Sembari menyesap udara yang dipenuhi aroma mentega dan kopi, Arju tetap berada di posisinya—tersembunyi namun awas. Sudut pandangnya mengarah ke tempat Artika bergerak. Perempuan itu kini mengenakan apron pastel, menyatu dengan suasana kafe yang lembut dan bersih. Ia tampak akrab di balik meja, sesekali menyapa pelanggan, menyusun dessert, lalu bercakap-cakap hangat dengan partner kerja di sebelahnya. Tak ada tanda-tanda kegelisahan dari wajahnya. Semua berjalan seperti biasa.
Namun justru itulah yang mencurigakan.
Baru saja ia membawa seorang pria di kursi roda—yang, bagi Arju, tak mungkin orang sembarangan. Pria itu tampak istimewa. Gerak tubuhnya menunjukkan ciri-ciri yang membuat Arju menebak: autisme. Tapi siapa dia? Dan ke mana dia sekarang?
Artika terlalu menempel pada sosok Abim semasa hidupnya. Jadi, jika ingin mencari pintu masuk ke misteri yang lebih besar, sepertinya Artika adalah awal yang masuk akal.
Namun saat Arju tengah mempertajam pengamatannya, sebuah suara tiba-tiba memotong lamunannya.
“Kang!”
Seorang perempuan berambut pendek dengan langkah percaya diri menghampirinya. Arju refleks mengangkat kepala. Senyum cerah si perempuan menguar dengan gaya yang tak asing. Ia langsung menarik satu kursi dan duduk di hadapannya tanpa basa-basi, membuat Arju yang masih dalam peran sebagai Abim sedikit gugup.
“Ngelamun aja! Katanya abis sakit?”
Arju tercekat sesaat. Tapi ia segera memasang raut heran yang setengah dibuat-buat, setengah asli karena memang bingung.
Perempuan ini… siapa?
Tatapannya menyapu wajah si perempuan, mencari petunjuk. Gesturnya santai, penuh keakraban. Tidak tampak curiga sedikit pun. Bahkan, ia terlihat terlalu nyaman—seolah sudah sering duduk berhadapan seperti ini dengannya. Arju berpikir cepat.
"Apa mungkin... Cindy?" Ia mencoba menerka lewat potongan ingatan yang pernah diceritakan Abim. “Cindy yang pinter masak itu?”
Arju menahan napas sambil tetap menjaga ekspresi netral. Dalam diam, ia menyimak gerak-gerik Cindy, memindai ekspresi, mencari celah. Satu hal pasti, perempuan ini juga mengenal Abim dengan baik. Dan mungkin, tahu sesuatu yang belum terungkap.
“Kamu yang buat sop?” Arju memancing untuk memastikan asumsi.”
“Uhm… sekalian bikin sop karena tau kamu abis sakit,” cerocos perempuan cerewet itu lagi dengan aksen sunda yang khas. “Artika bener-bener kaya orang gila nyariin kamu. Auh… bilang atuh kalau sakit!”
Arju mengerjap. Ucapan itu terlalu dekat. Terlalu personal untuk seseorang yang baru pertama ditemuinya. Sejenak ia merasa terdesak. Jantungnya memukul lebih cepat, dan sebelum sempat menyaring reaksi, ia menjawab agak cepat dan terdengar ketus,
“I don’t owe anyone an update just ‘cause I’m sick.” Nada suaranya dingin. Singkat. Dan terlalu tajam untuk percakapan santai seperti ini.
Perempuan itu terdiam sejenak. Seperti baru saja ditampar oleh seseorang yang biasanya tak pernah berbahasa inggris, apalagi nadanya terdengar ketus, begitu juga dengan kalimatnya yang seolah. Matanya berkedip pelan, ekspresinya tersentak, tapi mencoba menyembunyikannya di balik senyum tipis yang mulai menurun.
“Gaya bener pakai Bahasa inggris,” kekeh perempuan berambut pendek itu pelan yang seketika membuat mata Abim palsu itu sempat melebar, terkejut dengan responnya sendiri. “Eh… nya eta…,” gumamnya pelan, “...kirain kang Abim tuh paling care sama orang-orang di sekelilingnya.”
Arju buru-buru mengatur ulang ekspresinya. Terlambat. Tapi ia menarik napas, sedikit menunduk, lalu berkata lebih pelan, “Sorry, lagi enggak enak badan aja.”
Cindy tersenyum lagi, tapi kali ini ada jeda yang canggung. Ia menggigit bibirnya sebentar, lalu bersandar di kursi.
“Lain masalah sop, Kang... tapi Artika tuh kemarin nangis di dapur. Sampai marah-marahin kita semua karena enggak ada yang bisa kasih kabar kamu ke dia.” Suaranya melembut. “Dia tuh kaya… bukan cuma panik. Tapi takut banget.”
Kalimat itu menancap diam-diam di d**a Arju. Ia menunduk, berpura-pura menyeka embun di gelas, padahal pikirannya sudah melayang ke satu nama, Artika.
Dan satu pertanyaan yang mulai mengeras di kepalanya, apa yang sebenarnya ditakuti Artika… saat tahu Abim menghilang?
Arju kembali menatap gelas di depannya, seolah mencari jawaban di antara tetes embun yang mulai turun ke alas kayu. Ucapan Cindy tadi terus menggema di telinganya. Tentang sop, tentang tangisan, tentang panik yang tampak tulus.
Tapi benarkah itu tulus?
Sebuah keraguan mulai muncul lagi, keras kepala seperti bias suara di dalam gua yang tak henti menggema. Apa mungkin Artika benar-benar tak tahu apa-apa? Apa mungkin dia cuma korban keadaan? Atau… justru dialah yang menyembunyikan sesuatu?
Arju menggertakkan gigi pelan. Ia sudah sempat merasa Artika terlalu bersih. Terlalu lembut. Terlalu peduli. Tapi bukankah justru yang seperti itu yang paling membahayakan? Orang-orang yang paling murni, kadang yang paling lihai menyamarkan peran.
Ia mengingat prinsipnya sendiri. Jangan percaya siapa pun. Semua harus dicurigai. Hingga kini, itu prinsip yang menyelamatkannya berkali-kali.
Tapi Artika…
Perempuan itu meracik dessert dengan cara yang rapi. Tersenyum dengan tulus. Menangis saat kehilangan. Peduli pada Abim.
Apa dia layak dicoret dari daftar nama target? Pertanyaan itu terpantul-pantul di batok kepala Arju, tanpa jawaban yang pasti.
Ia menoleh sedikit, melirik Artika yang sedang mengobrol sambil menuangkan saus karamel di atas potongan puding s**u. Sekilas, tak ada yang mencurigakan. Tapi justru itu yang membuat Arju semakin gelisah.
Ia menggenggam ponselnya lebih erat.
Jangan percaya siapa pun—Namun, untuk pertama kalinya, ia bimbang terhadap prinsip yang ia anggap mutlak.
“Mau langsung pergi?” tanya Cindy kaget ketika pria itu tiba-tiba bangkit dari kursi.
Arju yang masih dalam peran sebagai Abim hanya menyambar tasnya dan menjawab santai, penuh percaya diri, “I’m a busy man.”
Langkahnya mantap, sikapnya dingin. Tapi Cindy mendongak dengan dahi mengernyit, menatapnya seolah ada yang aneh. Bukan curiga, tapi… aneh.
Abim biasanya tidak begini.
“Nggak pamitan sama Tika?” seru Cindy, kalimatnya seakan jadi rem mendadak di langkah Arju.
Tubuh pria itu berhenti. Bahunya menegang. Kemudian, perlahan ia menoleh secara refleks, bukan rencana. Pandangannya langsung bertemu dengan Artika yang ternyata juga sedang memandang dari balik meja bar.
Mereka saling menatap. Tak satu kata pun keluar, tapi masing-masing tengah menafsirkan makna dari tatapan itu. Artika dengan tatapan hangat dan penuh tanda tanya. Arju dengan wajah yang dingin dan nyaris tak berkedip, menyembunyikan badai di balik mata yang tenang.
Sesaat, waktu seolah melambat. Kemudian, Arju menyunggingkan senyum, senyum berat yang terasa seperti beban di pipinya. Dalam hati, ia ingin berteriak, peran ini melelahkan. Berpura-pura menjadi orang lain itu menyakitkan.
Tapi senyum itu tetap mengembang pada waktunya. “Aku pergi dulu.” katanya ringan.
Artika membalas dengan senyum manis yang tidak dibuat-buat. “Enggak mau makan siang dulu? Kamu kan belum kerja.”
Arju nyaris menghela napas panjang, tapi hanya mengedip sebentar sambil berkata dalam hati, “Bawel banget sih, nih orang.” Namun wajahnya tetap lembut, penuh kasih. “Nanti, ya, sayang. Ada yang harus aku kerjain.”
Untungnya, Artika tidak memaksa. Ia hanya mengangguk kecil dan berkata pelan, “Nanti telepon, ya. Kabari aku… atau angkat teleponku.”
Arju tidak menjawab. Hanya senyum sekilas, lalu ia berbalik dan melenggang pergi. Meninggalkan aroma kopi yang mulai dingin, dan segumpal tanda tanya serta kekhawatiran yang membeku di d**a Artika.