Jakarta. 18:35 WIB Fredian akhinya pulang ke rumah ketika waktu sudah memasuki malam hari. Makanan yang telah dimasak tadi siang kini telah siap dihidangkan di atas meja makan, aromanya yang menggugah selera membuat nafsu makanku bergejolak sejak tadi sore. Tak berlebihan rasanya jika mengatakan air liurku menetes-netes terus hingga dagu. Namun, ibu bersikukuh bahwa tak ada seorang pun yang boleh makan malam sebelum Fred tiba. Ia berkata karena malam inilah terakhir kalinya kami bisa berkumpul bersama---mengingat aku, Fred serta Om Tirta akan berangkat besok menempuh perjalanan panjang---acara makan malam ini harus dihadiri oleh semua orang yang mendiami rumah ini. Tanpa terkecuali. Aku sebenarnya dapat memahami motif di balik ibu mau melakukan ini: kami bu

