Malaikat Pelindung

1375 Kata
Beberapa waktu belakangan ini, Artika diliputi kebimbangan yang begitu dalam. Mimpi-mimpi tentang Abim terus menghantui malam-malamnya, mimpi yang terasa terlalu nyata untuk diabaikan, terlalu menakutkan untuk dianggap bunga tidur belaka. Ia mencoba menepisnya, mencoba meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja, bahwa Abim yang ia temui beberapa hari lalu dengan senyumnya, dengan sorot matanya adalah benar-benar Abim yang ia kenal. Tapi... kenapa ada yang terasa begitu berbeda? Ironisnya, justru perasaan janggal itulah yang membuat keinginannya untuk melindungi Abim semakin kuat. Seolah, ada sesuatu yang belum terjadi... tapi sedang menuju ke arahnya. Di kamar remang itu, ia duduk termenung di atas kursi kerja, membiarkan matanya terpaku pada sebuah bingkai foto di meja. Fotonya bersama Abim. Senyum mereka begitu tulus, begitu dekat, begitu hangat. Rindu menyeruak, meski pertemuan terakhir baru terjadi beberapa hari lalu. Hatinya seolah tau bahwa sosok yang ia temui itu bukanlah sepenuhnya Abim yang ia kenal. Tapi ia menolak untuk mengakuinya. Bukan tanpa alasan, tentu saja karena Abim dalam masa pemulihan. Atau ada banyak hal yang justru Abim tutupi darinya. Artika mencoba memahami itu. Mendadak, lamunannya buyar ketika suara keras memecah keheningan malam. Suara benda pecah yang bergema dari luar kamar membuat jantungnya mencelus. Tanpa pikir panjang, ia bangkit dan berlari. Matanya langsung melebar melihat pemandangan di depannya. Kak Surya, kakaknya yang mengidap autisme, sedang tantrum hebat. Gelas dan piring berserakan, dilempar ke dinding, ke lantai, seperti meluapkan sesuatu yang tak mampu ia ucapkan. “Kak Surya!” serunya panik. Tanpa ragu, Artika langsung memeluk kakaknya dari belakang. Memeluk erat, seerat yang ia bisa. “Kak! Jangan lempar-lempar kaya gini! Kakak mau apa?!” teriaknya, suaranya pecah di antara kepanikan dan kasih sayang yang meluap. Tapi tubuh kakaknya begitu kuat dalam gejolak itu. Artika terpental, terjatuh ke lantai. “A-akh!” Ia mengerang. Sebuah pecahan kaca melukai tangannya. Sakitnya menusuk, tapi yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa ia tak bisa menghentikan ini semua lebih awal. Surya menoleh. Wajahnya linglung, tapi matanya menyorotkan sesuatu kesadaran. Seperti alarm yang hanya berbunyi ketika adiknya terluka. Perlahan, Surya mendekat. Langkahnya kikuk, seperti anak kecil yang baru belajar memahami dunia. Ia melihat darah, melihat air mata di wajah adiknya. “Sakit, Kak! Sakit!” isak Artika, tubuhnya gemetar. Surya berusaha menggapai tangan adiknya, tapi Artika menepisnya. “Aku sakit kalau kakak ngamuk! Aku harus apa biar kakak nggak ngamuk? Hah?! Aku capek, Kak! Aku takut!” Air mata itu jatuh tak terbendung. Bukan karena luka di tangan, tapi karena luka di hati yang tak pernah sempat sembuh. Surya terduduk. “M-maaf...” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Ia mulai memukul-mukul kepalanya, seperti sedang menghukum dirinya sendiri atas sesuatu yang tak mampu ia pahami. “Aku harus jaga adik... jaga adik...” ia mengulang-ulang, suara yang mengandung penyesalan, bercampur rasa bingung dari dalam dirinya yang tak sepenuhnya utuh. Artika berhenti. Ia menahan kedua tangan kakaknya, menatapnya dengan air mata yang masih menetes. “Kakak mau jaga aku?” bisiknya. Surya mengangguk. Matanya masih tak fokus, tapi ia mengangguk. Dan saat itu juga, perih di hati Artika semakin menjadi. Ia teringat pada mimpinya, saat sang kakak menjadi bulan-bulanan orang tak dikenal, dipukuli tanpa ampun. Saat itu, ia hanya bisa menjerit dalam mimpi. Tapi saat mimpi itu mendekati kenyataan, nalurinya bergerak lebih cepat. Ia melindungi Surya. Ia menyelamatkannya. Dan kini, ia semakin percaya... mimpi bukan sekadar mimpi. Pelukannya kembali melingkupi tubuh kakaknya, kali ini lebih hangat, lebih dalam. Rasa sakit di tangannya sudah tak terasa. Yang terasa hanya kelegaan dan cinta yang nyaris putus karena kelelahan. Di dalam pelukan itu, Artika pun sadar akan satu hal: Jika ia bisa melindungi Kak Surya karena pertanda dari mimpi, kenapa tidak dengan Abim? Mimpi tentang Abim sudah tampak, tapi entah kapan itu akan menjadi nyata. Ia tahu waktunya belum tiba, tapi akan datang. Dan ketika saat itu datang, ia harus siap. “Aku juga harus lindungi Kang Abim kaya gini...” gumamnya dalam hati, dengan tekad yang mulai menguat di dalam d**a. ^^^ Wajah Arju tampak menegang saat sendok pertamanya menyentuh nasi tutug oncom yang mengepul di hadapannya. Aroma khas oncom yang bagi banyak orang menggoda, justru membuat perutnya seolah berontak. Ia menelan ludah, mencoba tetap tenang, lalu mencolek sedikit nasi dengan lauk serundeng dan tahu goreng di sampingnya. Tapi begitu suapan pertama mendarat di lidahnya, ekspresinya berubah tak karuan. Alis menyempit, rahang menegang, lalu mendadak ia menjauhkan piring pelan-pelan seperti hendak mundur dari pertempuran. Asing. Hambar. Tidak cocok. “Kenapa?” tanya Artika cepat-cepat, nada suaranya panik, merasa ada yang salah. “Gak enak,” sahut Arju, tanpa filter. Refleks. Suaranya berat dan jujur, penuh rasa tak tahan. Seolah semua rasa enek yang menumpuk di lidah tumpah jadi dua kata itu saja. Artika membelalak. “Kamu suka ini, loh, Kang!” Seketika tubuh Arju menegang. Petir seperti menyambar dari dalam dirinya. Ia lupa. Ia lupa bahwa saat ini, dirinya bukan Arju. Ia adalah Abim. Pria yang menurut Artika justru sering mengajaknya sarapan di tempat ini. Bahkan nasi tutug oncom ini adalah menu favoritnya. “Kamu bahkan yang suka ngajak aku sarapan di sini,” lanjut Artika, matanya memicing curiga. Arju mematung. Napasnya tercekat. Ia tak tahu harus memutar balik ucapannya bagaimana. Sambil menghindari tatapan Artika, ia buru-buru meraih gelas teh panas dan menyesapnya dalam-dalam, seolah teh itu bisa menetralisir situasi seabsurd ini. Sunyi sepersekian detik. “Haha!” tawa Artika meletus tiba-tiba, memecah udara pagi. Arju terkesiap. “Apa?” gumamnya pelan, masih kikuk. “Lucu aja. Kamu kayak orang baru bangun dari mimpi,” kata Artika sambil menyentuh sendoknya, lalu mengaduk-aduk nasinya. “Mungkin karena udah lama gak ke sini kali ya, jadi bingung.” Arju ikut terkekeh kecil, kaku, terpaksa. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sambil mengangguk-angguk kosong. Lidahnya kelu, dan dadanya penuh debur yang sulit dijelaskan. “Kayak kamu pergi ke Amerika aja,” celetuk Artika, “padahal cuma balik ke rumah ibumu!” Sekilas terdengar sebagai kelakar biasa, tapi dunia Arju seketika membeku. Amerika? Kenapa celetukan itu terdengar tepat sekali? Matanya melebar, jantungnya berpacu, dan tak ada yang bisa ia sembunyikan di wajahnya yang pucat tegang. Ia menatap Artika dalam-dalam, tapi perempuan itu tak menyadari gejolaknya. Masih tertawa ringan. Masih jadi dirinya yang hangat dan jujur. Sementara Arju, sedang tenggelam dalam kegugupan yang tak bisa ia ceritakan kepada siapa pun. “Kang…,” panggil Artika lembut. Nada suaranya lirih, tapi cukup untuk menarik perhatian Arju dari pusaran pikirannya yang rumit. Mata Artika berbinar, bening dan tulus seperti langit pagi yang belum tersentuh mendung. “Katamu kamu berubah.” Arju terpaku. Kalimat itu menghantamnya seperti bisikan dari dunia lain—terlalu tepat, terlalu jujur. Ia hanya menaikkan satu alis, menanti dengan jantung yang makin berdebar. Diam-diam, ia takut kalimat berikutnya akan menyingkap sesuatu yang tak siap ia dengar. “Tapi aku suka kamu kayak gini.” Kepala Arju sedikit miring, alisnya bertaut samar. Sebuah senyum tipis tergaris di bibirnya, nyaris seperti refleks. “Kayak gini?” Artika mengangguk pelan. Lalu, perlahan, jemarinya menyentuh tangan Arju yang kokoh di atas meja makan. Sentuhan itu begitu ringan, tapi cukup membuat napas Arju tercekat. Ada kehangatan yang menjalar cepat dari ujung kulit ke dalam dadanya, lembut, nyata, dan mengganggu. “Aku suka kalau kamu lebih ekspresif kayak gini. Tandanya, kita bisa saling berbagi, walaupun mungkin ada sesuatu yang masih belum kamu kasih tahu ke aku.” Tatapan Artika begitu jernih. Tidak menuntut. Tidak menekan. Hanya menawarkan ruang. “Aku gak maksa,” lanjutnya. “Aku akan selalu membuka diri buat kamu.” Saat itu juga, d**a Arju terasa sesak oleh perasaan yang saling bertubrukan. Ia tak siap. Tidak untuk ini. Panas menyeruak ke wajahnya, bukan karena malu, tapi karena tersentuh dan itu membuatnya makin bingung. Ia adalah Arju. Tapi kini sedang memerankan Abim. Seharusnya ia menjaga jarak, bermain aman, tidak terlalu tenggelam. Namun yang Artika katakan… terasa seperti pelampung di tengah laut yang selama ini ia coba berenangi sendiri. Arju menunduk sedikit. Bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu, tapi karena tak tahu bagaimana caranya menatap perempuan di hadapannya tanpa terlihat rapuh. Ia ingin menjawab. Tapi tak ada kata yang cukup aman untuk diucapkan tanpa merusak semua ini. Dalam diam, Arju justru makin baper. Dalam kebingungannya, ia justru makin ingin jujur. Dan dalam keheranannya, ia bertanya pada diri sendiri, kenapa ia baru sadar sekarang kalau seseorang bisa menyentuh hatimu bukan dengan paksaan… tapi dengan keyakinan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN