Naik Mblegedes Ben

1721 Kata
"Ngomong ya ngomong wae (aja)! Nggak usah maju-maju gitu rupamu (wajahmu)!" Al menegur lagi. "Mas, kok di rupa-rupain sich? Ndak sopan!" Erika balik menegur kakaknya. Karena dalam Bahasa Jawa, "Rupamu" atau "Wajahmu" bermakna kasar. Lebih tepatnya sering digunakan untuk menghardik. "Udah biasa dia kayak gitu, Rik. Aku bosnya tapi kayak nggak ada harga dirinya. Paijem tenan!" Aldin sudah menduga kalau lelaki itu akan memakai cacian favoritnya di akhir kalimat sehingga Al ikut-ikutan bilang "Paijem tenan" berbarengan dengan Jo. Mereka pun kompak saling mengumpat dan membuat Erika kembali tertawa. "Adikmu itu sebenernya penulis atau penggembira to, Al? Dari tadi ketawa mulu. Manis lho kamu," Jo memuji Erika di akhir kalimat kemudian menaik-naikkan alisnya dengan genit hingga kening lelaki itu terlihat berkerut-kerut. "Jo Istighfar Jo! Meh rabi lho kowe,(Mau menikah lho kamu)," Al mengingatkan. Jo menengadahkan tangannya ke atas seperti orang sedang berdoa, "Astagfirullah!" seru Jo. "Ngapurane Gusti (Maafkan Gusti) !" ucap Al menuntun Jo agar mengikuti ucapannya. "Ngapurane Gusti!" Jo yang memang kocak mau-mau saja mengikuti perintah Aldin. "Hahahaha.. " Erika kembali tertawa dan kini dengan suara yang lebih kencang dari tawanya yang sebelumnya, "Mas Jo mau-mau saja dikerjain Mas Aldin. Haduuh ... ketawa terus dari tadi," Karena tingkah konyol dua sahabat ini, misi utama untuk membahas pembuatan novel jadi nggak kelar-kelar. "Hmm ... !" Jo berdehem. Dia kembali mengibaskan jasnya yang masih rapi dengan kedua tangan, kakinya kembali dia tekuk salah satu dan dia topangkan ke kaki yang satu lagi. Dan seperti tadi, telapak kakinya yang tertutup sepatu kembali digoyang-goyangkan. Jo mulai memasang ekspresi serius. "Mana karyamu? Cepat! Jangan ketawa mulu!" Jo kembali ke pembahasan utama. "Ya di aplikasi ada, Mas." "Tapi aku cari nggak ada, Rik. Erika Wijaya kan namamu?" Jo menggebu-gebu. "Itu namaku, Mas. Nama penaku beda lagi." "Apa?" tanya Jo dengan cepat. "Anggrek," jawab Erika dengan cepat pula. "Hah Anggrek? Kok Anggrek?" tanya Jo dan Al berbarengan. "Kompak bener ya? Hahaha ... " Erika kembali tertawa. "Kenapa anggrek, Nduk?" tanya Jo. "Karena Ibuku suka bunga anggrek, Mas," jawab Erika mantab. "Ish ... sejak kapan Ibu Mei suka Anggrek? Ibu sukanya melati, Dek. Sambil dicemilin kalau Jumat Kliwon," sahut Aldin membantah alasan adiknya dan malah mencela ibu kandungannya sendiri. "Waduuuh .... " bibir Jo sampai mengerucut. Matanya membelalak, "Ibumu kayak Susana yo, Al. Ngeri!" "Jangan mencela! Ibuku paling cantik sedunia." Al tidak terima. "Nah kan kamu duluan tadi yang nyela Ibumu. Gembus tenan!" Jo membela diri. Gembus itu makanan yang terbuat dari ampas tahu ya. Kalau di Semarang namanya gembus. Kalau di tempat kalian namanya apa guys? "Hahaha ... ada gembus juga dibawa-bawa. Masya Allah." Erika kembali dibuat terpingkal. "Hancur lebur sudah wibawamu di depan adikku, Jo ... Jo ... Gara-gara gembus! Ckckck ...." Aldin mencela Johan sambil geleng-geleng kepala dan berdecak seperti cicak. "Gara-gara elu! Somplak!" Jo marah-marah. Sudah biasa mereka seperti ini. Sudah bukan hal yang aneh lagi. "Kenapa Anggrek, Dek?" Aldin kembali bertanya. "Kan udah aku jawab, Mas." "Kalau lu yang jadi penulis, kasih nama pena Raflesia Arnoldi. Waah ... cakep tuch, Al." Jo mengulurkan jempolnya tepat di depan hidung Aldin yang panjang. "Cakep apanya? Bunga bangkai lu bawa-bawa," sahut Al sewot. Al menghempas jempol Jo dengan telapak tangannya. "Hahaha ... emang lu kayak bangkai," cela Jo dengan puas. "Cepetan ke pokok permasalahan! Mubang-mubeng wae koyo kitiran (Mutar-muter aja kayak kipas)," tegur Al. "Hookay!" Jo mengetikkan nama Anggrek pada kolom pencarian. Dan ketemulah ada tiga karya milik Erika. Jo membuka