"Sejak kau pulang dari rumah Feli, kau terus melamun. Apa yang sedang kau pikirkan?" Sekarang, Devan dan Vanya tengah berada di balkon apartemen. Vanya berdiri menatap jalanan yang sangat ramai. Tubuhnya memang berada disana, tapi pikirannya selalu pada Tante Melinda. Vanya sudah menganggap Tante Melinda seperti ibunya sendiri. Kemurahan hatinya, kelembutan hatinya, membuat Vanya bisa merasakan kasih sayang dari perempuan paru baya tersebut. Rasanya, Vanya tidak tega jika Tante Melinda larut dalam kesedihan. "Aku------" "Kau ingin mengatakan sesuatu?" "Devan, aku--- " Vanya menatap Devan, dia masih ragu untuk mengatakannya. "Katakan saja." "Devan, lebih baik kau segera pulang ke rumahmu. Apa kau tidak kasihan melihat ibumu terus bersedih?" Devan menarik sudut bibirnya tersenyum tipi

