Darah di Atas Marmer

1805 Kata
Ginjal menghentikan langkahnya di halaman rumah. Ia kembali saat dinihari, keningnya mengernyit melihat rumah yang biasanya gelap gulita itu terlihat terang. Semua lampu menyala dan beberapa pelayan lalu lalang membereskan pekarangan " Selamat datang tuan muda." Sapa mereka ramah Ginjal mengucek matanya beberapa kali " Jam segini? Ada apa?" Gumam pemuda berambut curly yang diikat satu ke belakang itu menatap arloji di lengannya. Benar, masih jam 2 malam. Apakah mamanya salah makan obat hingga memanggil pelayan sepagi itu? Ginjal bergegas masuk, agak sempoyongan karena sepertinya baru saja masuk " Hai Gie." Sapa Renata mengulas senyum lebar, semakin membuat pemuda itu mengernyit. " Ada apa ini?" Renata melangkah ke hadapan putranya, memegang pundak Ginjal kemudian mengulas senyum lembut. " Nana benar, semua keyakinannya benar." Ujarnya semakin membuat Ginjal tidak mengerti " Benar?" Ia mengernyit " Iya, coba tebak, siapa yang datang kemari?" " Siapa?" Ginjal mengulas senyum melihat kegembiraan yang sudah bertahun tahun hilang dari wajah ibunya. " Raka." Jawab Renata dengan senyum lebar Tapi.... Seketika senyum di wajah Ginjal surut, wajahnya memucat dan keningnya berkerut " Raka?" Tanyanya seakan tak percaya " Iya, Raka!" Jawab Renata " Mama yakin? Raka Kenziera? Mama sudah memastikan? Apakah wajahnya sama seperti yang ada di foto foto Nana?" Sekarang giliran Renata yang mengernyit, kenapa putranya terlihat begitu heran? " Iya, Raka. Ternyata keyakinan Natalie benar. Raka datang ke sini, dia meminta maaf. Dia tidak salah Gie. Dia anak yang baik, sopan dan sekarang mama mengerti kenapa adikmu begitu memujanya." Tutur Renata. Tapi Ginjal masih terdiam " Gie?" " Kau baik baik saja?" Tanya Renata cemas. " A...aku ke kamar dulu." Tutur Ginjal gugup. Ia kemudian berlari ke arah kamarnya dan mengunci pintunya rapat. " Ada apa dengannya? Apakah berita ini terlalu mengejutkan?" Gumam Renata heran Di dalam sana, Ginjal mengatur napas, keringat dingin membasahi keningnya. Tangannya gemetar mencoba merogoh ponselnya, " Ini tidak mungkin! Tidak mungkin!" Ujarnya getir sembari mencari cari nomor telfon seseorang yang sudah lama ia lupakan, Bayu. Pemuda itu melangkah ke sana ke mari mencoba menghubungi Bayu, tapi tidak ada respon. " Angkat b*****h, apakah kau masih marah?" Gerutunya berkali kali menelfon nomer itu. " Sialaaan!!!" Ginjal membanting ponselnya ke lantai, ia kemudian duduk di sisi ranjang dan mengusap rambutnya frustasi. Wajahnya memerah, terlihat seperti ketakutan Sementara itu... Di sana ... Bayu mengulas senyum memperhatikan ada beberapa panggilan masuk dari Ginjal, sahabat lamanya. Sepertinya ia sengaja tidak merespon panggilan itu. Bayu justru mematikan dering ponselnya dan meletakkannya di laci. Ia melentangkan tubuhnya santai di ranjang dan mematikan lampu tidur yang sejak tadi menyala " Tuan, kenapa anda tidak mengangkat panggilan dari tuan Ginjal?" Tanya Pak Toni yang berdiri di sisi ranjangnya " Biarkan saja pak, sesekali dia harus diabaikan agar mengerti rasanya bingung sendirian. Lagipula saya lelah, saya harus istirahat, jika saya mengangkat panggilan itu, saya yakin dia tidak akan membiarkan saya tidur malam ini. Malam ini sangat indah, Natalie tersenyum untuk pertama kalinya. Jadi saya tidak ingin merusaknya." Jawab Bayu kemudian memejamkan mata Pak Toni mengulas senyum, menunduk hormat kemudian melangkah ke luar kamar. Dia terlihat begitu setia pada Bayu Tapi memang benar, seandainya Bayu mengangkat telfon itu, mungkin Ginjal akan merepotkannya. Seperginya Pak Toni, Bayu kembali membuka mata di balik gelap, ia menatap langit langit kamar kemudian menghembuskan napas berat " Mungkin Ginjal sudah menyadarinya, dia tidak boleh merusak kebahagiaan Natalie." Gumamnya. Apa maksud ucapannya? ---***---- Pagi menjelang, di kediaman Aditira, Renata tampak sibuk menyiapkan sarapan. Saat Ginjal ke luar kamar dengan seragamnya, ia mengernyit melihat ada kue keju dengan toping coklat di atas meja. Untuk