Mereka makan dengan diam. Begitu juga dengan Erika. Namun, sesaat kemudian, suara heels terdengar mengetuk-ngetuk lantai marmer. Daddy Jack, Jo, Ammar dan Erika kompak menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita berjalan dengan langkah tegas. Dadanya membusung, kaca mata hitam bertengger manis di hidungnya yang tidak terlalu panjang. Rambutnya merah terurai sebatas siku. Wanita muda nan cantik itu menyeret koper berwarna pink di tangan kirinya. Tangannya yang satu lagi dia taruh di pinggang. Sungguh dia nampak mempesona seperti seorang model kelas dunia.
"Hai, Om! Hai, Jo! Hai, Mister Too Cold!" sapa Wanita itu sambil melepas kaca mata hitamnya. Dia menyapa ketiga lelaki itu satu per satu.
Ngapain Miss Sendok kemari? Ganggu kedamaian dunia! sungut Ammar dalam hati sambil melirik ke arah wanita yang berdiri tepat di sebelah ia duduk. Tanpa ada satu pun orang yang tahu, ada sebuah senyuman tipis. Ralat! Senyuman yang sangat tipis sekali, tersungging di bibir tebalnya.
"Iccha, kamu sudah sampai rupanya," kata Daddy Jack yang nampak senang melihat kedatangan wanita cantik itu.
Dia adalah Iccha Azzalia, teman masa kecil Ammar, tapi satu kelas dengan Jo saat sekolah dasar. Dulu dia tinggal tepat di sebelah rumah megah milik Keluarga Jack. Saat usianya menginjak sepuluh tahun Iccha ikut serta kedua orang tuanya untuk pindah ke Bandung. Dia anak keluarga berada. Mamahnya seorang pemilik gerai perhiasan yang terkenal di kota Bandung, sedang Papanya seorang pengusaha biro tour and travell yang tersohor.
"Tentu aja, Om. Aku capek banget nyetir sendiri dari Bandung sampai ke sini, untung pembalap," keluh wanita yang kerap disapa Iccha itu sambil mendudukkan pantatnya di kursi kosong yang ada di sebelah Ammar.
"Siapa yang nyuruh lu duduk di sini?" tegur Ammar dengan galak. Matanya membulat sempurna menatap Iccha dengan pandangan tidak suka.
"Serah gue, Too Cold!" sahut Iccha dengan galak juga.
Mereka berdua memang tidak pernah akur sejak kecil. Namun, herannya kalau salah satu dari mereka tidak nampak barang sehari saja, mereka pasti kebingungan dan saling mencari.
"Kalian ini sudah dewasa, tapi masih saja suka berdebat," sambung Daddy Jack sambil geleng-geleng kepala.
"Anak Om yang dingin bak kulkas dua pintu ini sebenarnya naksir berat sama aku, lihat kan sampai sekarang dia masih sibuk menjomblo padahal Jo yang adiknya saja sebentar lagi mau menikah. Dasar bujang lapuk!" Iccha mencela Ammar dengan sadis.
"Piih! Gue naksir elu? Jangan harap! Yang ada elu yang naksir gue, lihat aja kalau sampai lu minta gue kawinin, gue nggak akan mau!" balas Ammar dengan rasa dongkol yang bercokol dalam dadanya.
Iccha meraih sendok stainles mengkilat yang ada di atas meja makan lalu dia pukulkan benda itu tepat di kepala Ammar hingga sendok itu berdenting keras.
"Astaga! Lu nggak pernah berubah ya dari kecil sampai sekarang? Sendok mulu senjata andalan lu. Sakit ini kepala gue! Dasar Miss Sendok! Nggak ada akhlak!" omel Ammar dengan amarah yang berkobar. Dia mengelus kepalanya yang bekas pukulan Iccha .
"Entar gue ganti pakai gagang pacul gegar otak itu kepala. Stress lu bisa lebih parah daripada sekarang, hahahaha ... Dasar Mister Too Cold! Kembali ke lap_top ... eya ... eya ...."
Dengan semangat Iccha menirukan gaya Tukul Arwana mulai dari logat bicaranya, gaya jarinya yang menunjuk-nunjuk ke depan dan yang terakhir adalah bibir monyong tukul yang khas.
"Hahaha .... " Erika tergelak. Jo dan Daddy juga tertawa, tapi suara tawa Erika-lah yang mendominasi.
Bang Ammar cuma cerewet kalau ada Iccha. Pikir Jo seraya memerhatikan abangnya.
"Saha maneh pipiluen seuri?" tanya Iccha pada Erika dengan Bahasa Sunda.
Artinya, "Siapa kamu kenapa ikut tertawa?"
"Haduh .. aku orak ngerti sampeyan ngomong opo, Mbak," jawab Erika dengan Bahasa Jawa.
artinya, "Haduh.. aku nggak ngerti kamu ngomong apa, Mbak."
"Busyet dah! Nggak akan nyambung kalau kalian berdua ngobrol pakai Bahasa Daerah masing-masing yang satu Sunda yang satu Jawa," potong Jo dengan cepat. Dia memprediksi kekacauan akan segera terjadi kalau mereka berkomunikasi dengan cara seperti sekarang.
"Gue tadi tanya lu siapa kok ikutan ketawa?" Iccha mengulang pertanyaannya dengan Bahasa Indonesia.
"O ... Aku temannya Mas Jo, Mbak," jawab Erika dengan Bahasa Indonesia pula.
"Teman apaan ya? Teman main, teman kencan, teman bobo-"
Belum selesai Iccha bertanya Jo menyambar dengan cepat dan membuat wanita itu menutup mulutnya.
"Erika seorang penulis. Dia penulis online yang mau gue suruh bikin novel kisah cinta gue sama Yoevanca."
"Kamu seorang penulis, Rika?" tanya Daddy Jack dengan mata berbinar.
Ya Allah, setiap kali dipanggil Rika aku jadi ingat Rhoma Irama. Desah Erika.
Erika mengangguk. "Iya, Uncle."
"Wah ... hebat! Aku berkeinginan salah satu dari anak lelakiku bisa menikah dengan seorang penulis," ujar Daddy Jack.
"Abang aja yang nikah sama Erika. Aku kan udah mau sold out, Dad," sahut Jo dengan ketus.
"Ogah!" tolak Ammar dengan singkat dan dingin.
Siapa juga yang mau sama Mas Ammar. Ge-er kegeden rumongso alias terlalu percaya diri. Erika hanya berani ngomel dalam hati meski sebenarnya dia juga ingin mencoba memukul kepala Ammar dengan sendok seperti yang Iccha lakukan.
"Jo, Abang lu mah sengklek. Kagak doyan dia sama cewek. Dia demennya main pedang-pedangan. Hahaha .... " Iccha kembali mencela Ammar. Seolah hidupnya yang paling membahagiakan adalah saat bisa menghina dina lelaki yang sebenarnya sejak dulu dia sukai. Namun karena rasa gengsinya yang besar, Iccha menutupi perasaannya itu rapat-rapat.
"Ngaca lu sebelum nyela gue! Lu aja masih jomblo, anyep, perawan tua kagak laku!" Ammar membalas cacian Iccha dengan panjang lebar.
Giliran gua yang ngomong abang jawab ogah doang, giliran Iccha yang ngomel abang nyahutnya panjang bener. Batin Jo lagi.
"Ammar, jaga bicaramu!" tegur Daddy dengan tegas.
"Ck .... " Lelaki itu hanya berdecak sembari melirik ke arah Iccha.
Mas Ammar karo mbak e ki koyok kucing karo tikus wae (Mas Ammar sama mbaknya kayak kucing sama tikus aja). Erika keheranan melihat Ammar dan Iccha yang tidak berhenti berdebat sejak tadi.
"Jangan berantem terus, Mbak, Mas! Nanti jatuh cinta lho," sambung Erika kemudian nyengir sekenanya.
"KAGAK ADA!" seru Iccha dan Ammar bebarengan. Karena hal itu mereka lalu bertatapan.
Kapan sikap lu berubah baik ama gue Mar Ammar? Nyesel gue kenapa bisa gue naksir ama kulkas dua pintu kayak elu. Iccha ngedumel dalam batin.
Awas lu, Miss Sendok! Gue bisa bikin lu tergila-gila sama gue. Nggak nyadar apa kalau gue jadi perjaka tua gegara elu? Ammar juga ngomel sendiri.
"Ciye ... tatap-tatapan," goda Jo sambil tertawa.
Ammar dan Iccha sekejap menyudahi aksi saling pandang yang terjadi di antara mereka. Ammar bersikap sok biasa saja dan Iccha memilih memasang tampang juteknya.
"Sudah berdebatnya! Daddy mau bicara sama kalian. Iccha akan tinggal di rumah kita sampai waktu yang tidak ditentukan. Ke dua orang tuanya meminta Iccha untuk belajar mandiri dan mencari uang sendiri, jadi Daddy pikir karena posisi sekretaris pribadi Ammar sedang kosong jadi Iccha bisa bekerja bersama Ammar," jelas Daddy panjang lebar. Beliau sangat berwibawa dan kebapakkan. Wajah Daddy Jack dan Jo sangatlah mirip. Sedang wajah Ammar lebih condong mirip ke Mommy-nya.
Tentu tahu kan bagaimana reaksi Ammar setelah mendengar pemberitahuan dari Daddy-nya? Dia langsung menolak dengan tegas.
"Aku bisa cari sekretaris sendiri, Dad. Makasih," ketusnya.
"Dih ... kalau nggak karena malas nyari kerjaan sendiri gue juga ogah kerja sama lu!"
"Bang, udahlah nurut aja apa kata Daddy!"
"Diam lu, Jo! Mau gue tampol?" Ammar sudah melayangkan kepalan tangannya.
