Terbongkar

1666 Kata
Raka melangkah ke luar dari rumah itu dengan mata memerah. Entah kenapa ia begitu sulit menerima ajakan dari Natalie walaupun ia tahu itu bukanlah hal yang sulit. Rasanya sangat susah membuka hati untuk siapapun, ia tidak mau Natalie terlalu berharap nantinya. Saat ia hendak ke luar dari gerbang rumah... " Tunggu." Bayu menahan lengannya " Ada apa?" Tanya Raka mengernyit. Ekspresi Bayu terlihat berbeda, ia manatap Raka getir. Lalu.... Brug " Bayu!!!" Teriak Natalie Raka tersungkur memegang pelipisnya yang linu usai dihantam oleh Bayu. Ia menatap Bayu bingung, kenapa tiba tiba pemuda itu memukul Raka? " Raka, kau baik baik saja? Bayu kau sudah gila?" Teriak Natalie memapah Raka berdiri. Bayu hanya mengulas senyum sinis, ia tak menjawab apapun dan justru beranjak masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu mobil dan melaju cepat. Terlihat jelas, Bayu begitu marah. Ia berkali kali mengatur napas, tapi tetap saja, air matanya meluncur turun. " Aku sudah berusaha, berusaha untuk tenang. Tapi ini terlalu sulit Na, terlalu sulit." Gumamnya menyeka air mata itu Sekilas, kenangan masa lalu kembali menghiasi memorinya " Aku bawakan bekal!!!" Bayangan suara seorang gadis lagi lagi tergambar di benak pemuda itu. Bayangan yang tak lain adalah wajah Natalie, gadis berseragam SMP yang tampak manis dan selalu ceria. Benar, Bayu sangat mengenal Natalie. Tapi apa hubungan mereka, hanya waktu yang bisa menjawab. " Bekal, sudah aku bilang. Aku bukan anak kecil kan. Lagipula masakanmu sama sekali tidak enak." Ujar Bayu sinis. Natalie mengembungkan pipinya kesal. " Awas saja ya, kalau aku gak ada. Kau tidak akan menemukan rasa masakanku dimanapun. Ingat itu." Gerutunya kesal " Dih ngambek." Tawa Bayu mencubit pipi Natalie saat itu. " Mamaaaa!!!" Teriak Natalie memukul lengan Bayu berkali kali " Mau pergi ke mana? Sampai bilang gak ada. Melankolis sekali." Celetuk Bayu melepas pipi Natalie yang sudah memerah " Ya siapa tahu aku kuliah di luar negeri nanti, atau aku mati begitu." Celetuk Natalie membuat Bayu mengernyit menatapnya " Jangan mengatakan hal mengerikan begitu. Kau tidak tahu bagaimana kehidupan setelah mati kan." " Biarin! Biar gak dijahilin lagi. Lagi pula kenapa kalau mati? Mau bilang bisa lihat hantu lagi? Halaah membual saja terus." Senyum Natalie renyah Bayu mengulas senyum menggelengkan kepalanya. Ya, tak ada yang akan percaya memang, tentang kelebihan yang Bayu punya. Dan itu membuatnya terlihat seperti lelucon saja. " Makaaann!!" Natalie menyuapkan paksa bekal yang ia bawa ke mulut Bayu, lalu berakhir dengan Bayu yang mengejarnya penuh dendam. Kenangan yang manis Dan benar saja, setelah Natalie pergi... Bayu kesepian. Ia hanya bisa mendatangi makam itu sekali seumur hidupnya. Saat jasad Natalie dikubur, dan setelah itu, ia memutuskan tidak datang lagi. Karena datang ke sana hanya akan membuatnya sedih. Kenangan Natalie selalu menghantui hidupnya, bahkan sampai detik ini. Berkali kali ia mencoba mencari bayangan arwah Natalie, selama bertahun tahun. Tapi Bayu sama sekali tidak bisa menemukannya. Entah kenapa, beberapa hari yang lalu... Ia melihat bayangan Natalie muncul begitu saja. Saat menabrak Raka. Wujud Natalie bagai muncul setelah tenggelam begitu lama Bayu membuka laci mobilnya, ia merogoh sesuatu yang tersimpan di sana begitu lama. Pemuda itu menghentikan laju mobilnya di sisi jalan, menatap secarik foto di tangannya. Foto Natalie yang begitu manis tertawa di ulang tahunnya yang ke 15 " Aku tidak rela melepaskanmu lagi Na, maaf. Tapi aku sangat merindukanmu, sangat. Begitu besarnya rasa cinta yang kau miliki untuk Raka, hingga wujudmu hanya bisa terlihat saat jiwamu menemukannya. Tahukah kau, aku bahkan rela bertahan di sekolah itu, tidak naik kelas berkali kali. Karena aku merasa kau ada di sana, aku tidak ingin meninggalkan sekolah itu tanpa bertemu denganmu." Gumam Bayu membelai foto itu. Ia kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi. Beralih ke Raka, Pemuda itu masih diam terduduk di halaman rumah sembari mengompres memarnya. " Kenapa dia tiba tiba memukulmu? Kalian ada masalah?" Tanya Natalie cemas Raka hanya diam menatap Natalie yang begitu telaten mengobati memarnya " Sebaiknya kau pergi ke sekolah." Ujarnya " Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendirian?" " Pergi saja ke sekolah." Ulang Raka. Natalie mengerti, ia kemudian mengangguk " Baiklah, aku berangkat dulu. Aku menunggumu di sekolah ya." Senyumnya manis kemudian berdiri. Dan... Cup Bola mata Raka membulat saat tiba tiba Natalie mengecup pipinya yang lebam lalu berlari pergi begitu saja. " Cepat sembuh Raka!!" Teriak Natalie Pemuda itu memegang pipinya. Seakan ada gelenyar hangat yang mengalir di sana. Ia tanpa sadar mengulas senyum. Natalie melangkah santai menyusuri jalan menuju sekolahnya. Sesekali ia tersenyum malu mengingat apa yang barusan ia lakukan. Jantungnya seakan kembali berdetak, Natalie bahkan merasa malu untuk menatap wajah Raka. " Astaga! Jantungku rasanya mau copot." Gumamnya memegang dadanya, pipinya merona. Ia tersenyum lebar " Sebentar lagi Natalie, sebentar lagi pasti Raka akan luluh dan mau menghabiskan malam Valentine denganmu." Ucapnya pada diri sendiri. Ia kembali melangkah menuju ke sekolahnya, tapi tiba tiba... Langkahnya terhenti di lampu merah, saat selebaran potongan koran dari penjaja koran jalanan terbang ke hadapannya. Natalie mengernyit. Ada Headline berita yang menampilkan sosok wanita cantik nan Elegan dengan berita " PERUSAHAAN ADITIRA GROUP BERKEMBANG PESAT USAI TANDA TANGAN KONTRAK KE DUA MEREKA DENGAN PT. BASKARA COMPANY." Entah kenapa, lututnya terasa lemas membaca berita itu, seakan ada hal yang menyentuh hatinya begitu dalam, kesedihan dan kerinduan yang tanpa sebab membuat air matanya meluncur turun. Apalagi melihat wajah wanita itu, seakan wajah itu begitu dekat dengannya. " Nana!! Nana turun cepat! Waktunya sarapan! Nataliee!!" Suara itu seakan memenuhi benaknya. Suara yang setiap pagi ia dengar. Tapi seberat apapun ia berusaha, Natalie tidak bisa mengingat wajah siapapun selain Raka. Natalie duduk di atas lututnya, menatap selebaran itu. " Siapa kamu sebenarnya?" Gumamnya dengan suara gemetar Lalu dalam kalutnya tiba tiba... " Kau mau tahu siapa dirimu? Mau kubantu?" Tanya sebuah suara yang sontak membuat gadis itu menoleh. " Kamu!" Gumamnya syok Bagaimana tidak, tampak Natasya berdiri di belakangnya, dengan wajah pucat dan senyum tipis penuh maksud. Tapi wujudnya kali ini tidak semenyeramkan tempo hari. " Mau dibantu? Aku ada saat kau meregang nyawa. Jadi aku tahu... Orang orang yang berada di sana saat itu. Juga ... Kado berpita merah yang kau cari itu." Tawarnya lagi Terasa aneh, karena biasanya Natasya selalu membulli Natalie, baik hidup atau bahkan setelah mati. Kenapa Natasya berniat membantunya? " Di mana? Di mana kado itu sekarang?" Tanya Natalie berdiri menjajari Natasya yang masih menatapnya sinis. " Ada pada seorang pria. Aku melihatnya ada di sana! Mungkin ada padanya!" Tunjuk Natasya pada seberang jalan tak jauh di depannya. Natalie langsung menoleh, ia memicingkan mata melihat seseorang yang tak asing tampak ke luar dari mobilnya, membawa setangkai mawar merah. " Dia.... " Dia Ginjal, Ginjal Aditira." Ujar Natasya Deg " Aditira?" Natalie memucat. Nama itu... Sama seperti nama yang berada di koran. Nama yang terasa begitu dekat. Natasya mengulas senyum melihat ekspresi