Bagian lima puluh empat Untuk sekedar membuka matapun Safir tak mampu, bahkan untuk di periksa dokter saja tidak mampu kerumah sakit, alhasil dokterlah yang ke apartemen mereka. Bidan Ida memeriksa perut Safir dan meminta penjelasan ada keluhan tidak. ‘’Ada keluahan gak? Mual atau apa gitu.’’ Tanya bidan Ida. Safir memegang kepalanya dan menggeleng pelan. ‘’Perutku mual sekali pas sampai di apartemen dan muntah pas cium aroma nasi padang.’’ Jawab Safir pelan. ‘’Terakhir mensturasi kapan?’’ tanya bidan lagi. Safir membuka matanya ia memijit keningnya seraya mengingat- ingat. ‘’Kalau gak salah, terakhir waktu di kosan dua bulanan yang lalu.’’ Safir menjawab sambil melihat Arthur. Arthur mengerutkan keningnya. ‘’Kapan itu?’’ tanya Arthur. ‘’Waktu aku mau kabur terus kamu marah- marah