"Hayuuuk! Siapa takut? Biar badan lu lebih besar dari gue, gue kagak takut ama lu, Bang."
Jo melingkis lengan kaosnya. Dia sudah siap untuk beradu jotos dengan kakak kandungnya sendiri.
"Braaaak!" Daddy menggebrak meja makan dengan kencang hingga tak sedikit makanan yang meloncat dari tempatnya.
"Jo, Ammar, kalau kalian masih suka berdebat Daddy coret kalian dari daftar kartu keluarga." Ancaman pamungkas mulai beliau keluarkan. Jika sudah begitu kedua anak lelakinya yang terpaut usia dua tahun itu tidak bisa berkutik lagi. Ammar dan Jo pun langsung diam dan hanya berani berperang lewat pandangan mata.
Setelah perdebatan antara Jo dan Ammar. Makan malam kembali dilanjutkan. Iccha makan paling sedikit karena dia sedang melakukan program diet agar timbangan badannya tidak melar. Padahal badannya sudah langsing dan ideal tapi menurutnya berat badannya harus diturunkan lagi.
Makan malam selesai. Tapi Daddy masih meminta anak-anaknya untuk duduk diam.
"Iccha, nanti kamar kamu yang ada di sebelah kamar Ammar ya," kata Daddy memulai pembicaraan.
"Tapi kamar sebelah Bang Ammar udah dipakai sama Erika, Dad. Aku yang minta dia tidur di sana. Karena selama enam bulan dia bakalan tinggal di rumah kita," sambung Jo.
"Lalu bagaimana ini? Kamar yang lainnya sedang dalam tahap renovasi, Daddy tidak tahu kalau kamu juga akan membawa temanmu untuk menginap di sini," sahut Daddy kebingungan.
"Iccha, lu sekamar sama Erika dulu gimana? Untuk sementara waktu aja. Erika kamu nggak keberatan kan?" Jo memberi penawaran kepada ke dua wanita yang sama-sama akan menginap di rumahnya.
"Aku mah nurut wae (saja), Mas," jawab Erika seraya tersenyum simpul.
"Selama teman tidurku masih manusia aku nggak masalah, Jo." Iccha melirik ke arah Ammar saat bilang 'Masih Manusia'.
Merasa dilirik Ammar membuka mulutnya. "Lu sendiri jelmaan siluman laba-laba!" Cacian mulai keluar.
"Hahaha ... Siluman kecoa!" balas Iccha dengan tawanya yang menggelegar.
"Sudah jangan mulai! Nanti kalian Daddy ijabkan. Mau?" canda Daddy.
"OGAAAH!" seru Ammar dan Iccha kompak.
"Sudah kompak gitu dari tadi kenapa nggak jadian aja to, Mbak, Mas. Hehehe ... " Erika mengomentari.
"NGIMPI!" Mereka kompak lagi.
"Sudah nikahin aja, Dad!" Jo mulai jadi kompor.
Ammar beranjak dari tempat duduknya. Dia comot satu potong paha ayam lalu dia lempar tepat ke arah adiknya.
Dan ... "Haaaap ...!"
Dengan mudah Jo menangkap paha goreng itu lalu memakannya.
"Makasih pahanya, Bang. Hahahahaha ...." Jo terkekeh kemudian menggigit daging ayam itu lalu berkata, "Jodoh lu emang sama si Iccha, Bang. Lu nggak akan nikah kalau bukan sama dia."
"Gak sudi!" sungut Ammar.
"Diam lu, Too Cold! Najis gue kelamaan deket-deket ama lu!"
Iccha berdiri dengan cepat. Tapi heels sepatunya yang berukuran sepuluh centimeter tiba-tiba patah.
"Aow .... " keluh Iccha. Dia meringis menahan sakit.
Melihat itu Ammar dengan sigap menangkap pinggang Iccha agar tubuh wanita itu tidak terjatuh dan mencium lantai. Melihat aksi Ammar, Iccha membelalakkan matanya karena terperanjat. Dia menatap mata Ammar begitupun Ammar yang juga melihat kedua mata Iccha dengan seksama.
Jo, Erika dan Daddy melihat pemandangan itu dengan takjub.
Wah ... kayak nonton Drama Korea. Pikir Erika.
Mereka tersenyum senang. Sementara Ammar dan Iccha saling bertatapan dengan jarak wajah yang begitu dekat.
"Mas, langsung dirabike wae!" bisik Erika di telinga Jo.
Artinya, "Mas langsung dinikahkan saja!"
"Rebes!" sahut Jo dengan berbisik juga.
"Kita tinggal pergi saja! Biar mereka berdua asyik bertatap-tatapan," ujar Daddy Jack dengan suara yang sangat pelan.
Jo dan Erika mengangguk dengan kompak.
"Ayo, Rik!" ajak Jo dengan suara yang masih pelan kemudian menggandeng Erika agar mengikutinya.