Hari demi hari berlalu begitu cepat
Meninggalkan kenangan pekat yang mengikat rasa
Gundah, amarah, sepi dan cinta
Bagai angin yang berembus lalu hilang begitu saja
Atau api yang merubah kayu menjadi abu
Tak ada yang tersisa, tidak harapan atau bahkan sekedar kenangan.
Semuanya... Sirna
Besok, 14 Februari
Tahun kesekian Natalie merenung seorang diri. Ia tak mau lagi memaksa inginnya untuk terjadi. Ada banyak hal yang buruk terjadi karena ia memaksakan diri, memiliki yang tak seharusnya punyanya.
Sore itu, ia menatap langit lepas, tanpa sadar bulir bening mengalir turun di pipinya.
" Kau menyesal?" Sapa seseorang yang duduk di sisinya. Natalie tergesa gesa menyeka air mata. Ia berusaha mengulas senyum ke arah Bayu yang tampak duduk di sisinya serasa menyesap secangkir kopi hangat.
" Harusnya kau bisa duduk di sini denganku sore ini dan menikmati kopi hangat ini bersama." Imbuhnya
" Aku pikir dulu kau hanya mendongeng saat mengatakan kau bisa melihat alam lain, bisa berkomunikasi dengan orang yang sudah mati. Ternyata saat ini aku membuktikannya sendiri." Ujar Natalie masih dengan wajah memerah. Ia berusaha tenang, walaupun Bayu tahu dengan jelas, Natalie baru saja menangis.
" Ya, aku selalu mengutuk diriku sendiri karena memiliki kemampuan ini. Tapi sejak 4 tahun yang lalu aku bersyukur karena setidaknya aku bisa bertemu denganmu lagi." Senyum Bayu menimpali
Natalie terdiam, ia menatap Bayu lekat, pemuda itu tidaklah buruk rupa. Ia menawan, memiliki paras yang indah, rambut legam dan bulu mata lentik dipadu dengan hidungnya yang mancung. Ia bisa mendapatkan siapa saja tapi kenapa Natalie tidak pernah bisa jatuh cinta padanya. Sejak kecil, Bayu berada di sisinya, menemaninya dan melakukan apapun untuknya. Kenapa Natalie tidak pernah menyadari betapa Bayu mencintainya? Natalie benar benar bodoh. Ia terus berharap pada arah yang lain, sementara di sisi lain ada jalan terang yang menunggunya.
" Maafkan aku Bayu." Gumamnya pelan
Bayu menoleh, mengernyit melihat Natalie berkaca kaca
" Maaf? Untuk apa?" Tanyanya
" Untuk semua pengorbanan yang telah kau lakukan dan aku sama sekali tidak menghargai itu." Natalie menundukkan wajahnya penuh sesal
Bayu memegang tangan dingin Natalie lembut.
" Besok tanggal 14 kan? Kalau kau mau aku bisa....
Belum selesai Bayu melanjutkan kata katanya, Natalie menoleh ke arah Raka yang tampak melangkah santai di antara mereka.
Terlihat jelas, mata Natalie langsung berbinar melihat kehadiran Crushnya. Hampir saja tadi Bayu mengajak Natalie untuk menemaninya, Bayu bisa menghiburnya. Ia bahkan sudah menyewakan tempat yang begitu indah. Tapi sayangnya, semua itu hanya berasal dari angan angannya saja. Ia terpaksa dan harus melepaskan tangan Natalie untuk kesekian kalinya.
" Raka?" Natalie berdiri, menyambut Raka
Pemuda bermata amber dengan rambut coklat terang itu menghela napas menatap paras Natalie yang manis. Ia terlihat sangat canggung
" Ada apa?" Tanya Natalie lagi
Raka kembali menarik napas panjang, ia lalu menyerahkan sesuatu yang ia sembunyikan di belakang punggungnya sejak tadi, setangkai mawah merah yang membuat Natalie berbunga bunga bahagia.
" Untukku?" Tanyanya girang, apalagi saat Raka mengangguk. Hampir saja Natalie meloncat senang.
" Terima kasih." Ucapnya menerima mawar itu.
" Natalie, tante Renata bilang kau menyukai mawar merah. Jadi aku memetiknya tadi di taman. Dan jika kau ada waktu besok maukah kau menemaniku?" Tanya Raka berusaha tersenyum.
Deg
Apakah ini mimpi?
Seketika Natalie mematung, bagaikan patung es yang beku. Apa ini? Raka mengajaknya menghabiskan malam Valentine bersama seperti impiannya selama ini? Rasanya Natalie hampir mati untuk kedua kalinya. Sulit dipercaya.
" Bagaimana?" Tanya Raka lagi
" Tentu! Aku mau! Aku pasti mau! Ini benar benar kau kan, Raka? Kau tidak sedang kesurupan kan?" Tanya Natalie memberanikan diri
Raka mengulas senyum walaupun tetap terlihat dingin
" Aku tunggu besok ya." Ujarnya to the point kemudian berbalik dan melangkah pergi begitu saja. Benar benar pria kaku, tanpa ekspresi yang anehnya membuat banyak gadis tergila gila.
Natalie mencium bunga mawar itu berkali kali lalu meloncat girang. Ia hampir lupa kalau Bayu masih berada di sana.
Akhirnya, impiannya selangkah lagi terjadi
Natalie bahkan tak peduli, ia sudah mati atau tidak
Ia merasa sangat bahagia
Bahkan untuk hal ini, rasanya Natalie rela mati berkali kali
Melihat kebahagiaan di wajah Natalie, Bayu berdiri dengan hati lapang.
" Selamat ya Na, kau menang." Ucapnya mengulas senyum manis. Benar benar perasaan yang begitu tulus.
" Ini semua juga karenamu, Bay. Terima kasih." Natalie memeluk Bayu erat
" Terima kasih." Ucapnya berkali kali
Andai kau tahu, Na... Rasa cintaku padamu bahkan mungkin cukup untuk membeli dunia dan segala isinya. Tapi tidak cukup membeli hatimu sedikit saja. Hati yang sangat aku puja dan begitu memuja yang lain. Aku tidak berdaya, karena terlanjur cinta ~ Bayuandra
Sementara itu, di lain tempat... Sejak hari itu, Ginjal mengurung dirinya di dalam kamar, ia bahkan tidak pergi ke sekolah dan juga jarang sekali terlihat turun dari kamarnya walau hanya sekedar untuk makan. Ia terus memandang kotak kado berisi ikat rambut berwarna merah itu, bola matanya tak berhenti berair.
" Ginjal!"
Tok tok tok
Entah ke berapa kalinya Renata berusaha mengetuk pintu putranya, tapi tetap saja, Ginjal enggan membuka
" Ginjal, are you okay? Nak... Tak apa kalau kau masih mau menyendiri tapi tolong, minta pelayan menyiapkan makan untukmu ya. Mama haru ke luar kota. Dan mama tidak bisa pergi karena memikirkanmu sayang. Ginjal, kau bisa menelfon pelayan di bawah kan nak?" Tanya Renata cemas
Ginjal menarik napas panjang
" Ginjal?"
" Ya Ma!!" Jawab Ginjal tegas
" Mama pergi dulu ya. Jaga dirimu baik baik dan jika mama menelfon, tolong diangkat!" Perintah Renata
Tak lama kemudian, Ginjal mendengar suara langkah kaki mamanya menjauh.
Pemuda itu kemudian melangkah turun, mengambil sesuatu di laci. Sesuatu yang membuatnya teringat akan kejadian 4 tahun silam.
" Natalie!!!" Teriaknya melihat adik tercintanya terlindas container tepat di depan mata. Ginjal berlari, saat itu itu tidak merasakan apapun selain rasa takut kehilangan. Ia memeluk jasad adiknya, mencoba menutupi pecahan kepalanya, bola mata Natalie bahkan masih terbuka sementara salah satu tangannya terlihat hampir putus begitupula pahanya. Ginjal mencium pipi Natalie, memintanya bertahan walaupun ia tahu saat itu Natalie sudah tiada. Gadis itu menggenggam sebuah kotak berpita merah yang mungkin hendak ia berikan untuk Raka.
" Tolong!!!" Teriak Ginjal saat itu. Ia menggendong tubuh Natalie, mendekapnya erat.
Andai bisa, Ginjal rela menukar hidupnya untuk Natalie. 4 tahun yang lalu Natalie meninggalkan dunia ini, membawa rasa kasih sayang kakaknya yang juga ikut mati setelahnya. Menghidupkan dendam yang membuat Ginjal membenci segalanya.
Dan sekarang, Ginjal memegang erat kotak berpita merah itu. Kotak yang seharusnya Natalie berikan pada Raka hari itu. Ginjal bahkan tidak pernah membuka isinya.
Ia kemudian mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Bayu. Mungkin memang benar, Bayu lebih mengenal adiknya, Ginjal mencoba percaya dengan semua cerita Bayu tentang arwah Natalie. Tapi tetap saja, itu tidak bisa diterima akal.
" Halo, ada apa?" Tanya Ginjal mengernyit di seberang
" Apa aku bisa bertemu denganmu secepatnya?" Tanya Ginjal dengan suara serak.
" Kau sakit?" Tanya Bayu, mendengar suara Ginjal terdengar serak, berat dan berbeda tetap saja membuatnya sedikit khawatir.
" Tidak, aku ingin bertemu denganmu secepatnya." Jawab Ginjal
" Untuk apa?"
" Kalau benar Natalie ada bersamamu, aku ingin menyerahkan sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya." Jawab Ginjal
Bayu terdiam sejenak
" Apa itu?"
" Sebuah kotak terakhir yang Natalie genggam."
Deg
Sejenak suasana menjadi hening, Bayu berpikir mungkinkah itu kotak yang dicari Natalie? Jika memang benar, mungkin ini kesempatan agar Natalie bisa beristirahat dengan tenang
" Bisa kita bertemu?" Tanya Ginjal lagi
" Ya, besok siang temui aku di taman tempat biasa kita nongkrong dulu." Ujar Bayu akhirnya
" Kenapa kau tidak memberikan alamatmu saat ini saja, aku bisa ke sana."
" Tidak, kita bertemu di taman." Pinta Bayu kemudian menutup telfon dari Ginjal
Pemuda itu kemudian melirik ke arah Natalie yang tampak duduk di dalam ruangan sembari menciumi mawar dari Raka tadi. Apakah ini detik detik terakhir ia bisa melihat Nananya sebelum akhirnya arwah Natalie pergi dengan tenang?
Bayu bahkan tidak bisa tidur menantikan hari esok. Sepertinya akan banyak hal besar yang terjadi.
Di kediaman Aditira, Ginjal juga tak bisa memejamkan mata, ia berjalan ke kamar Natalie, menatap foto adiknya lekat
" Andai aku bisa melihatmu lagi, Na. Kakak sangat merindukanmu. Kakak bahkan rela menukar hidup kakak hanya untuk bisa melihatmu lagi." Ujarnya bersamaan dengan guntur yang menggelegar di langit lepas. Terdengar mengerikan. Ginjal membuka jendela, langit tampak gelap dengan hujan rintik yang menebar hawa dingin. Ia melihat ada pelangi yang bersinar di tengah hujan
Ginjal mengernyit
Ia teringat akan kata kata mamanya saat kecil dulu.
" Kalau kalian melihat ada pelangi di malam hari dan disaat tengah hujan lebat, lalu kalian mengucapkan doa. Semua permintaan kalian akan terkabul."
" Beneran ma?" Tanya Natalie berbinar binar kala itu
" Percaya saja! Dasar bocil!" Ginjal mentoyor kepala adiknya
" Ish kakak nakal sih!" Celetuk Natalie mengembungkan pipinya lucu
" Sudah sudah, ayo tidur! Ini sudah malam." Ajak Renata
Ginjal tak pernah menemukan ada pelangi ditengah hujam malam hari seumur hidupnya kecuali malam itu. Akankah apa yang ia ucapkan menjadi kenyataan? Pemuda itu kemudian menutup kembali jendelanya dan kembali ke kamar. Hingga esok hari tiba...
" Tuan muda mau ke mana?" Tanya pelayan menyapanya. Ginjal terlihat begitu rapi dengan jaket kulit dan membawa helm kesayangannya.
" Ke luar sebentar, mana kunci motor saya!" Pintanya.
Ia tidak tahu bahwa Natalie berada di sana sejak tadi pagi dengan wajah bahagia. Gadis itu terlihat begitu cantik, ia ingin sekali memberi tahu Ginjal bahwa hari ini impiannya akan terwujud, Raka mengajaknya makan malam. Maka dari itu, ia mengikuti Ginjal, Natalie tidak tahu, Ginjal membawa kotak kado miliknya di dalam saku. Gadis itu bahkan duduk di boncengan motor kakaknya
" Kakak mau ke mana? Aku ikut ya." Bisiknya seakan Ginjal bisa mendengarnya
Pemuda itu kemudian menyalakan motornya dan melaju cepat
" Kak pelan pelan saja. Aku sudah mati saja masih merasa takut. Kak... Pelankan motornya." Pinta Natalie khawatir
Entah apa yang Ginjal pikirkan, ia mengendarai motor itu dengan kecepatan tinggi.
Hingga....
~ Andai kakak bisa melihatmu sekali saja, Na. Kakak rela menukar hidup kakak ~ Ginjal
" Kakak....!!!" Teriak Natalie
Saat itulah, Ginjal seakan melihat bayangan Natalie dari kaca spion. Bola matanya membundar kaget. Dan....
Bruak
Motor itu jatuh terbanting, terseret beberapa meter usai menghantam kuat sebuah mobil di depannya.
Ya, Kakak rela menukar hidup kakak, Na
Kakak sangat merindukanmu
Sangat