Jakarta. 10:11 WIB. “Kata-kata kamu sudah sangat kelewatan, Fredian.” Om Tirta menegur sepupuku, matanya memicing. Intonasi yang digunakannya tak terkesan menggurui, hanya bernada mengingatkan. “Kamu tak seharusnya berkata sampai sejauh tadi.” Tak ada jawaban maupun pembelaan yang diucapkan Fred, dia mengembuskan napas berat, lalu menjatuhkan tubuhnya sendiri ke sofa terdekat. Tak pernah sebelumnya aku melihat Fred dalam kondisi seperti itu, membantah perintah ayah dan melontarkan kata-kata menusuk pada pria yang sudah dianggapnya ayah pengganti sejak lama. Kini aku kembali bertanya-tanya apa saja yang telah diimpikan sepupuku semalam hingga membawa perubahan pada dirinya yang teramat besar. “Om Tirta benar,” ucapku yang perlahan bergerak menduduki sofa la