pertama kalinya setelah 4 tahun, ia kembali melihat roti kesukaan Natalie itu. " Ginjal, ayo makan dulu!" Ajak Renata Ginjal menatap ibunya itu tajam, ada lingkar panda di matanya, itu artinya Ginjal sama sekali tidak bisa tidur " Apa apaan ini, ma?" Tanyanya dingin " Mama yakin, Natalie sudah bahagia di sana. Impiannya terwujud dan mama sadar, dia akan sedih kalau kita terus berduka. Jadi mama memutuskan untuk membuka hati dan menerima segalanya." Jawab Renata teduh " Menerima?" Ginjal terlihat mengatur napas, ia memerah " Iya Gie, dan kamu juga harus belajar mengerti bahwa tak semua yang kita sayangi harus terus berada di sisi kita nak." Renata memegang pundak Ginjal. Tapi .. Ginjal menepisnya Dan .... Brak Ia melempar roti itu ke lantai, matanya berkaca kaca " Mama boleh menerima kematian Natalie tapi tidak denganku. Sampai kapanpun, aku tidak akan terima! Mama bisa dengan mudah menerima semua itu karena mama tidak melihat sendiri bagaimana Natalie meregang nyawa." Tekan Ginjal marah " Gie... " Dia mati di depan mataku ma! Dan mama memintaku menerima semua itu hanya karena Raka datang ke rumah ini satu kali? Mama sama gilanya dengan Nana! Apa hebatnya dia? Perlu mama tahu, sampai matipun aku tidak akan melupakan Natalie. Tidak akan pernah!" Bentak Ginjal kemudian berlari ke luar rumah seraya menyeka air matanya. Ginjal tidak tahu, Natalie berada di sana. Gadis itu meneteskan air mata melihat hidup kakaknya yang hancur, penuh dendam dan kebencian. " Kak." Gumamnya melepas Ginjal yang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi Renata terduduk lemas di kursi, ia terlihat begitu sedih, menangis memegang dadanya yang terasa sesak. " Kenapa kau tidak mengerti Gie, mama tidak ingin kita terus berduka. Natalie pasti sedih kalau kita terus begini." Ujarnya memijit kepalanya. " Kakak!!!" Teriak Natalie berusaha mengejar Ginjal, ia merasa begitu cemas dengan kondisi kakaknya. Sementara itu, di kediaman Hendrawan... Raka tak melihat ayahnya di kamar. Ia mencari ke sana ke mari dan menemukan Abimanyu berdiri di taman belakang. " Ayah?" Tanyanya hendak mendekat. Tapi rupanya, Abimanyu tengah bersama dengan Bayu yang berdiri di sisinya. " Paman, ada Raka." Ucapnya memberi tahu. Abimanyu mengernyit, ia menoleh, menatap Raka seakan tidak mengenalnya. " Ayah, apakah kau baik baik saja?" Tanya pemuda itu mencoba memegang lengan ayahnya. Tapi, Abimanyu langsunh menarik tangannya. " Tidak! Raka sudah mati! Raka sudah mati! Dia bukan Raka. Bukan!" Teriaknya mulai ketakutan " Paman tenanglah, ini Raka, putra paman. Coba lihat dengan baik." Pinta Bayu. Tapi tetap saja, Abimanyu memalingkan wajahnya, enggan melihat Raka " Di mana gadis itu?" Tanya Abimanyu " Natalie?" Raka mengernyit. Benar, Raka tidak melihat hantu cantik itu sejak pagi " Natalie pergi menemui keluarganya. Paman, saya harus ke sekolah bersama Raka, paman saya tinggal dengan suster ya." Tutur Bayu " Raka?" Abimanyu mengernyit " Iya, Raka. Di depan paman." Tunjuk Bayu. Abimanyu melirik ke arah Raka. Kali ini ekspresinya berubah, ia mengulas senyum, memegang wajah putranya " Raka sudah sarapan? Jangan sampai sakit perut ya nak? Ayah punya uang saku." Ujarnya kali ini memperlakukan Raka seperti anak berusia 8 tahun. " Ini!" Ia menyerahkan sesuatu yang ia ambil dari sakunya, sesuatu yang kosong. Raka mengulas senyum, berpura pura mengambil sesuatu itu " Terima kasih ayah." Ucapnya berkaca kaca " Ayah sayang sama Raka." Abimanyu kemudian memeluk Raka. Ya, seperti itulah. Terkadang, Abimanyu lupa siapa anaknya, terkadang ia menganggap Raka seperti anak kecil. Tapi walau bagaimanapun, Raka sangat menyayangi ayahnya, karena hanya Abimanyu yang ia punya selama ini. Usai berpamitan, Raka dan Bayu melangkah ke luar. Suasana diantara mereka agak sedikit canggung usai pemukulan kemarin. " Mau ikut mobilku?" Tanya Bayu menawarkan " Tidak, lebih baik aku jalan kaki saja." Tolak Raka Bayu menghela napas panjang " Tadi kau mencariku kan?" Tanyanya mencoba mencairkan suasana Raka menghentikan langkahnya. Ia menatap Bayu dengan seksama. Dari ujung rambut sampai ujung kaki " Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Bayu mengernyit " Kau manusia kan?" Tanya Raka membuat pemuda itu mengulas senyum ia mengerti, Raka pasti bingung karena selama ini yang ia temui ternyata hantu. " Ya, aku masih hidup. Masih bernapas dan masih menapak tanah." Jawab Bayu agak bercanda " Aku serius Bayu. Sekarang aku bingung untuk membedakan mana yang manusia mana yang bukan. Setelah kebakaran itu, hidupku menjadi aneh." Celetuk Raka Bayu terdiam, senyum di wajahnya surut " Ya, aku mengerti. Aku juga merasakan hal yang sama setelah kecelakaan dulu. Tapi aku memang manusia Raka." " Natalie, Nicki. Semuanya terlihat seperti manusia, mereka juga menapak tanah. Aku hanya tidak ingin menjadi gila dengan keadaan ini." Celetuk Raka menatap ke langit lepas Bayu mengangguk mengerti, ia kemudian mengambil Cutter dari tasnya dan melukai sedikit ibu jarinya di hadapan Raka, darah segar terlihat menetes dari sana. " Lihat, aku masih berdarah." Ujarnya membuat Raka mengambil napas panjang, ia merasa lega. " Satu pertanyaan lagi." " Apa?" Bayu meletakkan kembali Cutternya " Kenapa kau memukulku kemarin? Dan kenapa kau merahasiakan tentang Natalie? Aku yakin kau tahu karena keluarga kalian berhubungan baik." Raka mengernyitkan keningnya " Itu dua pertanyaan, bukan satu." Senyum Bayu getir. Ia terlihat salah tingkah mendengar pertanyaan itu, apa yang harus ia jawab? Ia akan terlihat menyedihkan jika tahu bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. " Jawab saja!" Tekan Raka " Baiklah. Aku sudah menganggap Natalie seperti adikku sendiri. Dan memang, aku menunggu untuk bertemu lagi dengannya. Kemarin, aku melihatmu menolaknya lagi. Aku marah dan lepas kendali, jadi maaf, jika pukulanku agak sedikit keras." Jawabnya berdalih. Raka mengernyit " Kau berkata jujur?" Tanya Raka seakan curiga " Ya, untuk apa aku berbohong. Aku merahasiakan tentant Natalie karena jika aku membuka suara, kau akan menjauhinya bukan?" Bayu ber alibi. Tapi sepertinya Raka bisa menangkap raut aneh di wajah Bayu. " Ayo kita berangkat saja! Aku takut kita terlambat." Ajak Bayu mencoba mengalihkan suasana. Tapi.... " Kau menyukai Natalie?" Deg Langkah Bayu terhenti, wajahnya memerah mendengar pertanyaan itu. " Aku benar kan?" Tebak Raka memicing Bayu menghela napas panjang " Kau begitu mencintainya karena itu kau rela menunggu bertahun tahun di sekolah itu hanya demi bertemu dengan Natalie." Imbuh Raka " Jika itu benar, lalu kenapa?" Senyum Bayu akhirnya. Matanya terlihat berair Raka terdiam, situasi mereka saat ini seakan serba salah " Kalaupun kau tahu aku menyukai Nana, lalu apa yang akan berubah? Dia tidak pernah mencintaiku. Sejak awal dia hanya melihat ke arahmu dan aku hanya mementingkan kabahagiaannya. Lalu kenapa? Apa ada yang salah?" Tanyanya berkaca kaca " Tidak, aku hanya..." " Tolong, bahagiakan dia." Pinta Bayu memegang pundak Raka " Kau gila?" " Jika hanya dengan menjadi gila membuatnya bahagia maka anggap saja begitu. Sekarang, kau sudah tahu alasanku bukan? Aku harap kau tidak akan pernah menyakiti Natalie lagi, karena jika itu terjadi, aku mungkin bisa melenyapkanmu, Raka." Ancam Bayu serius Sejenak suasana diantara mereka menegang. Hingga... Tiba tiba Pak Toni datang membawakan ponsel milik Bayu yang tertinggal di laci " Ada yang menelfon tuan!" Ujarnya " Ginjal?" Tebak Bayu " Tidak, ini tuan Baskara, ayah anda!" Mendengar nama itu, Bayu lekas mengangkat ponselnya. Tidak biasanya, ayahnya menelfon. " Halo! Ayah?" Tanyanya dengan alis bertaut " Bayuandra kau di mana? Ginjal datang mencarimu ke sini." Tanya Ayahnya dari seberang sana " Katakan saja aku tidak akan pulang." Bayu hendak mematikan ponselnya. Sebelum.... " Dia melukai dirinya sendiri! Sebaiknya kau pulang!" Tekan ayahnya. Benar saja, darah segar terlihat menetes di lantai marmer sebuah rumah mewah, kediaman Baskara Apa yang Ginjal lakukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN