Kedatangan Abim atau tepatnya sosok yang menyamar sebagai Abim—langsung mengguncang lantai divisi R&D Primasehat Biocare. Begitu pintu lift terbuka dan langkah Arju menjejak ubin marmer dengan gagah, seisi ruangan mendadak meledak dalam sorak sorai dan decak kagum. Mereka yang semula tenggelam dalam layar monitor dan botol sampel, kini meninggalkan kursi dan meja mereka, berhamburan ke arah lelaki itu.
“Kang Abim!”
Teriakan itu terdengar bagai sorak kemenangan dalam film perang. Lengan-lengan terulur, tubuh-tubuh mendekat, dan dalam hitungan detik, Arju tenggelam dalam pelukan-pelukan hangat yang bertubi-tubi. Ia terjebak dalam lingkaran emosi dan tubuh manusia.
Dan di sanalah ia membeku.
Mata membelalak, tubuhnya tegang seperti busur yang siap meletus.
Jantungnya menendang-nendang dadanya, seperti hendak kabur.
Dipeluk. Oleh lebih dari satu orang. Sekaligus.
Bagi Arju, yang tumbuh dalam tempurung hidup yang sunyi dan dingin, kehangatan semacam ini terasa asing, nyaris mengancam. Selama ini, dunia hanya menyentuhnya sejauh yang ia izinkan. Tapi kini, rasa rindu orang lain menyergap tubuhnya dengan begitu nyata, begitu manusiawi, dan begitu menyakitkan dalam cara yang tak ia pahami.
Ia tidak tahu harus memeluk balik, atau hanya berdiri seperti patung museum. Tangannya menggantung kaku, seperti tak punya tempat untuk mendarat. Dadanya terasa sesak. Bukan karena tekanan fisik, melainkan karena perasaan yang terlalu banyak datang dalam waktu yang terlalu cepat.
“Kang... serius nggak kenapa-kenapa?” tanya seorang rekan kerja dengan mata berkaca-kaca, menggenggam lengan Arju seolah khawatir perempuan itu akan lenyap begitu saja.
“Iya, kamu beneran nggak papa?” sambung yang lain, menepuk bahunya dengan lembut.
“Lo kata nggak apa-apa sampai koma?!” pekik Abim palsu yang tak dapat menyambut basa-basi rindu dari rekanannya.
Kalimat itu menyayat seperti sembilu. Dan tiba-tiba, suasana menjadi sangat sunyi. Seolah seluruh ruangan ikut menahan napas. Antara terkejut melihat sosok Abim yang bijaksana itu meledak-ledak. Matanya menyala. Suasana penuh kasih itu mendadak berubah jadi tegang. Semua orang terpaku. Tak percaya. Beberapa mulai saling pandang, bingung. Sebab, itu bukan cara Abim biasanya merespons sesuatu.
Di dalam kepala Arju, jeritan itu bukan untuk mereka. Tapi untuk dunia. Untuk semua keheningan yang pernah ia telan. Untuk semua rasa takut yang tak sempat ia tangisi. Untuk kebingungan yang selama ini hanya ia endapkan.
Arju telah lupa dirinya bukan dirinya.
Dan luka yang terbuka itu adalah luka Arju. Bukan milik Abim. Ia sadar. Terlambat.
Wajahnya berubah. Ia buru-buru mengerjapkan mata, menunduk sejenak. Menarik napas. Menahan amarah yang sebetulnya tak punya tempat di ruang itu. Lalu, seperti aktor veteran, ia mengangkat wajah kembali. Kali ini dengan senyum tipis dan tatapan tenang, menyerupai sosok kembarannya yang dikenal hangat dan kalem.
“Aku...” ucapnya pelan. Suaranya nyaris berbisik.
Semua orang masih menunggu. Menahan degup. Menanti penjelasan.
“Aku nggak baik-baik aja...” sambungnya, lirih. Ia berhenti sebentar. Mencari kata. Menyusun napas. “Tapi sekarang... udah lebih baik. Karena doa kalian semua. Terima kasih.”
Satu-dua embusan napas lega terdengar. Beberapa senyum pelan mengembang. Yang lain menepuk pelan punggungnya dengan tulus. Ruangan kembali berdenyut.
Tapi di dalam d**a Arju, badai itu belum juga reda. Karena kehangatan itu, yang begitu menggetarkan, terasa bukan miliknya. Ia tidak terbiasa dengan berbagai kehangatan.
Dan untuk pertama kalinya... ia menginginkannya. Tapi bukan sebagai Abim. Sebagai dirinya sendiri.
Abim, atau tepatnya Arju dalam balutan identitas saudara kandungnya, berusaha melepaskan diri dari pelukan dan sentuhan satu per satu rekan-rekannya. Ia melakukannya dengan perlahan, penuh kehati-hatian. Wajahnya tetap dihiasi senyum tipis yang seolah hangat, meski otot rahangnya mulai menegang. Ia tak bisa terus-terusan menerima pelukan itu. Sentuhan itu terasa asing, membanjiri tubuhnya dengan rasa yang tak nyaman meski seharusnya mengharukan.
Ia menepuk-nepuk punggung rekan terdekatnya pelan, lalu mengangkat kedua tangannya sedikit, seolah memberi isyarat halus bahwa tak perlu terlalu menempel. Dan orang-orang pun perlahan mundur, membiarkannya berdiri kembali di tengah mereka. Namun senyumnya mulai terasa dibuat-buat. Bahkan untuk dirinya sendiri.
Kemudian dari salah satu bilik kerja yang terletak di sudut, langkah kaki terdengar mendekat. Tidak tergesa. Tidak lambat. Tapi pasti.
"Selama ini kamu dirawat di mana?"
Suara itu terdengar tenang. Tapi dingin. Seperti batu di bawah air gunung.
Arju yang sedang berusaha menstabilkan napasnya, tercenung. Pertanyaan itu tidak bernada basa-basi seperti yang lain. Bukan pula nada khawatir. Ia perlahan menoleh, menemukan sosok pria berambut abu yang mengenakan jas lab. Tubuhnya tegap, wajahnya kaku. Tidak ada senyum. Tidak ada kerut penasaran. Hanya... datar. Terlalu datar.
Tatapan yang seperti ingin menembus kulit dan menelanjangi isi kepala.
Arju meneguk ludah pelan. Tapi ia tetap menampilkan senyum santai, salah satu keterampilan Arju yang paling dibutuhkan hari itu. Ia melangkah pelan mendekati pria itu sambil menunduk sedikit, pura-pura meneliti ID card yang menggantung di lehernya.
“Bukannya Pak Hilman harusnya nanyain kabar saya dulu?” ucapnya ringan, dengan nada bercanda. Seolah ingin membalikkan situasi, mendudukkan percakapan dalam nuansa hangat seperti sebelumnya.
Lalu, ia terkekeh. Sekilas. Nyaris seperti Arju, bukan Abim. Kekehan itu terlalu bebas. Terlalu lepas.
“Saya koma seminggu lebih, loh!” tambahnya, masih dengan gaya main-main. Tapi ada kegugupan tipis di balik matanya, seperti seseorang yang sedang bermain akrobat tanpa jaring.
Pak Hilman tetap berdiri di tempat. Tak tertawa. Tak tersenyum. “Bukannya udah jelas? Kalau kamu sudah kembali, itu artinya kamu sudah baik. Itu juga yang kamu bilang ke tim, kan?” balasnya dengan suara datar. Tanpa tekanan. Tanpa intonasi menuduh. Tapi justru karena itulah, terasa mencurigakan.
Terlalu tenang. Terlalu presisi.
Ada jeda di antara mereka. Hening sesaat yang seperti mengisyaratkan bahwa itu bukan obrolan ringan. Bahwa setiap kata yang diucapkan, sedang ditimbang dan dinilai.
Arju menarik napas tipis, mencoba tersenyum lebih sopan. Tapi dalam kepalanya, alarm diam-diam menyala. Dan Arju tau... Dalam waktu dekat, ia harus waspada. Sebab, pria berambut abu itu, jelas bukan orang yang mudah dilewatkan begitu saja.
“Kang Abim!”
Seruan itu memecah ketegangan.
Seperti batu yang dilempar ke tengah kolam yang tegang permukaannya, suasana kembali bergelombang. Suara langkah kaki bergegas menyusul. Beberapa orang dari tim lain berdatangan. Sebagian mengenakan jas lab, sebagian lagi mengenakan kemeja kerja kasual dengan ID card yang memantul-mantul mengikuti langkah mereka.
Di antara kerumunan yang berlari kecil itu, Naomi tampak paling depan, bersama Baim dan beberapa rekan dari tim QC yang sering bersinggungan langsung dengan R&D. Wajah-wajah mereka menunjukkan campuran emosi. Antara lega, tak percaya, dan rasa ingin tahu yang belum terjawab.
“Ya ampun, Kang…!” seru Naomi, matanya membulat, tak menyangka. Ia menghampiri dengan langkah tergesa. “Khawatir banget denger kabar kecelakaan sampai koma.”
Arju terdiam sejenak. Ia tidak bisa langsung merespons. Senyum ramah yang tadi sempat ia bangun mulai terasa berat di pipinya. Tapi ia tetap berusaha mempertahankannya, meski rahangnya kaku.
“Kita sempat hampir jenguk Kang Abim, loh. Tapi Kang Abim katanya pindah RS.”
“Yang penting sekarang Kang Abim udah sehat!” sahut Baim, ikut mendekat, menepuk lengan Abim palsu itu dengan akrab. “Gila, orang-orang kantor langsung heboh begitu lo masuk lift tadi.”
Suasana kembali ramai. Seolah yang tadi tidak pernah terjadi. Seolah tatapan tajam Pak Hilman tidak pernah mencekam ruangan beberapa detik sebelumnya. Namun Arju tetap bisa merasakan tatapan pria itu menusuk punggungnya, meski ia tidak lagi di sana.