Sejam kemudian mobil yang Erika tumpangi masuk ke pelataran rumah megah nan mewah milik keluarga Jo. Erika takjub melihat kediaman Jo yang bak istana raja-raja. Pilar-pilar besar dan kokoh menjadi pondasi yang kuat untuk menyangga rumah berlantai tiga tersebut. Halaman depan yang luas bahkan bisa dijadikan tempat untuk ajang bermain sepak bola.
"Ayo masuk, Rik!" ajak Jo.
Erika berjalan mengekor di belakang Jo. Dia menyapukan pandangannya di setiap sudut ruangan rumah megah Bos kakaknya tersebut.
Jo menuntun Erika menuju ke sebuah kamar di lantai dua. Begitu pintu terbuka mata Erika kembali dibuat terbelalak.
"Waow ... gede banget!" seru Erika takjub.
"Opone sing gede (Apanya yang besar)? Ambigu lho kata-katamu," sahut Jo sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
"Kamarnya to, Mas. Lha menurutmu opo?"
"Jempol ini lho jempol!" Jo menunjukkan dua jempolnya pada Erika.
"Jangan suka mancing-mancing, Mas! Aku masih lugu." Erika mencebikkan bibirnya.
"Lugu dari mana? Novel isinya kikuk-kikuk semua, mana detail banget lagi. Mana mungkin kalau belum pernah ngelakuin." Jo membantah statement Erika.
"Tapi aku belum pernah begituan, Mas. Sumpah demi Allah." Erika meyakinkan Jo kalau dirinya memang masih lugu dan masih segelan.
"Lha kok bisa nemu kata-kata begituan? Hah?" tanya Jo ingin tahu. Jo sudah membaca novel karya Erika pada bagian notif dua puluh satu plusnya saja. Di situ Erika bisa menggambarkan sedetail mungkin bagaimana sepasang suami istri sedang menghabiskan malam pertama mereka. Dari cara penulisannya seolah dia sudah sangat lihai dan berpengalaman.
"Sek aku tak takok dulu. (Tunggu aku mau tanya dulu.) Mas, udah pernah gituan sama Mbak Caca belum?"
"Ditanyain malah balik nanya. Paijem tenan!" Jo protes keras.
Mereka berbincang sambil duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut.
"Biar fair, Mas. Ayo jawab dulu!"
"Belum, Rik. Aku masih perjaka."
"Orak ngandel (Nggak percaya)!"
"Lhoh kok rak ngandel ki (nggak percaya itu) gimana?"
"Buktinya Mas Jo bisa tahu kalau orang kikuk-kikuk itu ngapain aja. Orang Mas bisa komentar kalau aku nulisnya detail banget. Berarti Mas juga pernah ngelakuin dong." Erika memutar balikkan fakta dengan gantian menuduh Jo.
"Orang tahu belum tentu pernah ngelakuin kan, Rik. Bisa juga karena dengar pengalaman orang, lihat di video atau baca di buku juga bisa."
"Nah jawaban yang smart, Mas Jo! 2in!" seru Erika dengan cepat sambil menjentikkan jarinya.
Jo mengerutkan dahinya. "2in? Apaan itu? Bahasa Jawa juga kah?"
"Ya kagaklah, Mas! Itu bahasa gaul. Artinya setuju."
"Ada bahasa gaul begitu? Setahuku 21in. Itu ukuran tivi! Sleketep." Jo keki sendiri menanggapi Erika.
"Hahaha ... sabar, Mas!" Erika terkekeh.
"Jangan ketawa! Entar gue diabetes!"
"Hah?" Erika nggak ngerti kenapa nama penyakit dibawa-bawa.
"Habis lu manis! Hahahaha ...."
"Mas ...." Erika membelalakkan manik matanya.
"Astagfirullah, ngapurone Gusti (ampuni aku Tuhan)!" Jo menengadahkan tangannya lagi seperti saat di cafe. Dia jadi teringat ucapan Aldin, "Ojo (jangan) genit-genit, Jo! Kowe meh rabi (Kamu mau menikah)."
"Hahahaha .... " Erika kembali tergelak.