wajah Natalie yang terdiam beku " Kenapa? Kau ingat sesuatu?" Tanyanya penuh maksud. " A... Aku.... " Natalie!!!" Teriak sebuah suara membuyarkan suasana tegang itu. Seketika, wujud Natasya menghilang dari hadapan Natalie. Terlihat sebuah mobil menepi di sisinya. " Bayu?" Natalie mengernyit. Pemuda itu tergesa gesa turun dari mobilnya, seakan keadaan Natalie dalam bahaya " Kau baik baik saja?" Tanyanya cemas Natalie mengangguk, ia masih memasang muka masam ke arah Bayu mengingat apa yang tadi dilakukannya ke Raka. " Naiklah! Kita ke sekolah bersama." Ajaknya " Tidak! Aku bisa berjalan sendiri. Lagi pula, harusnya kau sudah sampai kan? Kenapa masih di sini?" Tanya Natalie heran " Aku putar balik. Aku mencemaskanmu, di mana Raka?" Tanyanya " Raka pipinya bengkak, dia mungkin tidak akan ke sekolah." Celetuk Natalie jutek " Baiklah, ayo masuk!" Ajak Bayu. Setengah terlihat memaksa Semakin ke sini, sikap Bayu semakin aneh saja. " Jelaskan padaku kenapa kau memukul Raka tadi? Dan... Tentang ini! Baskara Company adalah perusahaan keluargamu kan? Aku ingin tahu apakah kau tahu sesuatu tentangku?" Pertanyaan Natalie membuat Bayu terdiam sejenak " Lalu orang itu...!" Natalie menunjuk ke arah Ginjal yang tampak memasuki pekarangan sebuah pemakaman " Siapa dia?" Tanyanya " Masuklah, aku akan menjelaskan segalanya!" Ujar Bayu dengan wajah tegang Natalie mengangguk, ia kemudian menurut memasuki mobil Bayu dan melaju pergi bersamanya Bayu tampak mengepal stang setir mobilnya dengan erat hingga urat urat lengannya tercetak jelas, wajahnya tampak memerah dan itu terbaca jelas. " Kau mengenalku kan?" Tanya Natalie membuat pemuda itu menoleh seketika, matanya berkaca kaca Sementara di sana... Natasya mengulas senyum puas melihat mobil Bayu yang melaju pergi " Dia harus tahu siapa dirinya sebenarnya lalu segera menghilang dari sisi Raka untuk selamanya." Gumamnya kemudian menghilang bersama angin. " Katakan Bayu? Siapa aku?" Tanya Natalie berkaca kaca Bayu mengambil napas panjang Haruskah sekarang? Ini terlalu cepat Bagaimana kalau dia pergi? " Bayu? Kau mengenalku? Siapa aku? Aku berhak tahu kan?" Air mata Natalie meluncur turun Bayu mengangguk pelan. " Jadi kau mengenalku?" " Ya." Jawab Bayu berat " Kalau begitu... Siapa namaku?" Tanya Natalie dengan suara gemetar " Namamu, Natalie Anastasya." Jawab Bayu " Nama keluargaku?" Jujur, Jantung Natalie seakan berdegup kencang. Entah ia siap atau tidak, tapi... Ia memang harus tahu tentang dirinya, tentang keluarganya. " Bayu, tolong... Aku ingin tahu." Pinta Natalie memegang tangan Bayu. Air mata Bayu meluncur turun merasakan genggaman tangan Natalie " Tidak apa apa, katakan saja." Pinta Natalie lagi " Namamu Natalie Anastasya Aditira, foto di koran tadi adalah foto tante Renata, Ibumu. Dan tempat tadi, adalah makammu." Jawab Bayu akhirnya Deg Genggaman tangan Natalie luluh " Lalu, apakah kau kakakku?" Tanya Natalie getir. Bayu menggeleng pelan " Aku bukan kakakmu, nama kakakmu adalah... Ginjal Prakasa Aditira, pria yang tadi kau lihat." Jawab Bayu sedih Natasya terdiam mendengar nama itu Ia teringat akan kenangan beberapa hari yang lalu, saat hujan turun dan ia melihat Ginjal masuk ke pemakaman itu, meletakkan bunga untuk sebuah makam. Langkah Natalie seakan terpaku waktu itu, hatinya terasa sedih walaupun Natalie seakan tak mengenali Ginjal ataupun makamnya sendiri. Rupanya, di sanalah raga Natalie terkubur, dan Ginjal... Dia adalah kakak yang sangat menyayangi Natalie. Ya, Gie dalam memori itu adalah panggilan untuk Ginjal Aditira. " Maafkan aku Natalie." Bayu menghentikan laju mobilnya, ia kemudian menundukkan kepalanya ke bangku setir " Maafkan aku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN