31. Kisah Pernikahan Kania

1358 Kata

Jakarta. 11:47 WIB.       Aku mengikuti Kania ke lantai atas, menuju kamar si kembar Ervan dan Reifan berada. Beberapa kali Kania tampak mencuri pandang ke belakang, mengintip dari balik rambut panjangnya, dan saat kedua mata kami bertemu tatap, ia segera memalingkan wajah. Bisa kubayangkan bahwa kulit di sekitar kedua pipinya merona, seakan malu telah ketahuan melakukan hal yang tak sopan.       Tepat di belakangnya, aku hanya mengulum senyum.       Sungguh, apa yang terjadi saat ini teramat jauh di luar ekspektasiku, semua berjalan dengan sangat lancar dari yang kuduga semula. Balita yang kini tengah berada dalam buaianku pun bukan sebatas halusinasi. Ia nyata, padat dan dapat kurasakan sentuhannya. Dan yang paling mengesankan, keinginan untuk segera meminang Kania muncul dalam dir

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN