" Gie! Gie!" Teriak seorang wanita saat mendapati Ginjal pulang dengan wajah marah pagi itu. Sepertinya ia bolos sekolah untuk yang kesekian kalinya
" Ginjal dengarkan mama!" Renata mengejar putranya yang terus berlari menaiki tangga menuju lantai ke dua dari rumah 3 lantai itu. Keringat dingin membasahi keningnya, sorot matanya memerah.
Ginjal tak mendengarkan, ia membuka pintu dapur di lantai dua dan meminta sebuah korek api kepada pelayan. Dengan api yang seakan telah lama berkobar di hatinya, Ginjal kembali berjalan cepat menuju koridor sebuah ruangan.
" Ginjal!"
Plak
Sebuah tamparan keras menyadarkan amarahnya. Pemuda itu menatap Renata yang tampak tersenggal senggal usai mengejarnya.
" Apa apaan ini? Kau bolos lagi! Ginjal bukankah sejak tadi mama teriak dengarkan mama? Kenapa kau malah berlari begini? Ada apa?" Teriak wanita yang telah melahirkannya itu dengan urat leher menegang
" Dengarkan mama? Seandainya Ginjal tidak mendengarkan mama waktu itu, mungkin Nana masih bersama kita sekarang. Ginjal sudah bilang, Ginjal yang akan mengantar Natalie. Tapi mama mengizinkan dia pergi sendirian bersama pak Sam!" Tekan Ginjal
Renata memerah mendengar keluhan putranya, ia memang mengutuk dirinya sendiri selama ini. Tak ada yang lebih sakit selain dirinya atas kehilangan Natalie. Ucapan Ginjal yang seakan menyalahkan semakin membuat hatinya tercabik.
" Mama juga sedih Gie. Lihat mama! Mama tidak hanya kehilangan satu orang putri. Tapi juga seorang putra. Hampir 4 tahun lamanya mama mencoba menyibukkan diri mama untuk melupakan kejadian itu. Tapi mama tidak bisa. Tolong bantu mama nak. Natalie sudah pergi, tapi kita punya hidup untuk dilanjutkan." Ujarnya sendu
" Tidak! Aku punya caraku sendiri untuk mengobati luka ini." Tolak Ginjal menghempas pegangan tangan mamanya
" Ginjal!!" Teriak Renata. Namun Ginjal tidak mendengarkan, ia terus melangkah cepat menuju ruangan bercat pink di dekat balkon sana, Kamar Natalie.
Pemuda itu menendang kasar kamar mendiang adiknya itu, berkali kali hingga pintunya terbuka. Matanya memerah melihat semua foto Raka terpajang di dinding. Sekarang kita tahu, alasan Ginjal membenci Raka selama ini, alasan ia membully dan menyakiti pemuda itu. Karena Raka adalah penyebab Natalie, adik kesayangannya pergi untuk selamanya. Andai saja Raka tidak ada di dunia ini, mungkin tawa Natalie masih terdengar, wajah cantiknya masih terlihat di depan mata.
" Ini semua gara gara kamu b******n!" Celetuk Ginjal kemudian menarik lepas foto foto itu dari dinding.
Tanpa Ginjal tahu, Natalie berada di sana, menangis sedih dan berteriak
" Kak, jangan kak! Jangan!! Tolong jangan lakukan ini. Nana di sini kan, Kak Ginjal." Isaknya. Tapi ia tak bisa menyentuh siapapun, suaranya tak terdengar oleh siapapun lagi. Natalie hanya bisa berteriak sendiri saat melihat foto foto itu dihancurkan sebagian lalu dibawa ke luar kamar dan dicampakkan ke tong sampah.
" Ginjal, pikirkan baik baik sebelum menghancurkan peninggalan adikmu." Lerai Renata
" Peninggalan? Ini yang membuat Renata pergi dan aku sudah tidak tahan lagi foto fotonya berada di rumah ini. Renata juga pasti menyesal mengenal Raka, gara gara dia hidup adikku binasa!" Ujar Ginjal kemudian menyalakan korek api di tangannya
" Kakaaakkk!" Teriak Natalie sedih saat api itu dilempar ke tong sampah dan membakar segalanya.
Itu memang hanya beberapa foto yang Natalie kumpulkan, tapi baginya hal itu berarti lebih dari segalanya.
" Ada satu hal lagi yang harus aku musnahkan." Ujar Ginjal melirik ke arah pintu kamar yang masih terbuka. Ada sebuah kanvas yang terpajang rapi dengan selimut kain hitam yang masih menutupinya sejak 4 tahun yang lalu
Ia mengingat kebersamaan terakhirnya dengan Natalie sore itu
" Kau sedang apa?" Tanya Ginjal saat mendapati adiknya tengah melukis di taman belakang
" Jangan mendekat!!! Tunggu tungguu!!" Natalie berdiri, menutupi lukisan itu dengan badannya
" Apaan sih? Gambar apa? Angrybirds?" Tawa Ginjal renyah.
