" Apa kau sudah gila? Berani mengotori lantaiku dengan darah seperti itu?" Teriak seorang pria dari atas tangga, pria mengenakan setelan suit yang terlihat mahal itu tampak menahan emosi.
" Di mana Bayuandra paman? Aku ingin bicara dengannya!" Tekan Ginjal tidak ada rasa takut sama sekali. Padahal di sekelilingnya sudah banyak pelayan yang siaga, satpam dan juga pengawal bertubuh besar yang biasa mengikuti Baskara ke mana mana. Ginjal memang seorang kakak yang berpendirian teguh, berani dan nekat.
" Pulanglah Gie. Aku akan memberi tahu Bayu supaya datang ke rumahmu nanti!" Perintah Baskara
" Tidak sebelum bertemu dengannya! Dia sengaja menghindar bukan? Tidak mungkin paman tidak tahu di mana Bayu!" Tegas Ginjal
" Pulang atau aku akan menelfon polisi untuk datang. Kau harus mengobati luka di lenganmu itu!"
" Tidak akan! Saya akan mati di sini kalau Bayu tidak juga datang!" Ancam Ginjal kembali menyiapkan belati tajam di atas lengannya.
" Saya tidak main main paman." Tekannya dengan sorot mata menajam. Tentu, Ginjal tidak akan main main, ia bahkan datang dengan luka menganga di tangan.
" Aku di sini, Ginjal!" Celetuk Bayu berdiri di ambang pintu dengan tenangnya. Ia menggelengkan kepala melihat ceceran darah ada di mana mana.
Kletak
Belati di tangan Ginjal terlepas melihat kedatangan Bayu. Wajahnya memucat, dan ia melangkah lunglai ke hadapan Bayu yang berdiri tegap di sana
" Aku ingin bicara denganmu, dan ini sangat penting." Ujarnya, terdengar jelas suara Ginjal gemetar.
" Ikut ke kamarku! Pelayan! Minta dokter datang secepat mungkin." Perintah Bayu kemudian mengawali langkah masuk ke dalam. Ginjal pun mengikuti
Bayu benar benar terlihat seperti seorang tuan muda saat berada di rumahnya sendiri. Dalam sekejap, dokter keluarga mereka datang untuk memeriksa dan mengobati Ginjal yang hanya mematung di kamar mantan sahabatnya itu.
" Apa yang membuatmu datang? Sudah 4 tahun dan kau bertingkah segila ini saat kembali?" Tanya Bayu menatap Ginjal tenang. Ginjal menatap ke sekitar, ia seperti memastikan tak ada seorangpun yang mendengar.
" Tinggalkan kami berdua!" Perintah Bayu tegas. Beberapa pelayan yang berjaga seketika menunduk hormat kemudian beranjak pergi sesuai perintah.
" Ada apa?" Tanyanya lagi pada Ginjal
Sosok di depannya itu menghela napas panjang, dengan mata memerah ia mengangkat wajahnya.
" Mama bilang semalam... Raka datang ke rumah." Ujarnya membuka suara.
" Lalu?" Bayu masih menyikapinya dengan tenang. Seakan tak mengerti ke mana arah pembicaraan itu.
" Beberapa minggu yang lalu, ada kebakaran di tempat Raka, dan aku yakin... Raka..." Ginjal menghentikan ucapannya
Bayu mengernyit
" Kenapa Raka?" Tanyanya memancing
" Aku dengar bahwa tidak ada yang selamat di sana." Tutur Ginjal akhirnya
Mendengar hal itu, Bayu mengulas senyum. Ia berdiri, memeriksa tas yang tadi ia bawa lalu menunjukkan sesuatu ke hadapan Ginjal. Sesuatu yang membuat Ginjal terkesiap, seakan seluruh darah dalam tubuhnya terhisap habis
Ia pucat
Bayu menunjukkan korek api itu.
" Kau mendengar tidak ada yang selamat, atau kau memastikannya sendiri ke sana?" Senyum Bayu
Ginjal berdiri dari duduknya
" Apa maksudmu?" Tekannya dengan urat leher menegang
" Kita pernah berteman dari kecil kan Gie, korek ini... Pemberian Natasya padamu saat ulang tahunmu yang ke 17 kan?" Tebak Bayu
" Jangan membual! Itu bukan milikku!" Elak Ginjal
" Apakah kematian Natalie juga membunuh hatimu? Kau banyak melakukan kejahatan karena berpikir semuanya menjadi penyebab kepergian Nana. Tapi itu hanya anggapanmu saja! Yang sebenarnya terjadi adalah .. kau menyalahkan dirimu sendiri dan melampiaskan amarahmu pada semua orang. Membuatmu menjadi tokoh antagonis yang sebenarnya. Membully Raka, membakar rumahnya, menjauhi dan memfitnah diriku! Kau bahkan berbuat jahat pada dirimu sendiri. Apa kau pikir semua itu bisa membuat Nana kembali? Apa kau pikir Nana akan senang melihat tingkahmu sekarang?" Bayu memerah, urat lehernya menegang, sorot matanya menajam.
" Aku tidak membakar rumah siapapun!" Tolak Ginjal
" Lalu untuk apa kau datang ke mari? Kenapa kau terlihat ketakutan jika memang bukan kau yang membakarnya?" Pertanyaan Bayu benar benar membuat Ginjal mati kutu. Sejak dulu, analisis Bayu memang selalu kritis, ia begitu cerdas dan terampil, entah apa yang membuatnya memilih untuk menjadi siswa terkenal bodoh yang tak kunjung naik kelas. Cinta terkadang membuat seseorang terlihat gila
" Aku hanya ingin memastikan, apa benar Raka datang ke rumah. Jika itu benar, artinya pemuda itu baik baik saja."
" Lalu kenapa kalau Raka baik baik saja? Kau ingin dia mati seperti Natalie agar dendammu terselesaikan?" Senyum Bayu sinis
" Ya! Aku sangat membencinya! Dia adalah penyebab kepergian Natalie, anak miskin yang sok!" Jawab Ginjal akhirnya
Mendengar hal itu, Bayu tersenyum, memalingkan wajah dan terlihat muak
" Kalau kau mau membenci seseorang, bencilah dirimu sendiri. Harusnya kau bisa menjaga Nana tapi kau justru teledor. Kau bisa mencegah kematiannya tapi kau lemah! Apa kau pikir membully Raka akan membuat Natalie senang? Kau pikir kematian Raka akan membuatmu jadi pahlawan. Ingat Gie, Natalie sudah Mati! Tidak ada hal apapun yang bisa mengubah hal itu!" Tekan Bayu memegang kerah kemeja Ginjal dengan tatapan tajam
Rahang Ginjal mengeras, giginya merapat. Kata kata Bayu membuat emosinya meluap. Lalu....
Bug
Sebuah tinjuan melayang, membuat Bayu tertawa menyesap darah yang langsung menguar dari sudut bibirnya.
" Natalie tidak mati! Dia hidup di hatiku dan akan aku balaskan semua dendamnya ke pada mereka yang telah membuat adikku menderita." Tunjuknya
" ITU BUKAN DENDAM NATALIE! ITU DENDAMMU SENDIRI! Kau merasa kalah dari Raka bukan? Adikmu sangat mencintainya dan Natasya juga."
" Jangan membentakku!"
Mereka saling berhadapan, menyimpan amarahnya masing masing. Dengan napas memburu dan wajah memerah menahan amarah
" Jangan membentakku!" Ulang Ginjal lagi
Bayu mengulas senyum sinis
" Kenapa? Kau takut ada yang mendengar bahwa kau pelaku kebakaran itu?" Sindir Bayu
" Aku rasa tidak ada gunanya bicara denganmu! Aku akan mencari tahu sendiri di mana Raka sekarang dan memberinya pelajaran yang tak akan mungkin bisa ia lupakan seumur hidupnya!" Ancam Ginjal dengan mimik wajah serius. Ia kemudian hendak beranjak ke arah pintu... Tapi...
" Kau membuat Natalie sedih, Ginjal." Ujar Bayu
Ginjal merapatkan rahangnya
" Kau membuatnya terluka, tidak hanya saat ia masih hidup tapi juga setelah dia mati." Tutur Bayu.
Ginjal tersenyum sinis, ia menoleh ke arah mantan sahabatnya itu
" Kau mungkin bisa mengatakan hal konyol begini pada Mama. Tapi tidak padaku. Kau pikir aku percaya?" Ujarnya merendahkan
" Aku tidak memintamu untuk percaya. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Natalie saat ini sedang menangis karena kakaknya berubah menjadi monster." Balas Bayu dengan mata berkaca kaca.
Ginjal mungkin tidak bisa melihat Natalie, tapi Bayu bisa melihatnya dengan jelas. Natalie mengikuti Ginjal, ia berada di ruangan itu, menangis sedih tapi tidak ada yang mendengar tangisannya selain Bayu.
" Kalau Natalie memanga ada. Harusnya aku bisa melihatnya! Aku, kakaknya. Dan kau bukan siapa siapa. Kau pikir dia akan datang padamu? Kau bilang aku gila bukan? Sepertinya kau yang harus memeriksakan dirimu ke rumah sakit jiwa!" Ujar Ginjal penuh kebencian
" Kau mau tahu kenapa aku bisa melihatnya sedangkan kau tidak?" Bayu berusaha menenangkan dirinya, ia melangkah tegap ke hadapan Ginjal.
" Karena kau egois, kau tidak percaya padanya. Kau tidak mau mengerti apa yang ia mau. Sementara aku, aku berusaha dekat dengan keinginannya, dekat dengan kebahagiannya. Itu yang membuatmu berbeda denganku. Jika kau bisa membunuh seseorang demi kepuasan amarahmu, menyalahkan segalanya karena kedengkian di hatimu. Aku memilih merelakan segala yang aku punya hanya demi membuat dia bahagia." Tutur Bayu
" Bul s**t!" Ujar Ginjal penuh penekanan
" 12:30 selasa di taman Aragon. Kau memberikan ini pada Natalie di ulang tahunnya yang ke 10 bukan? Tak ada siapapun di sana. Hanya kau dan Natalie."
Deg
Ekspresi tengil Ginjal seketika berubah. Senyum licik dan jahat di wajahnya berganti mimik wajah pucat dan kaget. Bagaimana tidak, Bayu membuka kepalan tangannya dan menunjukkan sebuah kotak kecil, penuh dengan tanah, di dalamnya ada ikat rambut berwarna merah. Warna kesukaan Natalie. Bagaimana kotak itu bisa berada di tangan Bayu?
" Kau dan Natalie mengubur kotak ini di dekat bangku taman, di bawah pohon beringin di sana. Dan kalian berjanji akan membukanya di ulang tahun Natalie yang ke 17 bukan?" Senyum Bayu getir
" Kenapa ini ada padamu?" Suara Ginjal terdengar gemetar, bola matanya berkaca kaca
" Natalie memintaku mengambilnya dan mengembalikannya padamu. Karena hanya dengan ini dia yakin kau akan percaya bahwa dia masih ada di sekitar kalian." Jawab Bayu.
Ginjal gemetar mencoba menyentuh pita merah itu
Air matanya terlihat jelas meluncur turun, bersamaan dengan ingatan yang kembali tergampar beberapa tahun silam. Saat ia dan Natalie berada di taman.
" Kakak punya hadiah untukmu." Tuturnya saat itu
" Apa? Apa?" Tanya Natalie kecil kegirangan
" Taraaaa!!!!" Ginjal menyerahkan sebuah kotak ke hadapan Natalie
" Apa ini kak?" Tanya Natalie gemas. Ia membuka kotak itu, matanya langsung berbinar binar.
" Kakak memperhatikanmu begitu menyukai ikat rambut ini saat menonton Drama korea kesukaanmu. Jadi kakak memesannya langsung."
" Kakak terbaik! Kakak adalah pria terbaik yang ada di seluruh dunia. Aku sangat menyayangimu kak. Terima kasih terima kasih terima kasih." Natalie meloncat kegirangan. Tapi kemudian... Senyum di wajah cerianya surut. Ia cemberut menatap ikat rambut itu
" Ada apa? Kau tidak menyukainya?" Tanya Ginjal
Gadis kecil itu menggeleng pelan
" Ikat rambut ini untuk orang dewasa kan. Sedangkan rambutku pendek dan tipis. Ini tidak akan bagus jika aku yang memakainya." Ujar Natalie menghembuskan napasnya kesal
Ginjal berpikir sejenak, ia kemudian mengulas senyum
" Bagaimana kalau kita melakukan apa yang dilakukan orang orang di film." Ajaknya
" Apa?" Tanya Natalie mengernyit
" Kita kuburkan kotak ini. Nanti setelah kau dewasa dan rambutmu panjang, kita ambil lagi. Kakak akan memakaikannya padamu." Usul Ginjal
Mendengar Hal itu, Natalie berbinar binar
" Ide yang bagus. Di usiaku yang ke 17 ya kak." Ujarnya
" Iya, sayang." Ujar Ginjal mengusap rambut adiknya penuh kasih sayang
Merekapun menguburkan kotak itu di taman
Kenangan itu... Membuat Ginjal terduduk di lantai, menangis sedih. Natalie tidak pernah berusia 17 tahun dan ia tidak pernah mengingat kotak itu lagi.
Benarkah? Natalie ada di sana?
Bersambung