Pagi masih terlalu dini saat Arju tiba di pelataran Polres. Udara dingin masih menggantung di antara bayang kabut tipis dan jalanan yang nyaris tak bersuara. Langkahnya pelan, tersembunyi di balik kerah jaket dan topi yang sengaja diturunkan rendah menutupi wajah. Ia tidak ingin dikenali. Belum sekarang.
Dari kejauhan, ia bisa melihat mobil milik Abim masih terpajang sebagai barang bukti. Benda itu berdiri diam, seperti saksi bisu dari sebuah kejadian yang terlalu rapi untuk disebut kecelakaan. Arju menghentikan langkah, menyalakan sebatang rokok, lalu menatap kendaraan itu dari balik asap yang perlahan menari ke langit pagi. Rahangnya mengeras.
Mobil itu tidak ringsek. Masih utuh, kecuali beberapa penyok di bagian samping dan belakang. Arju menyeringai miris. Semakin dilihat, semakin tak masuk akal. Jika benar ini kecelakaan fatal, kenapa mobil itu tak tampak seperti baru menabrak maut?
Kemudian Arju terkekeh. “Mereka dibayar berapa untuk ini? Disguisting!”
“Jam segini aja pada belum berangkat.” Arju menenggerkan kedua tangan ke dalam saku celana setelah membuang putung rokok.
Ia mendekat perlahan secara diam-diam sambil mengawasi sekitar. Setiap geraknya terukur, seperti seseorang yang tau betul di mana titik buta kamera dan kapan harus menunduk atau menghindar. Ia sempat mengamati letak CCTV yang terpasang di sekitar pos penjagaan, lalu mengambil rute memutar agar bisa mendekat tanpa terdeteksi.
Sekilas, Arju tampak tenang. Tapi dalam hatinya, badai sedang mengamuk. Ia bukan orang sembarangan. Ia pernah hidup di antara dunia medis dan hukum, dan kali ini, keahlian itu kembali membawanya pada kenyataan pahit bahwa saudara kembarnya sedang jadi korban permainan busuk.
Dengan cekatan, Arju mengeluarkan ponsel, mengarahkan kamera ke berbagai sudut mobil, merekam setiap detil. Penyok yang tak seberapa, bekas gesekan yang terlalu rapi, dan bagian bawah mobil yang masih bersih. Ia tahu, waktu tak banyak. Begitu cukup, ia segera berbalik, menyusuri jalan semula dengan langkah cepat, tapi tetap tanpa suara.
Tak seorang pun tahu bahwa pagi itu, seseorang telah datang diam-diam untuk mencari kebenaran.
^^^
“Kamu beli mobil baru?”
"Sh!t! You scared the hell outta me!"
Suara itu membuat Arju sontak memutar badan. Jantungnya nyaris menggelinding dari tempatnya. Ia mengumpat pelan, spontan, saat mendapati Artika berdiri hanya beberapa meter darinya, di tengah hawa pagi yang masih dingin. Tubuhnya menegang. Ia belum siap.
Artika pun ikut terkejut melihat reaksi Arju yang defensif. Dahinya mengerut, bingung. “Kenapa?” tanyanya pelan.
“Apanya yang kenap...” Arju buru-buru menyergah, menghentikan diri sendiri. Ia sadar satu hal: ini bukan waktunya menunjukkan jati diri yang sesungguhnya. Tarik napas. Tahan. Ia mencoba meredam gejolaknya.
“K-kamu ke sini pagi banget, sih. Aku jadi kaget,” lanjutnya dengan nada lebih tenang, walau suaranya masih terdengar ganjil di telinganya sendiri.
“Ah…” Artika membalas pelan, tak tahu harus mengiyakan atau menyangkal. Banyak hal terasa asing pagi ini. Mobil. Sikap Arju. Dingin yang tiba-tiba lebih menusuk.
“Aku ke sini mau ajak kamu sarapan,” ajak Artika. “Katanya kamu mulai kerja besok. Aku pikir… kita bakal makin jarang ada waktu bareng. Soalnya… kamu belum telepon aku.”
Kata-katanya mengambang di udara seperti embun yang tak sempat mengendap. Arju diam. Matanya menatap perempuan itu lama, perempuan yang begitu ayu dan teduh, namun kini membuatnya semakin goyah. Setiap kata dari Artika bagai mantra yang tak ia minta, tapi masuk dan mengaduk hati yang selama ini ia tahan.