Gadis itu langsung menutup lukisannya dengan kain hitam
" Gak boleh lihat pokoknya, karena lukisan ini istimewa." Ujarnya manyun kemudian menenteng lukisannya dan berjalan menuju kamar
Sebenarnya, Ginjal bisa menebak lukisan siapa yang Natalie buat selama berbulan bulan itu. Cinta Natalie untuk Raka begitu besarnya sampai membuat Ginjal cemburu. Ia sangat menyayangi Natalie bahkan mungkin melebihi seorang ayah. Tapi akhir akhir ini perhatian Natalie justru hanya buat Raka hingga melupakan segalanya
" Aku harus menghancurkan lukisan ini." Ujar Ginjal kemudian membawa lukisan itu ke luar
" Ginjal berhenti. Kau mau ke mana? Itu lukisan yang dibuat adikmu dengan susah payah. Mama tidak izinkan kamu melakukan apapun pada lukisan itu." Renata menghalangi jalan putranya
" Mama minggir!!" Pinta Ginjal
" Letakkan lukisan itu!" Teriak Renata
" Tidak. Aku akan membakarnya!"
" Ginjal apa kau sudah gila? Lepaskan!" Renata berusaha merebut lukisan itu dari tangan Ginjal. Hingga ....
Brak
" Mama!!" Ia tanpa sengaja mendorong Renata jatuh
" Mama maafkan Ginjal ma." Ginjal hendak membantu Renata berdiri tapi dengan cepat seseorang lebih dulu membantunya. Seseorang yang semakin membuat wajah pemuda itu memerah marah.
Natalie berdiri di belakang orang yang tak lain adalah Bayu itu. Ya, Natalie yang khawatir lukisannya rusak, memanggil Bayu yang menunggunya di halaman sejak tadi.
" Kenapa kau ada di sini?" Tanya Ginjal marah. Bayu menghela napas panjang
" Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan pada ibu dan adikmu?" Tekan Bayu.
" Pergi dari rumahku!" Usir Ginjal
Bayu memapah Renata, lututnya sepertinya cidera.
" Bayuandra, kenapa kau di sini? Sebaiknya kau pergi." Pinta Renata meneteskan air mata
" Ginjal, aku tahu kau sangat membenciku kan? Karena aku adalah orang pertama yang menunjukkan foto Raka pada Natalie, aku juga orang yang menyemangati Renata untuk masuk ke SMU kita dan mendukung apapun yang ia mau. Kau pikir gara gara aku dan karenaku Natalie meninggal. Tapi apakah semua itu akan merubah keadaan?" Tanya Bayu memerah
" Kau tidak akan pernah mengerti rasanya kehilangan!" Tekan Ginjal menunjuk wajah Bayu marah
" Kau bahkan tidak pernah mengunjungi makam Natalie selama ini."
" Ya, aku memang tidak mengerti bagaimana rasanya kehilangan seorang adik. Tapi aku sangat mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayang." Bantah Bayu memerah
Ginjal mengernyit
" Aku memang tidak pernah datang ke makam Natalie dan itu karena aku tidak ingin mengingat bahwa dia telah tiada. Aku sangat mencintainya. Dia adalah wanita yang paling aku sayangi di dunia ini. Rasa sayang itu yang membuatku menjadi b******k! Menjadi pengecut seperti yang kau kira." Ujar Bayu akhirnya mengungkapkan isi hatinya
Natalie memerah mendengar kata kata Bayu, air matanya tanpa sadar meluncur turun.
" Kau mencintai Natalie?" Tanya Ginjal yang seakan juga terlihat Syok
" Ya, aku sangat mencintainya. Kau tahu kenapa aku bertahan di sekolah itu? Kalau aku mau, aku bisa lulus dengan mudah. Tapi tidak, karena aku yakin Natalie masih berada di sana. Aku bodoh, aku sangat ingin dia bahagia hingga lupa untuk mengungkapkan perasaanku." Air mata Bayu meleleh turun. Ia melirik ke arah Natalie yang mematung mendengarkan kata katanya
Ginjal terduduk lemah di lantai, memegang kepalanya yang terasa sakit
" Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal? Kau tahu kita berteman sejak kecil kan, Bay." Gumamnya
" Karena rasa sayangku pada Natalie berbeda denganmu. Aku mencintainya, dan aku mencintai apapun yang ia suka. Sementara kau, kau berusaha menghancurkan apapun yang ia suka. Apa itu yang disebut rasa sayang? Bayangkan bagaimana jika Natalie tahu kau membulli Raka selama ini? Kau membakar kenangannya."
" Diam!"
" Kau menghancurkan segalanya!"
" Aku bilang Diam!"
" Apa kau menyebut dirimu kakak yang baik?"
" Diaaammmm!!!" Ginjal berdiri, memegang kerah kemeja Bayu dengan mata menyala marah
" Dia pasti menyesal telah mengenal Raka." Tekannya
Bayu mengulas senyum
" Tidak, Nana sangat mencintai Raka bahkan setelah kematiannya."
" Jangan sok tahu."
" Aku tahu, karena arwahnya tetap berada di sana. Aku bisa melihat arwah Nana setelah aku berada di dekat Raka." Tutur Bayu tenang
Deg
Pegangan di tangan Ginjal melemas, matanya berkaca kaca
" Jangan membual lagi." Decaknya memalingkan wajah
Sebaliknya, Renata berdiri menghampiri Bayu dengan penuh harap
" Kau bisa melihat Natalie, Bay? Di mana dia? Bagaimana dia? Apa dia baik baik saja? Apa dia bahagia? Tante ingin tahu?" Tanyanya sedih
" Mama sudah cukup! Dia hanya membual!" Lerai Ginjal
" Natalie ada di sini Ginjal." Jawab Bayu
" Di mana?" Tanya Renata getir
" Mama sudah cukup."
" Dia berada di sini. Dan dia sangat sedih melihat kalian seperti ini. Dia...
" CUKUP AKU BILANG!" Bentak Ginjal menghentikan ucapan Bayu
" Cukup!" Tekannya marah
Bayu menatap Ginjal tegas
" Jangan karena mamaku percaya, kau pikir aku bisa percaya? Pergi!" Usirnya lagi
" Ginjal, mama ingin mendengarkan Bayu. Mama ingin tahu bagaimana Nana." Tangis Renata
" Tidak ma, dia hanya membual saja. Pergi aku bilang!
" Aku tidak membual, Renata memang berada di sini."
" Pergiiii!!!" Teriak Ginjal marah
Bayu menghela napas panjang, ia kemudian mengangguk dan mengalah. Ia mengenal Ginjal sejak kecil, jika sudah marah, tak ada yang bisa menggoyahkan pikirannya
" Baiklah, aku pergi. Tenangkan dirimu atau kau akan merusak segalanya!" Ujar Bayu kemudian bergegas menuruni tangga.
Natalie mengikuti langkahnya
" Bayu, kau mau ke mana? Katakan pada kakak untuk tidak membakar lukisan itu." Pintanya
Bayu tak mendengarkan, ia terus melangkah turun dan ke luar dari rumah itu
" Bayu tunggu!" Renata menggapai lengannya
Bayu mengulas senyum tulus menatap Renata
" Tenang saja, dia tidak akan membakar lukisan itu." Senyumnya yakin
" Bagaimana kau tahu?" Tanya Renata mengernyit
" Karena aku mengenalnya sejak kecil. Dia hanya marah, dan saat marah dia bisa melakukan segalanya." Jawabnya teduh kemudian membuka pintu mobilnya. Natalie bergegas menahan pundaknya
" Bayu, apa kau benar benar mencintaiku?" Tanyanya pelan
Bayu menghela napas panjang
" Aku rela mengurung diriku di sekolah itu, di cap sebagai anak bodoh yang tidak lulus bertahun tahun, aku juga rela berteman dengan Raka, menjaga dan melindunginya. Kau pikir kenapa aku melakukan semua itu? Ini bukan tentang diriku, Na. Tapi caraku mencintaimu." Jawabnya yang jujur membuat hati Natalie tersentuh. Wanita mana yang tidak ingin dicintai sebesar itu
" Maafkan aku Bayu, aku pasti sudah sangat melukai hatimu selama ini. Bahkan sampai detik ini, aku hanya menyimpan nama Raka di hatiku." Tutur Natalie berkaca kaca
Bayu mengulas senyum, menyeka air mata dari pipi pucat Natalie
" Aku sudah lama menerima apa yang kau sukai sekalipun itu menyakiti, aku sudah lama berdamai dengan apa yang kau mau sekalipun itu menjadi duri. Tapi aku tidak akan pernah bisa menerima siapapun mematahkan hatimu. Karena itu aku memukul Raka tadi. Kau seperti berlian bagiku Natalie, saat kau bisa mengingatku kau akan mengerti... Diamku adalah ungkapan rasa cinta terbesarku untukmu." Ujarnya kemudian masuk ke dalam mobil mewahnya
Natalie terdiam mematung, entah kenapa rasanya begitu sakit melihat pengorbanan sebesar itu untuknya.
Sementara itu, Ginjal mengawasi tingkah Bayu dari balkon atas sana. Bayu yang seakan bicara dengan seseorang dan seakan tengah menghapus air mata seseorang
Mungkinkah... Natalie memang bersamanya?