Mas Jo ini menyenangkan banget lho orangnya. Udah ganteng, kaya, nggak sombong lagi. Beda sama Mas Sofyan. Dia terlalu serius banget, kaku, nggak pernah bercanda. Erika mencela pacarnya sendiri dan membandingkannya dengan Jo yang baru beberapa jam dia kenal.
"Kamu pinter omong juga ya, Rik. Ditanyain malah balik nanya. Udah aku jawab kamu bilangnya 2in. Ckck ... pintar banget memutar balikkan fakta! Persis koyok kangmase (kayak kakaknya)."
"Lha sak (satu) pabrik ya sama lah, Mas. Ibu Mei pintar ngeles juga orangnya, nurun dia aku, Mas. Hahaha ..." Erika memang gampang tertawa.
"Ngguyu meneh (Ketawa lagi), Astagfirullah!" Jo mengelus dadanya sendiri karena heran dengan adik sahabatnya yang dikit-dikit tergelak, "Ya udah. Ini kamar kamu. Kamu nyaman enggak?" tanya Jo sambil beranjak dari tempatnya.
Erika kembali menyisirkan pandangnya.
"Nyaman bangetlah, Mas," jawab Erika tanpa menatap ke arah Jo sedikit pun.
Di depan mata, Erika melihat sebuah tivi berukuran besar. Kemudian ada ranjang yang luas dan kasur yang empuk dengan sprei putih bersih terhampar begitu nyata. Jendela kaca yang lebar dengan pemandangan indah juga membuat Erika merasa lebih bersemangat menjalani hidupnya di ibukota. Benar-benar berbeda dengan keadaan kamarnya di Semarang. Ini bagaikan langit dan bumi. Langitnya lapisan ke tujuh lagi. Meski setelah Aldin bekerja, kehidupannya meningkat pesat, tapi jelas keadaan keluarga Erika pasti jauh berbeda dengan Jo yang kekayaannya tidak akan pernah habis di makan tujuh turunan.
Erika menghempaskan tubuhnya ke atas springbed empuk yang akan menjadi singgasananya selama enam bulan ke depan. Dia kegirangan seperti anak TK ketemu ayunan.
"Kamu senang, Rik?" tanya Jo yang ikut merasakan euforia yang Erika pertontonkan.
"Banget, Mas," jawab Erika antusias.
"Syukur kalau kamu senang. Sekarang kamu bisa mandi terus jam setengah delapan turun untuk makan bersama. Jangan telat ya! Aku tinggal dulu." Jo berjalan keluar meninggalkan Erika.
Tapi baru sampai di depan pintu dan baru mau menyentuh handlenya Jo berbalik badan menengok ke Erika lagi.
"Rik, aku kasih tahu ya. Kamar aku ada di bagian ujung. Sedangkan di antara kamar kita ada kamar Abangku yang namanya Ammar. Tapi kamu jangan kaget ya kalau ketemu dia, dia orangnya kayak kulkas dua pintu," terang Jo menjelaskan tentang keberadaan makhluk hidup yang bernama Ammar.
"Gede, Mas?" tanya Erika dengan polosnya.
"Hah!?" entah itu sebuah pertanyaan atau tidak, Jo sendiri bingung kenapa tiga huruf itu saja yang bisa keluar dari mulutnya.
"Katanya kayak kulkas dua pintu berarti gede dong, Mas." Erika menjelaskan maksudnya.
"Bukan itu maksud aku, Rik. Entar kalau kamu ketemu sendiri juga tahu. Dah ya aku pergi," pamit Jo untuk ke dua kalinya.
Jo membuka pintu lalu keluar kamar. Belum ada juga lima detik, Jo kembali membuka pintu dan hanya kepalanya yang terlihat masuk ke dalam kamar Erika.
"Rik!" panggil Jo usil.
"Hmm ...." sahut Erika singkat. Dia sedang sibuk membalas chat sesama penulis di Group what's app. GC Basecamp Author namanya. Kalau sudah ngechat sama mereka, Erika bisa lupa waktu.
"Hmm doang. Ya udah aku pergi." Jo kembali menutup pintu. Namun dia kembali melakukan hal yang sama.
"Rik!" seru Jo lagi dengan kepala yang nongol dari balik pintu yang terbuka sedikit.
