Judith membanting pintu kamar dan menguncinya. Ia segera berjalan cepat ke arah ranjang dan terduduk dengan kedua tangan mengepal. Ia bisa melihat jika Jonathan yang duduk membelakanginya, sangat cepat menarik tengkuk Cilla, sedangkan satu tangan lain dibawanya untuk merapat. Pria itu dengan menggebu mencium bibir Cilla. “Sial!” umpatnya mengetatkan rahang. Napas perempuan blasteran itu memburu, merasa jika saingannya tidak bisa dikalahkan begitu saja. “Aku lebih yakin, kalau perempuan itu nggak hamil. Dia pasti berbohong,” cetus Judith dengan hidung mancung yang kembang kempis, menahan amarah yang membumbung tinggi. Judith tidak bisa dipermainkan seperti ini. Ia pun tidak ingin keluar dari unit ini begitu saja. Masih ada hari esok dan kali ini, ia mencoba menenangkan diri

