Raka menghela napas panjang
Merasakan angin yang berembus ke sela paru parunya
Ia mencuci wajahnya berkali kali, memejamkan mata kemudian berusaha tenang.
Kejadian yang terjadi akhir akhir ini membuatnya sesak
Usai merasa lebih baik, pemuda itu ke luar dari toilet. Ia sedikit kaget melihat Pak Toni ( pelayan tua Bayu ) berdiri mematung di depan pintu dengan tatapan misterius seperti biasanya. Pak Toni menunduk hormat pada Raka
" Apakah luka di wajah anda sudah terasa lebih baik, den?" Tanyanya ramah. Tapi tetap saja terasa aneh. Raka hanya mengangguk sekilas kemudian beranjak melewati si tua itu
" Apa anda tahu kenapa tuan Bayu begitu marah?" Tanyanya membuat langkah Raka terhenti.
" Dia memang terlihat baik baik saja, tapi tuan Bayu sebenarnya sangat menderita. Selama ini dia kesepian, menunggu cintanya kembali. Cinta yang memiliki hati untuk orang lain dan tidak pernah mengerti kehadirannya." Imbuhnya, Raka mengernyit, diam beberapa detik, berusaha mencerna apa maksud kata kata si tua ini.
" Ketika orang yang kita perjuangkan justru disakiti oleh orang lain, bukankah itu terasa sangat perih?" Tutur pak Toni lagi
Kali ini, Raka berbalik, menatap sosok yang mengulas senyum itu dengan tatapan bingung
" Apa yang anda maksud?" Tanyanya
" Aditira." Jawab pria tua itu masih penuh teka teki
" Aditira? Maksudnya Ginjal Aditira?"
Pak Toni menggeleng pelan, ia kemudian melangkah ke hadapan Raka sembari memberikan Koran pagi yang ia bawa. Koran yang sama dengan yang Natalie lihat di jalan tentang keluarga Aditira yang bekerja sama dengan Baskara.
Apakah itu artinya Ginjal dan Bayu saling mengenal? Lalu apa hubungannya dengan tinjuan pagi tadi?
" Cari tahu tentang keluarga Aditira. Maka anda akan menemukan jawabannya." Pak Toni memberikan Clue kemudian berbalik dan melangkah pelan, pergi dari hadapan Raka.
Sementara itu... Di lain tempat...
Natalie tampak diam di kamarnya, kamar yang sudah 3 tahun kosong tanpa penghuni. Ia berdiri di depan lukisan berselubung kain hitam itu. Ternyata benar, Ginjal tidak merusaknya, ia bahkan meletakkan kembali lukisan itu di tempat semula. Air mata Natalie menetes turun mengingat beberapa kenangan yang mulai muncul di benaknya. Kenangan yang membuatnya begitu bahagia ketika menggores kanvas untuk pertama kalinya. Kenangan betapa Ginjal sangat menyayanginya, kenangan betapa bahagia hidupnya selama ini.
Terkadang, kita terlalu memperjuangkan apa yang kita inginkan
Sampai lupa...
Ternyata kita telah mengorbankan banyak hal yang begitu menyayangi kita.
" Natalie, kau kenapa?" Tanya Bayu beberapa tahun yang lalu. Ya, Natalie mulai mengingat wajah Bayu di dalam hidupnya. Gadis itu memasang wajah masam, ia menyendiri di belakang gedung SMP. Hari itu, adalah hari pertama Natalie masuk ke sekolah. Hari di mana ia pertama kali melihat Raka, jatuh hati padanya sekaligus hari dimana Natalie dipermalukan gara gara minta foto berdua dengannya. Sementara Bayu, ia adalah sahabat Ginjal sejak kecil, Bayu satu tahun lebih tua dari Ginjal, ia kakak kelas Raka, sementara Ginjal berbeda sekolah dengan mereka. Tapi kedekatannya dengan Natalie membuatnya terlihat seumuran dengannya. Bayu begitu perhatian pada Natalie, sejak mereka kecil. Ia selalu memberikan apa yang Natalie inginkan sekalipun itu bertentangan dengan apa yang Ginjal mau. Jika ada yang memperlakukan Natalie seperti seorang Ratu, maka Bayulah orangnya
" Aku menyukai kakak kelas tadi, Bay. Masa cuma minta foto saja dia gak mau. Ganteng ganteng tapi sombong." Celetuk Natalie mencurahkan isi hatinya. Bayu menghela napas, andai Natalie tahu, saat itu hati Bayu pasti terluka. Bayu begitu mencintainya selama bertahun tahun lamanya, tapi Natalie justru meluapkan isi hatinya untuk orang lain. Tapi, pemuda itu masih mencoba tersenyum
" Apa yang membuatmu menyukai Raka?" Tanyanya tenang
" Ganteng lah, selain itu teman teman juga mengidolakannya. Sikapnya keren, cool seperti tokoh tokoh webtoon." Jawab Natalie.
Wajar, siapapun yang melihat wajah Raka pasti akan tertarik. Memang dia memiliki karakter unik yang begitu memikat dikalangan kaum hawa.
" Kau ingin fotonya?"
" Benarkah?" Natalie langsung berbinar binar menatap Bayu
" Ya, tunggu sebentar. Aku bisa memberikan foto Raka sebanyak apapun yang kau mau." Janji Bayu
" Kau memang yang terbaik." Natalie memeluk Bayu erat. Membuat pemuda itu terdiam dengan wajah memerah
Setidaknya, ia telah membuat Natalie bahagia. Walaupun itu menyakiti hatinya. Sejak hari itu, Natalie sering meminta Bayu memotretkan Rakanya. Entah saat Raka menulis, membaca, atau sekedar bersantai. Hingga dinding Natalie dipenuhi dengan foto foto itu. Melihat obsesi adiknya, Ginjal merasa tak nyaman. Ia menemui sahabatnya dan mencoba berbicara 4 mata dengannya, meminta Bayu berhenti menuruti keinginan Natalie yang sudah terlihat tak sehat.
" Aku tidak bisa Gie, Nana sangat bahagia melihat foto foto itu. Kau tahu kan, aku paling tidak bisa menolak keinginannya." Tolak Bayu
Ginjal mengambil napas panjang yang kemudian dihembuskan jengah
" Dengar, kau boleh menuruti keinginannya. Tapi dia sudah semakin gila! Kamarnya dipenuhi dengan foto anak aneh itu. Bayu, lama lama ini bisa menyakiti Natalie. Obsesinya bisa melukainya. Semakin Natalie memujanya aku semakin takut dia terluka. Sekarang aku tanya? Apa anak itu bahkan tahu Natalie ada?" Tekan Ginjal memerah
Bayu menggeleng pelan
" Kau satu sekolah dengannya kan? Apa sekali saja anak itu bertanya tentang Natalie?" Tanya Ginjal lagi
" Tidak, Raka anak yang tertutup. Dia bahkan mungkin tidak mengenaliku." Jawab Bayu akhirnya
" Good." Ginjal mengusap rambut curly nya kesal. Bagaimana bisa adiknya memuja seseorang sebegitu besarnya sementara orang itu bahkan tidak tahu bahwa Natalie ada.
" Jangan pernah menuruti Natalie lagi? Aku tidak mau dia terluka hanya karena orang asing!" Tunjuk Ginjal memberi peringatan
" Tapi Gie, siapa tahu usahanya berhasil. Aku tidak mungkin tega menolak keinginan Nana."
" Aku kakaknya dan aku melarang hal itu! Aku lebih tahu tentang Natalie. Jika kau memang peduli, berhenti menurutinya atau suatu saat nanti kau akan menyesal karena hal ini. Camkan itu!" Ujar Ginjal kemudian berbalik hendak meninggalkan Bayu. Tapi... Langkahnya terhenti saat melihat Natalie berdiri di belakang punggungnya dengan mata memerah, ia mungkin telah mendengar segalanya.
" Na, sejak kapan kau di sini?" Tanya Ginjal kaku
" Sebenarnya kau kakakku apa bukan sih?" Tanya Natalie kecewa
" Na...
" Raka pasti akan mengetahui keberadaanku kok, hanya perlu sabar dan waktu saja. Dia pasti tahu siapa aku, di mana rumahku, mama saja gak melarang kenapa kakak begitu egois?" Celetuk Natalie dengan suara gemetar
" Natalie aku hanya berusaha menjagamu." Timpak Ginjal
" Aku sudah besar kak! Kenapa Bayu yang justru lebih mengerti aku dari pada kakakku sendiri. Raka pasti akan menyadari perasaanku kak, semua orang percaya hal itu kecuali kakak!" Tekan Natalie kesal
" Kapan? Kapan dia akan menyadarinya? Satu tahun lagi? Dua tahun lagi?" Tekan Ginjal memerah
" Berapa lamapun aku akan menunggunya!" Balas Natalie
" Kau sudah gila! Hentikan kegilaanmu atau itu akan membunuhmu suatu saat nanti!" Bentak Ginjal
Andai Natalie mengerti, Ginjal melakukan hal itu karena begitu menyayangi dirinya.
" Aku tidak peduli walaupun harus mati karena Raka!"
" Natalie!!"
" Dan kau bukan ayah! Jadi jangan mengatur hidupku hanya karena kau lebih tua dariku!" Bentak Natalie kemudian berbalik dan berlari pergi meninggalkan Ginjal yang terdiam mematung mendengar kata kata itu. Ginjal memang bukan ayah Natalie tapi ia memberikan kasih sayang melebihi seorang ayah untuk adik tercintanya selama ini.
" Ginjal, dia hanya belum dewasa." Hibur Bayu memegang pundak Ginjal, berusaha menenangkan
" Kau lihat itu? Natalie tidak pernah berani melawanku selama ini. Ini semua karena dirimu juga." Ujar Ginjal menatap Bayu tajam
" Aku minta maaf, tapi... Aku hanya ingin Natalie bahagia." Tutur Bayu
" Bahagia? Kalau kau mengerti kau akan memikirkan kebaikannya, bukan hanya kebahagiaannya saja." Celetuk Ginjal kemudian melangkah pergi
Sekarang, Natalie mengerti... Walaupun itu sudah terlambat. Apa yang Ginjal katakan semuanya benar terjadi.
Kini, ia bahkan tak bisa melihat bayangan wajahnya lagi di cermin, rasa cintanya untuk Raka tidak hanya menghancurkan hatinya tapi juga merenggut kehidupannya. Anehnya, gadis itu tidak menyesal.
Ia melangkah pelan, ke luar dari kamarnya, menuju kamar Renata ibunya. Dilihatnya, Renata menangis memegang foto Natalie, mengusap foto itu lembut lalu mendekapnya ke dalam d**a.
" Mama sangat merindukanmu Na, sejak kamu pergi... Mama bahkan tidak bisa melihat kue keju dengan toping coklat lagi. Mama merasa gagal sebagai seorang ibu." Tangis Renata mencubit hati Natalie. Gadis itu ingin sekali memeluk Renata, tapi tangannya seperti asap yang menembus segalanya.
Tak lama setelah itu, seseorang melangkah masuk. Sosok yang ternyata Ginjal. Pemuda itu tampak pucat, membawa kotak P3K di tangannya. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Ginjal mengobati cedera di kaki ibunya
" Maafkan aku, Ma." Gumamnya kemudian
Renata hanya diam, menangis memeluk foto Natalie
" Aku tidak tahu mengapa aku menjadi seemosi ini. Biasanya, setiap malam aku akan tidur setelah melihat Natalie tidur. Sejak Nana pergi, aku bahkan tidak pernah bisa tidur lagi. Aku harus minum sampai mabuk agar kesadaranku hilang. Karena saat aku sadar, aku hanya akan merasakan sakit kehilangannya." Tutur Ginjal membuat Natalie terduduk, menangis sedih dan merasa bersalah.
" Dia sudah pergi Ginjal, seharusnya kau melanjutkan hidupmu. Mama tahu semuanya tidak akan sama lagi. Tapi mama tidak mau kehilangan anak mama untuk kedua kalinya. Kau merusak hidupmu sendiri, membenci semua orang."
Ginjal menundukkan wajahnya
" Kakak... Maafkan aku." Gumam Natalie mencoba menghapus air mata Ginjal
" Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup? Adik yang aku besarkan dengan tanganku ini. Aku harus merangkul jasadnya yang hampir hancur. Di depan mataku, Natalie meregang nyawa... Di depan mataku dia berlari pada mautnya. Aku hanya bisa membenci apa yang membuatnya menderita." Ujar Ginjal memejamkan mata
Mendengar hal itu, Renata memeluk Ginjal erat. Mereka kemudian menangis bersama
Natalie berdiri dari duduknya, belum pernah ia merasakan kesedihan sepedih ini. Semua kenangan dan kebahagiaan saat mereka masih bersama, kini berganti menjadi duka berkepanjangan. Rumah yang biasanya selalu hidup dan berhias keceriaan dengan canda tawa, kini suram dan seakan kehilangan nyawa.
Natalie melangkah, menatap seisi rumah megahnya yang kini redup. Ia meneteskan air mata sedih, ia tidak pernah menyesal karena kematiannya, yang membuatnya terluka, adalah ia menyia nyiakan kasih sayang yang tulus di sekitarnya hanya demi Raka yang ia puja. Raka yang bahkan tidak pernah tahu jika ia ada.
Bayu, Ginjal dan Mamanya
Adalah wujud ketulusan yang Natalie abaikan hanya demi kehausan rasa cinta dari sang pangeran pujaan
" Aku pantas seperti ini." Gumam Natalie penuh sesal
Memang, sesuatu yang berharga akan terasa... Jika kita sudah kehilangannya.