Ia menelan ludah, tak mampu menyembunyikan sorot lirih di matanya. Di satu sisi, Arju ingin terus menjauh. Menjaga jarak. Melindungi diri dan dirinya. Tapi di sisi lain, kehadiran Artika selalu punya cara untuk meluluhkan dinding yang ia bangun.
Pasalnya, Arju sengaja tidak menghubungi Artika karena sadar bahwa pertama, ia harus jaga jarak dengan siapapun, termasuk perempuan itu. Kedua, Arju sudah mulai goyah akan perasaannya. Entah karena selama ini terlalu sibuk bekerja sehingga ia tidak punya waktu untuk menjalin hubungan romantis atau apa. Jadi, menjauh agaknya lebih mungkin.
Arju masih berdiri di sisi mobilnya, tangan kirinya memegang pintu yang baru saja ditutup, sementara tangan kanan menyelip ke saku jaketnya, berusaha terlihat santai. Tapi rahangnya menegang. Matanya menatap Artika dengan campuran rasa bersalah dan ketidakpastian. Udara pagi yang dingin mengaburkan napas mereka.
Artika mendekat satu-dua langkah, lalu berhenti. Jarak mereka hanya sekitar dua meter. Ia menggenggam tali tas selempangnya erat-erat, seolah itu bisa menahan gejolak di dadanya.
“Aku tahu kamu sibuk,” lanjutnya pelan. “Tapi aku juga bukan orang asing, Kang.”
Arju menunduk, satu senyum getir terbit di bibirnya. Ia mengangguk pelan, tapi masih tak bicara. Lalu ia mengambil rokok dari saku jaket, menyalakannya cepat, seperti mekanisme pertahanan. Tarikan napasnya dalam. Asap membumbung di antara mereka.
“Maaf,” ucapnya akhirnya, suaranya berat dan dalam. “Karena habis sakit, ada banyak kerjaan yang harus aku kerjain.”
Artika hanya menatapnya. Pandangan itu tak menghakimi, tapi juga tidak bisa dibilang biasa. Ada luka kecil yang sembunyi di balik sorot mata itu. Ia melipat kedua lengannya, memeluk diri sendiri dari dingin dan dari perasaan yang tak dipahami.
“Aku nggak nuntut penjelasan,” katanya. “Cuma… jangan tiba-tiba berubah kayak orang asing gini.”
Diam. Yang terdengar hanya suara jauh kendaraan pagi dan daun yang berguguran dari pohon di ujung jalan. Arju mendongak, menatap langit sesaat sebelum kembali pada wajah Artika.
“Kamu bener. Aku berubah,” ujar Arju mengejutkan Artika. Satu detik. Dua detik. “Tapi bukan karena kamu. Justru karena kamu... aku jadi pengen lebih fokus.”
Artika mengerjap, tak siap mendengar itu. “Maksudmu?”
Arju tersenyum kecil, senyum yang nyaris seperti minta maaf, lalu berjalan mendekat, memperkecil jarak hingga hanya satu langkah di antara mereka. “Aku nggak mau kamu terlalu mengorbankan banyak hal untuk aku.”
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya. Tapi juga membuat sesuatu bergetar di d**a Artika. Dengan suara pelan, ia menjawab, “Kita saling mengorbankan, kan?”
Mereka saling menatap. Kemudian Artika menunjukkan jari manisnya yang membuat Arju terhentak. Cincin itu…? Abim, kembarannya… rupanya sudah melamar perempuan itu. Mengikatnya dengan erat. Untuk pertama kalinya pagi itu, Arju kehilangan kata-kata. Dan Artika, dengan keberanian yang entah datang dari mana, mendekat dan meletakkan tangannya di d**a Arju.
“Aku nggak minta pengorbanan lebih. Aku cuma minta kamu untuk selalu libatkan aku,” sambung Artika menyimpan makna mendalam.
Arju merespons dengan menutup mata sebentar. Lalu, tangannya pelan-pelan menyentuh tangan Artika yang menempel di dadanya. Hangat. Nyata. Mungkin untuk pertama kali, ia sadar bahwa kedekatan ini bukan kelemahan. Tapi mungkin, justru satu-satunya yang masih membuatnya manusia.