Yang Telah Pergi

1554 Kata
Malam itu, udara terasa begitu dingin. Renata ( mama Natalie ) masih berdiri di kamar putrinya, menatap potret cantik Natalie di dinding, ia begitu cantik dan hanya kecantikan itu yang bisa dikenang. Jam berdenting 10 kali, tapi kantuk tidak juga menghampiri. Kata kata Bayu tadi terus membayangi benaknya, benarkah Natalie ada di sana? Jauh dalam lamunnya... Ting tong Terdengar suara bel berdenting. Awalnya, Renata mengabaikan suara bel itu, mungkin ini hanya suara dalam khayalnya saja. Tapi ... Ting tong Bunyi bel kembali terdengar. Wanita itupun melangkah ke luar dari kamar Natalie dan berjalan menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Semua pelayan sudah pulang dan cahaya lampu juga sudah redup. Hanya begitulah cara Renata diam dalam kesendiriannya selama 4 tahun ini, Ginjal tak pernah berada di rumah saat malam hari, ia sibuk menghibur dirinya di luar sana. Setibanya di ambang pintu... Entah kenapa jantung Renata berdegup kencang, ia ragu membukanya. Wanita itu menghembuskan napas berat, meyakinkan diri, kemudian memutar kunci dan membuka kenop pintu pelan. Suatu saat... Dia akan tahu siapa aku kak Dia akan tahu dimana rumahku Dia akan tahu bagaimana aku mencintainya Suatu saat ... Dan aku akan terus menunggu ( Natalie ) Air mata Renata seketika meluncur turun, potret yang selama ini hanya ia lihat terhias di kamar putrinya, tergambar jelas di dalam cahaya mata Natalie selama bertahun tahun, kini berdiri tepat di hadapan Renata. Ya, Raka benar benar datang ke sana untuk pertama kalinya. Sepertinya yang diyakini Natalie. " Selamat malam, tante." Ucapnya begitu sopan walau tanpa ekspresi. " Ma... Malam. Silahkan masuk!" Ujar Renata, ia bahkan tak tahu harus memulai kata dari mana. Raka pun melangkah masuk ke dalam rumah Natalie. Dari mana Raka tahu tentang rumah itu? Apakah ia sudah mengetahui semuanya? Pemuda itu duduk di sofa ruang tamu yang dipersilahkan Renata. Menatap ke sekitar yang tampak gelap, sepi dan senyap. Rumah semegah dan sebesar itu seakan tenggelam dalam duka. Tatapan Raka terarah ke dinding, tampak foto Natalie dan Ginjal yang tertawa lepas di sana. Renata menatap Raka getir, kini ia mengerti mengapa putrinya begitu memuja sosok itu. Raka terlihat berbeda, ia tak terlihat seperti pemuda pada umumnya, aura dingin yang terpancar, sikapnya yang sopan dan terlihat tenang, wajah tampannya dan tatapan matanya yang begitu sendu. Dia terlihat sempurna sebagai seorang pria. Sudah pasti siapapun yang melihatnya akan terpesona. Ya, sekarang Renata mengerti mengapa putrinya rela menunggu selama itu. " Itu Nana." Tunjuk Renata berkaca kaca Raka menghela napas, sepertinya ia mengerti. " Apakah Natalie benar sudah meninggal 4 tahun yang lalu?" Tanya Raka pucat Renata mengangguk pelan " Jika boleh tahu, kenapa?" Tanya Raka Sepertinya pemuda itu tidak tahu apapun. Ia pergi ke rumah itu setelah membaca koran dari pak Toni tadi. Membaca artikel tentang sosok wanita yang kini berdiri di depannya, sosok ibu dengan 2 orang anak, anak pertama bernama Ginjal Aditira dan anak keduanya bernama Renata Aditira. Gadis manis yang meninggal 4 tahun lalu akibat kecelakaan di depan SMUnya. Nama Natalie membuat Raka penasaran, apakah itu berarti Natalie yang ia kenal atau bukan? Karena itu, Raka memutuskan pergi ke rumah Aditira dan mencari tahu sendiri. Siapa Natalie dan siapa Bayu sebenarnya? Raka sedikit kaget saat melihat foto di dinding. Ternyata memang benar, itu Natalie yang ia kenal. Jika Natalie sudah meninggal, Kenapa Natalie mengikutinya? " Kau benar benar tidak tahu tentang putriku?" Tanya Renata sedih. Cukup membuat hatinya tercubit mengingat betapa Natalie memuja Raka tapi Raka justru sama sekali tidak tahu tentangnya, tapi ini bukan salah Raka, karena ia tidak pernah meminta Natalie untuk mencintainya diam diam. Raka menggeleng pelan " Kau bisa ikut dengan tante. Ayo! Ada yang harus tante tunjukkan." Ajak Renata kemudian berdiri. Raka pun mengikuti Renata ke arah tangga, menyusurinya walaupun masih bingung. Renata memasuki sebuah kamar yang masih dibiarkan terbuka, Kamar Natalie " Masuklah!" Pintanya pada Raka. Dan saat Raka melangkah masuk.... Deg Pemuda itu hampir terhuyung melihat apa yang ada di kamar Natalie. Walaupun banyak foto yang dibakar Ginjal, di sana masih penuh dengan sisa fotonya. Begitu banyak, hingga membuat Raka gemetar melihat itu. Tanpa mendengar apapun, kondisi kamar itu menggambarkan betapa pemiliknya memuja Raka. Lagi lagi, seorang gadis yang begitu mencintainya harus meregang nyawa. Apakah ini alasan kenapa Natalie mengikutinya? " Dia jatuh cinta padamu, bahkan tergila gila padamu, Raka. Mengikutimu seperti bayangan yang selalu ada walaupun tidak terlihat. Hari itu, Nana ingin mengungkapkan isi hatinya padamu, tapi naas, ia meninggal karena kecelakaan. Natalie memiliki sebuah impian sederhana, ia ingin sekali menghabiskan malam denganmu, makan malam romantis dengan cinta pertamanya yang tak pernah terlaksana. Tapi ini bukan salahmu, Nak. Harusnya kami bisa menjaga Natalie, harusnya kami bisa menasehatinya. Tapi kami diam, dan rasa cintanya pada akhirnya merenggut hidupnya." Cerita Renata membuat air mata Raka jatuh. Ia mengingat ajakan Natalie tadi, agar menghabiskan malam valentine dengannya dan langsung ia tolak. Pemuda itu melangkah ke depan dinding besar di dekat jendela. Tampak foto Natalie begitu besar dengan senyum manisnya tergambar cantik di sana. Gadis itu mengenakan seragam SMP, ia bahkan satu SMP dengan Raka dan Raka sama sekali tidak mengenalnya. Raka menatap foto dirinya di meja belajar Natalie, foto itu ditulis dengan tinta merah " Crushku " Itu foto Raka saat menjadi panitia MOS waktu SMP dulu. " Kak boleh minta tanda tangan?" Akhirnya ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Natalie. Gadis berkepang dua dengan bendera merah putih, manis, lincah, dengan gigi gingsulnya yang menambah pesona. Raka dengan cueknya mengambil buku gadis itu lalu mencoretnya dengan tanda tangan. Tapi tiba tiba gadis itu mengeluarkan ponselnya " Boleh minta foto bareng gak?" Tanyanya spontan Raka mengernyit tak suka " Tidak." Jawabnya " Ih jutex amat sih. Senyum yuk!" Natalie hendak merangkul lengan Raka dan berusaha berfoto dengannya. Hingga... Brak Ponsel Natalie jatuh, Raka berdiri dan mendorongnya kasar " Sudah aku bilang tidak kan! Kenapa memaksa? Apa kau tidak pernah diajari sopan santun?" Tunjuknya membuat Bayu langsung berdiri tak terima. Raka kemudian beranjak pergi meninggalkan Natalie yang memerah menahan malu karena ditertawakan. Ya, Akhirnya Raka mengingat kejadian itu. Ia terduduk di atas lututnya, menatap foto Natalie " Maafkan aku." Ucapnya tertunduk " Tolong maafkan aku." Sesal Raka Renata memegang pundak Raka pelan. " Seandainya sikap saya lebih baik mungkin saya tidak akan menyakiti siapapun." Ucap Raka Renata bisa melihat raut kesedihan di wajah pemuda itu. Dia bukan anak jahat seperti yang Ginjal ceritakan, mungkin sikapnya memang sangat dingin. Tapi mungkin hal itu juga karena pengaruh lingkungan tempatnya dibesarkan. Raka