"Hmm ...." Erika masih menyaut singkat.
"Rikaaaa!" panggil Jo dengan kesal.
"Iya, Romaaaa!" sahut Erika dengan kesal juga.
"Astagfirullah, lu pikir gue Roma Irama? Gue gaplok lu! Bikin kesel aja." Jo ngomel-ngomel nggak jelas.
"Hahaha ... makanya jangan usil, Mas! Dah sana pergi! Aku mau mandi," usir Erika dengan tegas.
"Iye! Jangan lupa setengah delapan kita makan malam bareng!" Jo mengingatkan kembali.
"Iya!"
Erika bergegas menyusun baju-bajunya di dalam lemari pakaian. Setelah itu dia mengambil satu dress motif bunga dan bergegas mandi.
Erika kembali dibuat kagum melihat kamar mandinya yang begitu luas. Bahkan lebih luas dari kamarnya. Ada bathup-nya juga buat berendam. Shower pun juga ada.
"Berasa kayak ngimpi. Biasanya cuma ada di imajinasi novel aku aja lho. Tapi ini beneran ada di depan mata sekarang! Ngeri ngerong iki jenenge (Ngeri ngerong ini namanya)."
Erika menghabiskan waktu setengah jam untuk berendam di kamar mandi. Setelah ritual mandi busanya selesai dan berganti baju dengan dress yang tadi dia pilih. Tidak lupa Erika merias dirinya di depan cermin. Pelembab seharga dua puluh tiga ribuan dia oleskan ke wajahnya, bedak merk Markonah yang dibandrol dengan harga lima belas ribuan di pasaran dia sapukan merata. Tak lupa lipglosh merk lipEs dia goreskan di bibirnya.
Erika melihat pantulan wajahnya di cermin dan memuji kecantikannya sendiri. Tidak lupa dia membandingkan dirinya dengan sang ibu yang menjadi primadona desa saat masih muda.
"Uayune to anak e bu Mei, persis kayak ibunya yang cantik, aduhai dan mempesona. Hehe.. Ndak apalah muji ibu sendiri. Dapat pahala malahan," kata Erika kemudian bergegas keluar kamar setelah menyemprotkan parfum yang biasa dia beli di gerai parfum pinggir jalan. Sebotol ukuran sedang cuma delapan belas ribu, itu udah sama botol. Kalau bawa botol sendiri cuma tiga belas ribu.
Erika keluar dari kamar. Dia melihat seorang lelaki memakai celana panjang dengan kaos oblong pressbody berwarna hitam keluar dari kamar yang ada di sebelah kamarnya. Lelaki itu terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya sampai ia tidak memperhatikan kehadiran Erika.
"Mas, apa aku boleh tanya di mana ruang makannya?" tanya Erika saat si pria melintas.
Lelaki itu menghentikan langkah kemudian menoleh ke arah Erika. Tatapan sadis pria bertubuh tinggi besar berambut hitam lebat itu, begitu menusuk jiwa keluguan Erika.
Busyet. Serem banget ini orang! Ini pasti yang namanya Bang Ammar. Pikir Erika.
Wanita itu segera menundukkan kepalanya karena takut.
"Kamu siapa?" tanya lelaki itu sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"A ... aku ... E ...." Bibir Erika terasa kelu untuk menyebut namanya sendiri.
"E siapa?" potong lelaki itu dengan cepat dan galak. Bahu Erika sampai melonjak ke atas.
"Erika, Mas."
"Erika siapa?" tanya lagi si pria tampan yang kini melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Aku .... "
"Dia temanku." Seseorang menyaut. Ternyata Jo. Dia sudah mandi dan berganti baju dengan pakaian rumahan, rambutnya yang basah dan wangi karena habis keramas menambah ketampanannya. Parfumnya juga tercium sangat maskulin dan menyengat. Parfum mahal yang berharga jutaan rupiah, jika dibuat untuk membeli parfum seperti Erika bisa dapat ratusan botol.
"Terserah!" Lelaki bernama Ammar Syalendra itu tersenyum kecut ke arah adiknya. Dia juga melirik Erika dengan tatapan sinis. Ammar pun melenggang pergi meninggalkan Jo dan Erika.
"Mas, abangmu itu menakutkan." Erika baru bisa berkomentar setelah Ammar benar-benar pergi.
"Biarin aja. Dia memang sedikit nggak waras karena kelamaan jomblo. Ayo kita makan!"
Erika dan Jo berjalan beriringan menuju ke ruang makan yang berada di lantai satu. Sampai di sana Daddy dan Ammar sudah menunggu kedatangan Jo.
"Malam, Dad!" sapa Jo dengan senyum ramahnya.
Beliau bukannya Uncle Jack penulis novel Pendekar Gurun yang terkenal itu? Erika dengan mudah mengenali siapa orang tua yang disapa oleh Jo.
"Anda Uncle Jack kan? Uncle Jack penulis yang terkenal itu?" Erika tidak mau membuang banyak waktu, dia langsung memberanikan diri untuk bertanya pada yang bersangkutan.
"Kau mengenaliku, Nak?" Daddy Jack balik bertanya. Senyum terkembang di bibir lelaki berumur lima puluh tujuh tahun tersebut. Dia merasa bangga ada gadis seusia Erika yang mengenalnya.
"Nggih (iya), Uncle. Ayahku itu penggemar berat anda. Apa anda tahu? Di rumah akeh ... maksudku, di rumah banyak sekali koleksi novel karya Uncle dan juga poster-poster masa muda Uncle terpajang apik di kamar ayah. Ayah pasti senang karena aku bisa bertemu dengan Uncle," Erika berceloteh dengan lancar sampai-sampai dia tidak memperhatikan bahwa ada satu orang lelaki yang menatapnya dengan sinis. Iya, lelaki itu adalah Ammar. Dia memang tidak suka wanita yang banyak bicara. Hanya ada satu orang wanita cerewet yang bisa menarik perhatiannya hingga detik ini. Dan gegara wanita itu juga Ammar menjadi enggan membuka hatinya untuk perempuan lain.
Gadis ini cerewet banget. Pikir Ammar.
"Terima kasih apresiasinya, Nak. Oya, siapa namamu?" tanya Daddy Jack sambil mengulurkan tangannya.
Erika menjabat tangan Daddy Jack dengan mantab.
"Saya Erika, Uncle."
"Hei, Erika. Salam buat Ayahmu, Ya," ucap Daddy Jack dengan sangat ramah.
Erika mendadak sedih dan muram.
Jo tahu Erika sedih pasti karena teringat ayahnya yang sudah tiada.
"Dad, ayahnya Erika sudah meninggal sebulan yang lalu," jelas Jo.
"Oh maaf, Nak. Daddy nggak tahu," sahut Daddy Jack kemudian mengelus bahu Erika.
"Sabar ya, Nak. Ayahmu sudah bahagia di atas sana," lanjut Daddy untuk melegakan hati Erika.
"Amin. Makasih yo, Uncle," cetus Erika yang manik matanya sudah mulai berembun.
Baaapaak. Lirih Erika pilu dalam hatinya.
"Ehem ..." Ammar berdehem memberi kode agar acara perkenalan, ramah tamah dan drama kesedihan antara Daddy Jack dan Erika segera diakhiri.
Buang waktu aja. Desah Ammar.
Juteknya Masya Allah. Erika mengelus dadanya melihat sikap Ammar yang tidak bersahabat.
"Erika, duduklah di sebelahku!" Jo menarik satu kursi untuk Erika singgahi.
"Matur nuwun yo, Mas "
Artinya, "Terima kasih ya, Mas."
"Ayo kita mulai makan, Anak-anak!" perintah Daddy Jack. Daddy Jack meraih centong dan mengambil nasi ke dalam piringnya. Makanan mewah dengan berbagai macam jenis sayuran dan lauk pauk tersedia di atas meja.
Setelah semuanya mengambil makanan mereka masing-masing, barulah Erika yang mendapat giliran. Wanita itu nampak bingung karena dia berasa ingin memakan semua hidangan yang tersedia. Namun, dia masih memiliki rasa malu dan sopan santun. Dia akhirnya memilih makan dengan lauk udang goreng balado juga capcay kuah yang menggoda selera.