"S-sorry…" Kata itu meluncur dari bibir Arju begitu saja, pelan dan patah. Ia baru benar-benar sadar, barusan ia menarik Artika masuk seperti penculik. Tangannya masih menggenggam lengan gadis itu, dan saat tersadar, ia buru-buru melepaskannya.
Suasana menjadi sekonyong-konyong hening. Seolah seluruh udara di dalam rumah ikut membeku bersama kecanggungan yang menggantung di antara mereka.
Artika berdiri mematung, matanya memandangi Arju dengan bingung, napasnya masih belum stabil. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, menatap sekitar ruangan, lalu kembali menatap pria di hadapannya.
Mata Arju berkedip cepat, gugup yang ia sembunyikan tak sepenuhnya berhasil.
"A-ah… orang-orang belum pada tahu aku pulang dari rumah Ibu," katanya tergagap, berusaha terdengar sewajar mungkin. "Takutnya kalau tahu… uhmm… mereka bakal jenguk aku. Tanya-tanyain aku..."
Artika menatapnya sesaat, lalu mengangguk mengerti. "Kamu belum siap ditanya-tanya. Itu wajar banget, sih."
Ia mengembuskan napas pelan, matanya diam-diam mengedarkan pandangan ke seisi rumah. Pandangan yang tenang, tapi tajam. Seolah sedang mencoba mengenali kembali sesuatu yang seharusnya sudah akrab—namun ternyata tak sepenuhnya.
Arju menelan ludah. Jantungnya masih berdetak tak menentu.
"Kamu... kenapa ke sini malam-malam?" tanya Arju, mencoba mengalihkan perhatian, suaranya sedikit pelan.
"Ah!" seru Artika seperti baru tersadar. Ia mengangkat kantong belanja yang sedari tadi ia genggam.
"Cindy, dia, kan, jago masak. Tadi masakin aku, terus aku kepikiran kamu. Kamu pasti belum sempat nyiapin makan."
Artika tersenyum tipis saat menyerahkan kantong itu. Dalamnya tampak beberapa wadah makanan dan termos kecil. Tapi Arju hanya menatapnya, lagi, ia juga tidak tau siapa Cindy yang dimaksud. Matanya lekat-lekat menelusuri wajah perempuan itu. Lembut. Tenang. Penuh niat baik.
Dan di kepalanya, suara Ibu masih terngiang:
“Ibu belum memastikan hubungan apa yang sedang Abim dan Artika jalani. Tapi mereka dekat.”
Dekat.
Kata itu terlalu luas. Terlalu tajam. Dan kini, dalam keheningan yang nyaris sakral, Arju merasa ada sesuatu yang dalam di antara mereka. Ketulusan itu terasa nyata. Tapi di balik itu, ada juga kegelisahan. Sebab Arju tau, semua ini... bukan miliknya. Lagi, ketulusan seseorang pun terkadang menipu. Arju harus tau posisinya. Sebab, manusia itu kompleks. Dari seluruh pengalaman kerjanya di bidang forensik, orang terdekat seringkali menjadi yang paling membahayakan.
"Dapur kamu mana? Aku bantu panasin..." ucap Artika, mulai melangkah. Tapi kemudian langkahnya terhenti. Ia menoleh pelan, menyadari sesuatu.
Tatapan pria di depannya bukan seperti biasanya. Bukan seperti Abim yang ia kenal.
"Kang?" panggil Artika pelan, menyadarkan. "O-oh…" Arju tersentak kecil.
"Kamu nggak tau dapurnya?" lanjut Artika dengan nada lembut, tapi jelas menyimpan tanda tanya besar.
Dan dengan tenang, ia menjatuhkan satu kalimat yang menusuk keheningan malam itu:
"Kamu bahkan nggak pernah ajak aku masuk ke rumahmu, Kang."
Arju menelan ludah. Dingin menyusup ke punggungnya. Satu langkah kecil. Satu celah yang terbuka.
Dan penyamarannya mulai beriak dalam keheningan.
^^^
Primasehat Biocare pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Entah karena pendingin ruangan atau karena satu kabar yang menyelusup di antara briefing dan aroma kopi hangat.
Rapat belum benar-benar dimulai ketika Naomi tergesa masuk ke ruangan, wajahnya cemas dan napasnya belum stabil. "Kang Abim... kasusnya ditutup. Disebut kecelakaan tunggal. Di Ciwidey."
Suasana langsung berubah.
Beberapa rekan kerjanya spontan bertukar pandang. Sementara di ujung meja, Pak Hilman, selaaku kepala R&D staf yang sejak tadi membuka catatan rapat, menghentikan gerakan tangannya. Pena hitam yang tadi ia putar perlahan kini diletakkan dengan sangat hati-hati di atas meja. Ia mendongak. Menatap Naomi. Tapi tidak bicara.
Diam dan membisu.
Hanya itu reaksinya. Tapi di balik diam itu, ada sesuatu yang menggantung. Terlalu tenang. Terlalu terkendali.
“Emangnya Kang Abim lagi mau ke mana, sih? Kok sampai blusukan ke Ciwidey?” Baim bingung. Sebab, kejadian itu terjadi di hari kerja dan malam hari.
“Waktu itu, sih, Kang Abim bilang mau nganter sampel kecil ke apotek mitra di daerah Purwasari, katanya mau denger feedback langsung dari apoteker soal rasa produk anak-anak...”
“Emangya itu tugas Kang Abim?” Baim memastikan dengan spontan.
“Kang Abim, kan, perfeksionis!” imbuh Alan bisik-bisik.
Naomi menyadari kekeliruannya membocorkan berita sesensitif itu sebelum rapat benar-benar dimulai.
"Maaf, Pak... saya nggak sengaja bikin gaduh."
Pak Hilman hanya menatapnya sebentar, lalu kembali menunduk ke catatannya. Ia mencoret sesuatu yang tak terlihat oleh siapa pun. Tak ada senyum, tak ada anggukan.
"Kita mulai saja," ucapnya akhirnya nada datarnya begitu stabil, seolah kabar barusan hanya gangguan kecil dari agenda pagi.
Tapi sepanjang rapat, tangannya sesekali mengetuk meja dengan pola yang sama berulang-ulang. Ritme tak sadar itu membuat beberapa orang di dekatnya melirik, terutama Alan, asisten riset baru yang diam-diam mencatat semua perilaku atasan-atasannya untuk penilaian internal.
^^^
Di sudut kafe mungil berwarna pastel itu, Arju terduduk membisu. Jaket hoodie abu gelap yang ia kenakan tampak lembap di bagian bahu, barangkali bekas gerimis tadi. Celana corduroy selutut yang lusuh turut memperlihatkan bahwa ia tak sedang ingin tampil rapi. Pandangannya tertunduk, wajahnya sebagian tertutup bayangan topi yang menunduk tajam ke arah ponsel di genggaman.
Di hadapannya, segelas minuman dingin berdiri tak tersentuh. Embun dari dinding gelas itu mengalir lambat, membentuk jalur acak yang berkilau oleh cahaya lampu gantung. Tapi yang lebih berembun justru d**a Arju.
Alis hitamnya menyatu, menegang. Di layar ponsel, sebuah berita menamparnya diam-diam,
Kecelakaan Tunggal di Ciwidey, Korban Koma dan kasus ditutup.
Helaan napas terhembus keras dari hidungnya. Berat. Tertahan. Kesal. Kemarahan yang selama ini ia kubur makin menguat. Seseorang telah memutarbalikkan kenyataan, dan dunia menelannya mentah-mentah. Ia jadi merasa awas pada seluruh orang yang ada di sekitar Abim, termasuk pemilik kafe ini, di mana Arju datang untuk melihat-lihat lebih jauh kegiatannya.
Tiba-tiba, suara lonceng kecil berdenting lembut dari arah pintu masuk, menandai seseorang baru saja masuk ke dalam kafe. Arju tak bergeming. Kafe itu memang kerap dilintasi pelanggan, jadi ia tak peduli. Tapi detik berikutnya, ada sesuatu yang berbeda. Ia merasakan kehadiran, bukan sekadar orang lewat. Seseorang berdiri tepat di sisinya.
“Kang Abim?”
Suara itu lembut. Ragu. Tapi cukup jelas untuk menusuk masuk ke telinganya.
Arju perlahan menoleh. Perannya sebagai Abim membuat refleksnya harus dikendalikan hati-hati, tapi ia tak siap melihat siapa yang menatapnya.
Seorang perempuan dengan mata yang bersinar seperti fajar. Tak jauh darinya.
Cahaya di balik kerlingan mata Artika membuat kemarahan yang sebelumnya bergelora, tiba-tiba meleleh dalam diam. Tapi sebelum Arju sempat mengolah isi kepalanya, sesuatu membuatnya kembali tegang. Artika tidak sendiri. Di depannya tampak mendorong seorang pria dewasa yang terlihat unik di atas kursi roda.
Namun yang aneh bukan siapa orang itu. Melainkan caranya mendorong. Sikap tubuhnya. Tatapan matanya ke si pria. Lengan yang agak mengatup, bukan seperti petugas medis, bukan pula seperti adik yang sedang merawat kakaknya. Ada kelembutan di sana, tapi juga keganjilan yang membentuk pertanyaan di benak Arju.
“Jadi, siapa Artika sebenarnya?” gumamnya.