salah satunya. Kening Jo berkerut-kerut. Mati aku! Pikir Erika dalam batin. "Kok banyak notif dua puluh satu plusnya merah-merah itu apa, Rik?" tanya Jo tanpa mengalihkan pandangan dari layar gadgetnya. Tenan to (benar to)! Pikir Erika lagi. Erika meremas jemari tangannya. "Coba aku klik yang ada notifnya," seru Jo. "Jangan!" teriak Erika dengan cepat. Tangannya melambai ke kanan dan kiri. "Terlanjur," sahut Jo santai. Jangan bilang Mas Aldin ya, Mas Jo! Bisa dimaki-maki aku. Lima menit membaca satu chapter. Jo bergidik. "Njir ... pinter juga lho ya, Rik. Udah pengalaman berarti? Tak kusangka." Jo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enggak, Mas. Suwer aku belum pernah begituan. Itu cuma imajinasi doang, Mas. Suwer!" Erika menaikan kedua jarinya membentuk huruf V. Dia teramat sangat malu karena Jo membaca script vulgarnya di depan matanya. "Begituan apanya? Dih ... nggak jelas ini dua orang." Aldin belum menyadari notif dua satu plus yang dikatakan Jo itu maksudnya apa. Erika menendang kaki Jo pelan. "Apa?" tanya Jo tanpa mengeluarkan suara. Hanya bibirnya yang bergerak. Erika meletakkan telunjuknya tepat di depan bibir. Memberi kode agar Jo diam. Jo manggut-manggut. Aldin hanya mengamati tingkah kedua makhluk yang ada di depannya dengan keheranan. "Nggak apa-apa, Al. Ini urusan bisnis. Lu nggak ngerti," kata Jo kemudian menepuk bahu Al dengan pelan. "Sak karepmu lah (Terserah kamu lah)! Emang gue pikirin." Aldin memilih untuk tidak menghiraukan. "Alhamdulilah ...." Erika merasa lega. "Oke. Mending kita sambung di rumah aja gimana? Aku mau pulang. Si Caca ngambek karena aku kelamaan nggak balik-balik jadi dia pulang ke rumahnya." Jo menyudahi percakapan tentang novel hari ini. "Lho, Mas! Aku belum bisa bekerja kalau begini. Informasi yang Mas Jo kasih baru sedikit. Baru prolog doang itu, Mas. Aku harus sering-sering komunikasi sama Mas Jo lho," sahut Erika. "Gimana kalau kamu tinggal di rumah aku selama enam bulan ke depan?" Jo menawarkan. "Ojo (Jangan)!" larang Aldin dengan cepat. "Kenapa nggak boleh?" tanya Jo ingin tahu. "Nanti kalau kamu ngapa-ngapain adikku gimana?" Aldin balas bertanya. "Diih ... ya kagaklah! Caca aja belum pernah aku apa-apain, yang ada adikmu yang ngapa-ngapain aku. Dia kan dah pintar bikin script vul-" Belum selesai bicara Erika sudah membungkam mulut Jo dengan satu tangan. "Aku ikut Mas Jo aja ndak apa-apa kok, Mas. Mas Jo orang baik. Dia ndak mungkin kurang ajar sama aku," seru Erika yang masih belum juga melepaskan tangannya dari mulut Jo. "Serius?" Aldin memastikan. "Nggih, Mas." "Tapi kenapa itu mulut si Jo kamu bungkam, Dek?" selidik Aldin. "Ndak apa, Mas. Gemes aja sama mulutnya Mas Jo, hehehe .... " jawab Erika berbohong. "Ya udah. Aku tinggal ya. Kalau ada apa-apa buruan telepon Mas, Dek," perintah Aldin pada adiknya sambil melirik Jo dengan penuh ancaman. "Nggih, Mas, (Iya, Mas,)" balas Erika singkat. Erika baru melepaskan bungkaman tangannya saat Aldin sudah benar-benar pergi. "Kenapa sich, Rik? Takut benar ketahuan kakakmu," protes Jo. "Ya takutlah, Mas. Aku juga malu kalau Mas Aldin tahu aku suka bikin cerita begituan. Bisa digantung aku, Mas." "Entar aku baca ah. Hehehe .... " Jo menyenggol lengan Erika lalu tersenyum menggoda. "Terserah, Mas Jo. Yang penting jangan bilang siapa-siapa terutama Mas Aldin! Janji sek (dulu)!" Erika mengulurkan jari kelingkingnya pada Jo. "Okay. Aku janji." Jo menyanggupi. Dia melingkarkan jari kelingkingnya pada jari Erika. "Makasih yo, Mas." Erika sangat bersyukur karena Jo bisa diajak kerjasama dengan baik. "Sini aku bawain barang-barang kamu. Udah kayak mau pindahan aja, Rik." "Hehehe .... " Erika hanya nyengir. Jo membawakan tas Erika di tangan kanan dan kirinya jadi Erika hanya tinggal membawa tas ranselnya. Sopir Jo sudah menunggu di depan mobil. Dia segera membantu majikannya yang kesusahan membawa banyak barang. Lelaki paruh baya itu meletakkan tas-tas Erika di dalam bagasi belakang. "Weleh ... apik temen mobilmu to, Mas. Opo iki merk-e? (Weleh ... bagus banget mobilmu sie, Mas. Apa ini merknya?)" Erika memerhatikan mobil mahal Jo dengan sangat takjub. Maklum biasa diboncengin pakai motor bebek. Matanya terbelalak tak lepas memerhatikan benda berharga itu dan kepalanya digeleng-gelengkan perlahan. "Merk-e Mblegedes Ben, Rik," jawab Jo kemudian terkekeh. "Hilih opo ono si, Mas? (Hilih apa ada si, Mas?)" decit Erika lalu memukul bahu Jo dengan kesal. "Silahkan masuk anak manis!" Jo membukakan pintu untuk Erika dan mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam kendaraan mahalnya. "Makasih ya, Mas," sahut Erika. Bergegas ia masuk ke dalam mobil Jo yang T-O-P BE-GE-TE. Enak ya jadi orang kaya, mobilnya adem, wangi, kalau sama Mas Sofyan paling naik motor keliling kampung. Pikir Erika seraya mengedarkan pandangan matanya, menelisik setiap sudut mobil yang langsung memberinya kenyamanan. "Lungguhan'e empuk e poll, (Tempat duduknya empuk banget,)" celetuk Erika sambil menepuk-nepuk jog mobil Jo, ia menyenderkan punggungnya dengan kaki yang berselonjoran ke depan. "Enak tenan to, Rik? (Enak banget to, Rik?)" tanya Jo yang sudah duduk di sisi Erika. "Top markotop, Mas," jawab Erika sambil mengulurkan jempolnya ke arah Jo. Ini kalau Mas Sofyan tahu aku duduk berdua di mobil mewah sama cowok ganteng kayak Mas Jo, iso (bisa) ngamuk dia. Pikir Erika sambil menikmati alunan musik clasic yang diputar oleh sang sopir atas permintaan Jo. Baru saja dipikirkan, Sofyan menelpon. Lelaki berumur dua puluh lima tahun dengan perawakan tinggi besar ini tidak setuju kalau Erika pergi ke Jakarta. Dia sudah ngebet pingin ngajak nikah, tapi Erika menolak karena dia masih mau mengejar cita-citanya untuk jadi seorang penulis terkenal. "Assalamualaikum." Sofyan menyapa duluan. "Walaikumsallam. Iya, Mas Yan. Piye (Gimana)?" tanya Erika singkat. "Kamu masih nekad ke Jakarta to? Kok ndak nurut sama aku to?" Sofyan menegur dengan nada tinggi. "Aku nurut sama ibu, Mas Yan. Wong (orang) ibu ngijinin ya sudah aku berangkat," jawab Erika dengan nada tinggi juga. "Kowe tresno aku opo orak sich, Nduk? (Kamu cinta aku apa enggak sich, Dek?)" tanya Sofyan. "Yo tresno (Ya cinta), tapi kamu juga jangan terus maksa! Kasih aku waktu buat mengejar apa yang aku cita-citain!" "Ya udah kasih alamat kamu di Jakarta! Nanti nek aku sempet aku susulin ke sana." "Iyo mengko (nanti), Mas Yan. Ya udah nanti aku kabari yo. Assalamualaikum." Erika menutup sambungan telepon tanpa menunggu Sofyan membalas salamnya. Erika memasukkan ponsel itu ke dalam saku celana jeansnya. Dia tidak sadar kalau sedari tadi Jo memperhatikannya. "Mas Jo kenapa lihatin aku kayak begitu? Wajahku aneh yo?" "Orang punya mata kok enggak boleh lihat. Aneh kamu!" "Jangan lihat-lihat! Entar jatuh cinta. Haha .... " "Kagak. Mau nikah gue." "Kan baru mau, Mas. Belum terlaksana. Hehehe ...." "Doa yang baik-baiklah, Rik!" "Iya-iya, Mas. Maaf!" Mobil mewah Jo menembus jalanan ibukota yang padat merayap. Apalagi ini jam-jam para pegawai kantoran pulang bekerja, jadi tak heran kalau lalu lintas menjadi ramai seperti sekarang. "Jalannya ramai banget yo, Mas. Aku baru pertama kali lho lihat Monas. Bagus ya, Mas." Erika terus mengoceh mengomentari setiap apa yang baru pertama kali dia lihat. Ini pengalaman baru untuknya. Di Semarang dia sering diajak Shofyan nongkrong di taman Tugu Muda, di sana banyak orang pacaran, ada juga yang sekedar berfoto-foto untuk dijadikan bahan postingan di akun media sosial. Kalau mau yang agak seram dan menantang boleh coba masuk ke Lawang Sewu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN