Bara merasakan kecemasan saat ini, sungguh dia takut sekali jika kekasih hatinya memiliki pikiran yang buruk. Mengapa tadi dia begitu bodoh dengan memberikan perintah kepada Dasha untuk menjawab teleponnya. Bara tak bisa menyalahkan Dasha, karena tadi dia sudah lebih dulu memberikan perintah yang mutlak kepada wanita itu untuk mengangkat teleponnya saja, apalagi ucapannya tadi tegas, tentu saja Dasha akan langsung menurut dengan perintahnya itu. Dia meringis pelan. "Aku yakin, pasti dia marah." Bara melemparkan ponsel nya ke atas ranjang. Dia menatap Dasha yang saat ini tengah memandangnya dengan wajah yang datar. "Tadi, kau bicara apa saja kepadanya?" "Tak banyak, dia ingin tahu siapa aku dan tentu aku tak ingin memberitahu identitas ku sendiri, karena kau tahulah, aku tak ingin d

