Jakarta. 10:15 WIB. Jujur saja, aku tak pernah menduga bahwa ibu akan memintaku berpamitan pergi pada ayah langsung dengan cara mendatanginya di kamar. Ayah membenci dan tak menyutujui perjalanan ini, tak ada seorang pun yang dapat menyangkal kebenaran itu. Jadi, untuk apa memanas-manasi lagi keadaan dengan menyuruhku meminta izinnya untuk pergi? Bukannya aku tak mau, tapi rasanya salah membuat emosi ayah bangkit kembali, membuatku lagi-lagi harus menghadapi amarah ayah sebelum pergi. Namun, kini berdiri di ambang pintu kamarnya, tatapanku melebar melihat tubuh ayah yang terdiam. Kedua bahunya bergetar, jelas sekali tengah menahan tangis. Bukan hal yang aku prediksi akan terjadi. Kaki Fred melangkah masuk ke dalam kamar. “Ayah? Fred sama Dennis mau berangkat