adalah anak broken home yang mungkin sama sekali tidak mengenal siapa ibunya, sementara ayahnya mengidap kelainan mental. Hidup dan besar dengan kondisi seperti itu mungkin membentuk karakter husus yang menjadikannya sosok dingin dan tidak peka dengan keadaan sekitar. " Kau tidak bersalah, Raka. Tante ingin mengucapkan terima kasih. Kau telah datang ke sini dan bertanya tentang Natalie. Tante mengerti, lagipula semuanya sudah terjadi, apapun yang dilakukan tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan kalau Nana sudah tiada." Tutur Renata begitu lembut dan menenangkan. Raka menatapnya getir, ia tentu merasa bersalah. Karena tak hanya pada wujud Natalie, ia juga bersikap acuh pada arwah gadis itu. Raka juga mengerti, mengapa Ginjal sangat membencinya. Itu wajar, saat orang lain menjadi penyebab dari orang yang kita sayang pergi untuk selamanya, maka kita akan membenci sosok itu sebagai pelampiasan kesedihan. -***- Di sana... Natalie tampak mengulas senyum menatap langit pekat, di depan kediaman Hendrawan, gadis itu berdiri di halaman, menunggu Raka pulang. Hatinya sudah lebih tenang, rasanya begitu lega. Walaupun ia tahu hidupnya sudah berakhir, bertemu kembali dengan keluarganya setelah sekian lama, membuat jiwanya terasa damai. Hingga jam 1 Dinihari, ia masih berdiri di sana. Raka tampak melangkah lunglai memasuki gerbang. Senyum lebar Natalie terbesit melihat Crush nya datang. Ia berlari menyambut Raka. " Kau dari mana saja? Aku menunggumu sejak tadi." Senyum Natalie Raka terdiam pucat, menatap gadis di depannya lekat. Ia bahkan tak terlihat seperti orang yang sudah tiada. Bagaimana bisa ada orang yang mencintainya sebegitu besarnya seperti Natalie? Yang tetap tersenyum walaupun tanpa sengaja berkali kali disakiti. " Dia hanya punya satu mimpi, menghabiskan malam dengan cinta pertamanya." Kata kata mama Natalie tadi menghantui Raka, bola matanya memerah menatap Natalie. " Raka, are you okay?" Tanya Natalie khawatir " Apa kau begitu mencemaskanku?" Tanya Raka dengan suara gemetar Natalie mengangguk " Kau pulang selarut ini, hanya dengan seragam sekolah, ini sangat dingin. Kau bisa sakit. Ayo... Cepat masuk!" Ajak Natalie hendak beranjak. Tapi..... " Tunggu!" Raka menahan lengannya Deg Natalie terkesiap, Apakah ini nyata? Raka menarik lengan Natalie dan memeluk tubuhnya erat, sangat erat " Ra...ka." Natalie bahkan tak bisa mengatakan apapun. Ia tersenyum senang, pelukan Raka terasa begitu nyaman. Dan gadis itupun balik memeluk Raka erat. " Terima kasih, sudah mencintaiku dengan begitu besarnya." Bisik Raka meneteskan air mata Natalie mengangguk Akhirnya.... Raka menyadari perasaannya Akhirnya.... Raka mengerti hatinya Akhirnya... Raka mau memeluknya Sungguh, Natalie tidak pernah memimpikan hal itu, cukup berada di sisi Raka saja sudah membuatnya tenang. " Raka, kenapa kau seperti ini?" Tanya Natalie terharu " Sshhh diamlah! Biarkan aku memelukmu sebentar saja." Bisik Raka mempererat pelukannya. Natalie tersenyum, mencium pundak Raka dan memeluknya erat Di sana, dari balkon lantai atas, Bayu memperhatikan mereka dengan mata berkaca kaca Ia kemudian menarik napas panjang, memejamkan matanya dan tersenyum ikhlas " Syukurlah... Akhirnya." Gumamnya lega Karena tahta tertinggi dari mencintai seseorang adalah... Membiarkannya bahagia, walaupun bukan dengan kita. Tahta tertinggi menyayangi seseorang adalah... Merelakannya pergi tanpa memaksanya berada di sisi Aku akan selalu mencintaimu ~ Natalie
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN