Menuju Kandang Singa

1123 Kata
Di dalam kamar yang remang dan sunyi, hanya terdengar dengung halus dari angin di luar yang menyelinap di antara celah jendela yang belum tertutup sempurna pada malam pekat itu. Lampu meja menyinari sebagian kecil ruangan, memantulkan cahaya kekuningan pada papan tulis besar yang berdiri kokoh di dinding. Papan itu penuh dengan foto-foto, coretan, dan benang-benang merah yang saling bersilangan, menyerupai labirin rumit dari penyelidikan pribadi Arju. Di tengah semua itu, berdirilah Arju. Tubuhnya masih berbalut jaket gelap yang basah oleh embun malam, napasnya belum sepenuhnya teratur setelah perjalanan pulang yang panjang. Matanya nanar menatap ke satu titik di papan, yakni foto Artika. Potret itu sederhana. Artika sedang tersenyum. Senyum yang manis, hangat, dan bagi Arju cukup membingungkan. Sudah berhari-hari ia hidup di tengah kabut identitas yang ia pinjam dari kembarannya, Abim. Hari-hari yang dipenuhi kecanggungan, bisikan curiga, dan kepingan informasi yang terlalu retak untuk dirangkai sempurna. Dalam semua itu, nama Artika tetap muncul, perlahan tapi terus mendesak. Ia mencoba menyelidikinya diam-diam, dari kebiasaannya yang teratur hingga kata-kata yang keluar begitu tulus. Ia menimbang-nimbang, menganalisis, membedah kemungkinan. Drrt… Drrtt… Ponsel di saku celana Arju bergetar lirih, memutus lamunannya di kamar yang remang. Ia segera merogohnya dan menatap layar. Kontak: NN. Seketika, sorot matanya berubah siaga. "Halo? Gimana, Bro?" suaranya terdengar ringan, tapi ketegangannya tak bisa disembunyikan dari raut wajah. Ia mendengarkan dengan saksama, tak bersuara, hanya matanya yang makin menyipit, dan kening yang perlahan mengerut. Wajahnya menegang. Jemarinya mencengkeram ponsel lebih erat. Tak ada satu kata pun keluar ketika sambungan telepon terputus. Ia menurunkannya perlahan, seolah kalimat barusan masih bergaung dalam benaknya. Langkahnya tertahan. Arju menatap lantai seperti tengah membongkar ulang semua data di kepalanya. Lalu, ia mengangkat kepala dengan gerakan tegap, menatap papan bukti di depannya dengan pandangan baru. Suara dari seberang telepon tadi berputar ulang di kepalanya. "Artika Mauly namanya. Dia tunangan Abim. Belum ada acara resmi, tapi mereka udah beneran terikat satu sama lain. Tapi kayaknya dia perempuan baik-baik. Dia pernah kecelakaan dan gegar otak, beberapa waktu sebelum resign dari Primasehat Biocare." Arju menghela napas berat. Sorot matanya tidak lagi penuh kecurigaan. Kini, lebih mirip seperti seseorang yang mencoba menyusun teka-teki yang potongannya saling menolak. Dan di tengah semua kekusutan itu, satu senyum miring tersungging di wajahnya. Tipis, ambigu. "Apa mungkin... Artika juga korban?” “Dia juga pernah kerja di perusahaan yang sama?" lanjutnya kali ini agak tercengang. Pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan. Itu seperti pintu yang baru saja terbuka, mengarahkan penyelidikan Arju ke arah yang sama sekali berbeda. Lebih dalam. Lebih gelap. Tapi pada akhirnya… Perasaan manusia kadang lebih jujur dari logika. Senyum Artika yang terpatri dalam foto itu bukan sekadar senyum. Ada cahaya, ada ketulusan, ada sesuatu yang membuat Arju yang terbiasa dingin dan tak percaya siapa pun mulai goyah. Ia menarik napas dalam-dalam, seolah mencoba menghimpun kekuatan. Lalu dengan satu hentakan yang tegas, mencabut foto Artika dari papan tulis. Kertas itu terlepas. Melayang perlahan. Suara kecilnya saat jatuh ke lantai terdengar seperti penutup babak dalam benaknya. “Bukan kamu,” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. “Aku tahu, kamu bukan bagian dari ini.” Tapi di balik keputusan itu, jantungnya berdetak tak karuan. Bukan karena rasa lega, melainkan karena pilihan itu bukan sekadar berdasarkan bukti. Tapi karena ia mulai percaya. Dan percaya, dalam permainan ini, bisa jadi adalah titik paling berbahaya. Seberapapun Arju berusaha mencurigai perempuan itu, nyatanya selalu ada cahaya yang menyilaukan, menutup kecurigaan itu sendiri. Informasi yang Arju dapat selalu bertolak belakang dengan kecurigaannya. “Walaupun percaya, aku tetap harus menjaga jarak,” tutur Arju memberikan pertahanan pada diri sendiri bahwa pasti ada benang merah yang tersambung. Entah apa perannya. ^^^ Pagi itu, cahaya matahari menyusup lembut lewat sela gorden kamar. Arju berdiri kaku di depan cermin, mengenakan kemeja putih bersih yang sudah disetrika rapi. Kancingnya tertutup sempurna, dilapisi blazer abu-abu gelap yang menegaskan kesan profesional. Celana panjang bahan jatuh rapi sampai ke sepatu kulit hitam yang mengilap. Tak ada lagi jejak kaus lusuh, jaket lapangan, atau sepatu kets yang biasa ia kenakan saat bergerilya sebagai ahli forensik. Kini, Arju sudah resmi menjadi Abim di dunia kerja. Rambut gondrongnya yang selama ini ia sembunyikan di balik topi telah hilang. Tadi malam, dengan tangan gemetar dan mata yang berat, ia sendiri yang memotong rambut itu. Pisau cukur bergigi tajam menghabisi helaian demi helaian, seolah menyingkirkan sisa-sisa masa lalunya. Wajahnya kini bersih. Rapi. Terlalu rapi untuk ukuran Arju yang biasanya sembunyi di balik bayang-bayang. Ia menarik napas panjang, lalu menatap bayangannya sendiri di cermin. Sorot mata itu… bukan hanya terlihat berbeda. Sorot itu menantang. “Ini bukan lagi penyamaran,” gumamnya pelan, nyaris seperti mantra. “Ini perang.” Arju menggenggam pinggiran meja rias dengan kedua tangan. Jemarinya sedikit gemetar. Bukan karena takut… tapi karena ia tahu apa yang akan dihadapinya bukanlah sekadar berakting. Ia akan masuk ke kandang singa, ke dalam perusahaan raksasa tempat rahasia kematian Abim bersembunyi dalam rapi. Di sana, setiap senyuman bisa berarti jebakan. Setiap jabatan tangan bisa mengandung racun. Setiap langkah bisa membawa pada kematian yang sama. Tapi ia tak punya pilihan. Ini sudah menjadi misinya. Misi yang lebih personal dari apa pun yang pernah ia hadapi. Dengan satu helaan napas panjang, Arju atau tepatnya Abim, melangkah keluar kamar. Langkahnya mantap, tapi di balik jas dan dasi itu, jantungnya berdetak cepat. Tak ada jalan kembali. Kini, semuanya dimulai. Langkah-langkah mantap itu menggema di lorong marmer perusahaan farmasi raksasa yang menjulang megah. Arju—yang kini tampil seutuhnya sebagai Abim—menapaki lantai lobi dengan jas abu gelap membingkai tubuh tegapnya. Kemeja putih bersih yang diselipkan rapi ke dalam celana formal mempertegas siluet bahunya yang kokoh. Rambut gondrong yang dulu selalu tersembunyi di balik topi, kini sudah rapi tercukur, menyisakan potongan pendek yang memperlihatkan garis rahangnya yang tegas. Dengan satu gerakan ringan, ia mengangkat tanda pengenal bertuliskan nama Abimanyu Shalahuddin M. dan men-tap-nya di pintu akses masuk. Bunyi bip pelan terdengar, dan pintu terbuka. Seketika itu juga, keheningan kecil menyelinap di antara karyawan yang lalu-lalang. Semua mata tertuju padanya. Seorang resepsionis perempuan yang sedang mengetik mendadak berhenti dan mendongak. Sekilas senyum gugup muncul di wajahnya. Seorang staf muda di dekat lift memiringkan kepala, seolah memastikan apakah benar pria yang berdiri gagah itu adalah rekan mereka yang biasanya lebih pendiam dan tak sebercahaya ini. Ada yang berbisik-bisik. Ada yang terpaku. Ada yang tertegun, memandangi sosok lelaki tampan dengan aura yang entah mengapa terasa berbeda hari itu. Tatapan matanya tajam tapi tenang. Sorotnya penuh kalkulasi, tapi tetap memikat. Senyum tipis di ujung bibirnya bukan sekadar basa-basi; ia seperti tahu persis ke mana akan melangkah. Aura misteriusnya tak bisa diabaikan. Ada sesuatu yang membuat semua orang menoleh dua kali. Arju dengan identitas yang bukan miliknya itu berhasil mencuri atensi ruangan, bahkan tanpa berusaha. Mungkin salah satu dari mereka adalah biang keladi dari celakanya Abimanyu yang asli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN