Malam di Ciwidey menurunkan suhunya perlahan, membalut jalan berkelok dengan hawa dingin yang menggigit. Di sisi sebuah tanjakan yang lengang, sebuah SUV terparkir diam, lampunya sudah lama dipadamkan. Di sampingnya, berdiri Arju yang sedang membisu dalam gelap.
Jaket jins membalut tubuhnya, tak sepenuhnya mampu menahan dingin yang menusuk. Rambutnya acak, sebagian tersapu angin pegunungan yang mengalir sunyi. Rokok terselip di jari, asapnya mengepul naik, larut bersama udara tipis malam, seolah ikut mengembuskan keresahan yang mengendap di dadanya.
Tak ada suara selain bisikan angin yang lewat di antara pepohonan. Kadang, satu dua kendaraan melintas, tapi cepat sekali lenyap kembali dalam kelokan sunyi.
Di bawah tebing itu, terlihat garis polisi membentang, menyala tipis dalam gelap. Warna kuning terang yang mencolok di antara semak dan tanah bebatuan yang rawan longsor. Jurang itu tidak terlalu curam tapi cukup untuk menghancurkan tubuh dan kesadaran seseorang jika jatuh dengan kecepatan tinggi.
Arju memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana. Satu tangannya yang lain tetap menyesap rokok. Matanya tertuju lurus ke bawah, ke arah kegelapan yang tak memperlihatkan jejak apa pun, tapi menyimpan terlalu banyak pertanyaan.
Arju menghela napas panjang. Dingin, rokok, dan sunyi menyatu dalam satu malam yang membebani. Tapi ia belum selesai. Ia masih ingin turun ke sana, melihat sendiri reruntuhannya.
Karena bagi Arju, tak ada kebenaran yang bisa dipercaya tanpa disaksikan dengan mata kepala sendiri.
Pria tampan berdarah campuran pemilik kaki jenjang itu lantas mematikan rokoknya, menghentakkannya pelan ke tanah hingga bara terakhir padam di balik sepatunya. Lalu, tanpa ragu, ia melangkah menuruni lereng kecil di tepi jurang. Kakinya mantap menyusuri jalur setapak yang dipenuhi batu kecil dan semak, menunduk melewati garis polisi yang melintang kuning menyala di bawah cahaya temaram malam.
Ia turun perlahan tapi pasti. Sepi masih melingkupi. Hanya suara langkahnya sendiri yang beradu dengan tanah, dan desir angin yang membelai daun-daun di atas kepala.
Sampai akhirnya, ia tiba di bawah. Di titik jatuhnya mobil atau setidaknya, tempat yang disebut-sebut sebagai titik akhir kecelakaan.
Arju berdiri diam sejenak. Matanya menyapu sekitar.
Ia mulai berjalan memutar, memeriksa tanah, bekas gesekan, tanda-tanda benturan. Beberapa titik ia potret dengan ponsel. Batu yang terlalu utuh, semak yang tak tampak terinjak, patahan yang tak sepadan dengan kecelakaan fatal.
“Wah, bukannya ini terlalu bersih buat kecelakaan hebat?” gumamnya pelan, setengah mencibir.
Ia jongkok, menyentuh bagian tanah yang semestinya menjadi area terparah dari benturan. Tapi teksturnya kering. Tak ada serpihan pecahan yang seharusnya berserakan. Tak ada goresan mendalam yang menunjukkan mobil terbanting keras atau terguling.
Memang, Arju tahu bahwa kecelakaan kecil pun bisa mematikan, terutama jika tubuh korban mengenai titik-titik vital. Luka dalam bisa membunuh dalam hitungan menit, tanpa luka luar yang mencolok.
Tapi ini… Terlalu sunyi. Terlalu rapi.
Jarak antara patahan pohon, bekas ban, dan titik jatuh seperti tak menyatu dalam logika kecepatan dan arah. Seolah… disusun. Atau lebih buruk, diatur ulang.
Arju tiba-tiba terkekeh. Suara tawanya pecah begitu saja, kasar dan tak terkendali, menggema di antara pepohonan yang berdiri bisu. Seperti orang gila yang mendadak menemukan lelucon di tengah reruntuhan tragedi.
Hingga akhirnya ia terduduk. Bokongnya menghantam tanah yang dingin, lutut tertekuk, bahu terguncang oleh tawa yang terasa tak wajar, sebuah campuran getir, marah, dan muak.
“P3mbunuh amatir!” Serunya sambil terpingkal pendek lagi, napas tercekat. “Mereka harus belajar banyak sama mafia.”
Tawa itu perlahan mereda. Berganti hening yang lebih berat daripada sebelumnya.
Ia menunduk. Tangannya mencengkeram tanah. Kepalanya sedikit mengangguk, seperti seseorang yang akhirnya menyimpulkan sesuatu yang tak ingin ia akui.
Sebagai anggota tim forensik yang puluhan kali menangani jenazah dengan luka, dengan api, dengan air, dengan cara paling keji, Arju tahu, terlalu banyak hal yang tak konsisten di tempat ini. Ini bukan kecelakaan. Bukan musibah. Ini panggung. Dan seseorang telah menuliskan naskah kematian untuk saudara kembarnya.
Sialnya, itu bukan naskah yang ditulis dengan rapi. Bahkan ketika naskah ditulis dengan rapi pun, akan terendus juga. Ia menghela napas. Asap rokok yang tadi menghilang kini terganti oleh uap dingin dari bibirnya. Tatapannya kembali mengarah ke atas, ke jalan tempat ia tadi berdiri.
“Gue harus masuk ke dunia kerja Abim. Pasti ada salah satu dari orang perusahaan,” tekadnya penuh penekanan.
^^^
“Apa? Kamu mimpi buruk soal Kang Abim?” Cindy terbelalak, suaranya terdengar jelas di ruang kafe yang mulai sepi. Pintu sudah terkunci, aroma vanila dan kayu manis masih menggantung tipis di udara. Ia segera duduk di depan bar, tepat saat Artika sedang membersihkannya dengan gerakan lambat dan berulang. “Kapan? Apa Kang Abim pernah ngalamin sesuatu sebelumnya?”
Artika menghentikan aktivitasnya. Tangannya yang memegang lap mengeras, lalu ia meletakkannya pelan di atas meja. Hening sejenak, sebelum ia menggeleng pelan.
“Aku mimpi itu udah lebih dari dua pekan lalu. Dan waktu itu Kang Abim sempat ngilang... ternyata pulang ke rumah ibunya.” Ia mengembuskan napas, cukup berat hingga terlihat uapnya mengambang di udara malam yang makin dingin. Embun kecil keluar dari bibirnya, pertanda pikirannya tak tenang. “Apa mungkin mimpi itu pertanda kalau dia sakit? Kadang aku mikir begitu. Tapi… aku juga nggak ngerti kenapa aku masih gelisah… padahal sekarang bisa lihat dia.”
Cindy menyandarkan dagu ke tangannya, memperhatikan dengan serius. “Atau bisa jadi… mimpi itu belum kejadian?” ucapnya pelan, tapi mengunci perhatian Artika. “Mungkin itu kenapa kamu masih gelisah.”
Artika terdiam. Senyum tipis yang muncul bukan karena lega, melainkan getir. Tak ingin membenarkan, tapi juga tak bisa menyangkal. “Aku bahkan nggak mau menerka-nerka... meski itu masuk akal,” ujarnya lirih. Tatapannya jatuh ke arah meja, bibir bawahnya dibasahi lidahnya tanpa sadar—kebiasaan saat pikirannya tertarik terlalu dalam.
“Hei!” Seruan Cindy membuatnya menoleh cepat. “Aku nggak bermaksud bikin panik. Tapi kamu inget nggak dulu kamu mimpiin Kak Surya ngamuk-ngamuk di pinggir jalan?”
Artika terdiam, matanya membesar sedikit mendengar kalimat tersebut, seolah tau arahnya. Cindy melanjutkan cepat, “Dan itu kejadian! Kak Surya beneran ngamuk sampe hampir digebukin orang. Untung kamu datang karena mimpi itu. Kamu sendiri yang cerita!”
Wajah Artika mencelang. Cahaya lampu gantung yang redup seakan menyorot matanya yang kini tak bisa menyembunyikan ketakutan yang tumbuh. Tangannya mencengkeram sisi bar pelan, seolah mencoba menahan kegelisahan yang merambat dari dalam ke luar.
“J-jadi… mimpi tentang Kang Abim itu… belum kejadian?” Pertanyaan itu meluncur pelan, tapi tajam. Mengiris logikanya sendiri yang sudah sejak tadi berusaha menolak. Dan malam terasa lebih dingin dari sebelumnya.