lorong. Ia mengintip dari sela gorden, dan jantungnya langsung terlempar dari iramanya. Perempuan itu berdiri di depan gerbang, mengenakan sweater tipis dan wajah penuh tanya. Rambutnya yang diikat tinggi tampak sedikit kusut oleh angin malam. Arju membelalak.
Lingkungan ini belum tahu bahwa “Abim” telah kembali dari luar kota. Skenario yang disusunnya bersama Bu RT bisa berantakan hanya karena satu kedatangan tak terduga.
Tanpa pikir panjang, Arju langsung membuka pintu, melangkah cepat ke luar, lalu menarik Artika masuk dengan panik.
"Eh—eh?! Kang?!" seru Artika kaget, tubuhnya tertarik masuk begitu saja tanpa penjelasan.
"Ssstt...!" desis Arju, menariknya masuk dan langsung menutup pintu dengan suara nyaris tanpa bunyi.
Artika yang terbawa langkah cepat itu nyaris kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung sedikit dan berdiri kikuk di tengah ruang tamu yang remang. Wajahnya penuh kebingungan.
Begitu pula dengan Arju yang juga masih terdorong adrenalin, mendadak membeku. Matanya menatap Artika, wajah yang barusan memenuhi pikirannya, kini benar-benar ada di hadapannya, nyata, dekat, dan tanpa aba-aba.
Dan Arju tahu, sejak malam itu, dirinya sedang berdiri terlalu dekat di batas yang tak seharusnya ia langkahi.
“K-Kamu… kenapa, Kang?” Pertanyaan itu terlontar dari Artika dengan memasang wajah bingung sekaligus khawatir.