32. Mentari Sebelum Badai

1303 Kata

Jakarta.11:59 WIB.       Mendengar pertanyaanku, Kania tertawa pelan. “Tentu saja tidak. Awalnya kedua orangtuaku tidak setuju dengan rencana pernikahan itu. Apalagi karena aku satu-satunya anak mereka. Namun, waktu itu suamiku melakkan sesuatu yang berhasil membuat kedua orangtuaku luluh dengan cepat."       “Apa itu?” pancingku penasaran. Mungkin aku bisa menirunya agar bisa membuat ibu dan ayahnya Kania luluh dengan mudah.       “Dia berhenti kuliah. Memilih untuk mulai mencari pekerjaan tetap sampai dapat. Setelah itu, ia mendatangi ayah dan ibu, berkata bahwa dia siap untuk menikahiku. Sanggup menafkahiku, membayar uang kuliahku dan menjadi calon ayah yang baik nanti. Ayahku … segera luluh saat itu.”       “Wow. Dia … punya nyali,” kataku dengan enggan. Aku tak yakin bisa meng

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN