Medan. 20:15 WIB. Menembus dinginnya malam, duduk di kursi bus yang sedang meluncur cepat di jalanan kota Medan, ponselku berbunyi sebagai pertanda masuknya sebuah pesan singkat: dari Kak Irma. Dek, kamu lagi di mana sekarang? Udah turun dari pesawat? Udah sampai di rumah Om Tirta? Baru aku ingat bahwa sejak turun dari pesawat tadi, aku belum mengabarinya apa pun. Kubalas pesannya, jari-jariku mengetuk-ngetuk layar ponsel: Lagi naik bis nih sekarang. Masih belum nyampe di rumah Om Tirta, masih jauh. Lamanya waktu yang berjalan selama di dalam bus itu aku pakai untuk saling berkirim pesan dengan Kak Irma. Bertukar infomasi tentang keadaan masing-masing. Dari sana aku jadi tahu kabar mengenai keluargaku di Jakarta. Kak Irma bercerita, rumah jadi sang

