Natalie ke luar dari toilet dengan wajah pucatnya, kakinya gemetar, tatapannya terlihat kosong. Untuk pertama kalinya setelah 3 tahun meninggal ia menemukan jawaban mengapa ia selalu berada di sekolah itu, mengapa ia seakan terus menunggu Raka, mengapa hanya Raka yang ia ingat dan mengapa selama ini Natalie merasa semua hari seakan sama saja, hari yang sama.
Cinta, menjadi rahasia terbesar di dunia
Usianya bahkan lebih tua dari alam semesta
Yang percaya atau tidak
Yang mengerti atau tidak
Pasti akan merasakannya
Cinta membuat siapapun mengerti bahasa yang diucapkan tanpa kata
Cinta membuat jiwa tetap ada walaupun raga binasa
Tapi... Cintaku berbeda
Namaku Natalie, dan aku jatuh cinta bahkan sebelum mengerti artinya.
Aku tak memiliki raga untuk memeluknya
Tak memiliki kata untuk mengungkapkannya
Bahkan tak memiliki hidup untuk bisa berada di sisinya
Yang aku punya hanya cinta yang membuat jiwaku masih bertahan
Seperti bintang yang menerangi jalan walaupun tak terlihat... Begitupula cintaku
Akankah selamanya, ia tidak menyadarinya?
" Hai."
Natalie terdiam, wajah pucatnya terangkat. Matanya terlihat berkaca kaca. Apakah ia bermimpi? Raka berdiri di hadapannya dengan rambut basah oleh keringat. Sepertinya, ia mencari Natalie usai kejadian tadi. Gadis itu terdiam, semua kenangan tentang hidupnya yang memuja Raka seakan kembali tergambar nyata. Sosok yang menghiasi mimpi dan khayalnya selama ini.
" Aku mencarimu ke...
Belum selesai Raka bicara, Tiba tiba Natalie memeluknya erat. Gadis itu menangis. Sebenarnya, Raka ingin melepaskan pelukan itu. Rasanya begitu risih, tapi air mata Natalie membuat tubuhnya terkunci. Mungkin Natalie masih terluka dengan sikapnya dan jika ia bisa memaafkan dengan memeluk Raka, maka pemuda itu rela.
" Maafkan aku." Gumam Natalie membuat Raka mengernyit tak mengerti, bukankah harusnya ia yang meminta maaf?
Gadis itu melepas pelukannya lalu berusaha mengulas senyum. Ia menatap Raka lekat.
" Terima kasih." Ujarnya aneh kemudian berlari pergi begitu saja.
" Aneh." Decak pemuda itu melihat Natalie yang tampak menjauh
Natalie menangis sesak di gerbang sekolah. Bayangan dirinya yang begitu semangat menunggu Raka 3 tahun yang lalu membuatnya sesak. Ia mencari ke sana ke mari kado yang seharusnya ia berikan untuk Raka waktu itu. Tapi nihil, ini sudah 3 tahun, entah di mana kotak kado berpita merah itu sekarang.
" Kau mencari sesuatu?" Tanya seseorang yang tak lain adalah Bayu. Pemuda itu tampak berdiri dengan tangan menyilang di depan d**a, menatap Natalie dengan tatapan sendu.
Gadis itu berjalan ke arah Bayu, terlihat jelas kesedihan di wajahnya.
" Sejak kapan kau tahu kalau aku..." Air mata Natalie kembali meluncur turun. Seakan tak terima bahwa ia memang telah tiada
" Sejak pertama melihatmu. Aku tahu kau bukan manusia. Kau berada di sekolah ini sudah sangat lama. Tapi baru bertemu dengan Raka beberapa hari yang lalu." Jawab Bayu dingin.
Natalie menundukkan wajahnya
" Jangan katakan padanya." Ujarnya sedih
" Kenapa?" Bayu mengernyit
" Aku memiliki impian, ingin menghabiskan malam dengannya. Tapi tidak karena rasa kasihan. Dia harus menyadari keberadaanku sebagai Natalie, seorang gadis yang mencintainya. Bukan hantu malang yang meninggal sia sia." Jawab Natalie getir
" Apa bedanya hal itu?"
" Aku tidak ingin dia tahu kekuranganku, aku ingin sempurna di depannya." Tutur Natalie sedih
Bayu mengangguk mengerti
" Sekarang apa yang kau cari?" Tanyanya
" Kado, waktu itu... Aku memegang kado untuknya. Aku ingin memberikan kado itu untuknya."
" Di sana!" Tunjuk Bayu
Natalie mengernyit
" Di sana, ada laki laki yang berdiri memegang kotak yang kau cari 3 tahun yang lalu. Dia juga yang membawa jasadmu pergi."
" Laki laki?" Natalie terdiam.
Mungkinkah itu bayangan kakak laki lakinya yang bahkan tidak Natalie ingat bagaimana rupa dan wajahnya?
" Apa kau melupakan segalanya? Rumahmu? Keluargamu?" Tanya Bayu menebak. Natalie mengangguk pelan
" Wajar, korban kecelakaan yang meninggal karena kaget sering mengalami hal itu. Karena itu jiwa mereka seperti linglung, terus berputar di tempat kejadian. Kau mau aku membantumu?" Tawar Bayu mengulurkan tangannya
Natalie menatap sosok itu getir
" Mengapa kau begitu baik?" Tanyanya berkaca kaca
" Tidak, jangan salah paham. Aku hanya ingin mengurangi arwah penasaran yang berkeliaran di sekitarku. Karena itu sangat mengganggu." Senyum Bayu mengulurkan tangannya
" Kita belum berkenalan dengan baik kan?"
Natalie mengulas senyum kemudian menjabat tangan itu dengan senyum manisnya.
" Natalie." Ujarnya lembut
" Bayuandra Dreenan Baskara. Itu nama lengkapku. Kau boleh memanggilku Bayu." Ujar Bayu menatap Natalie sendu
" Terima kasih." Senyum gadis itu manis.
Tapi siapa sebenarnya Natalie? Di mana keluarganya?
- Biarkan aku menebus kesalahanku padamu 3 tahun yang lalu, Natalie ~ Bayu
---****----
Hari beranjak siang dan siang berganti menjadi sore. Waktu berjalan begitu cepat. Anehnya, Raka tidak melihat Bayu sama sekali sejak pagi. Ia bahkan tak menemukan mobil sahabat misteriusnya itu di tempat parkir.
Pemuda itu memilih pulang sendirian. Dan sesampainya di rumah... Napas Raka semakin berat menahan emosi melihat Bayu tersenyum di depan pintu dengan Natalie di sisinya. Bukan hanya karena Bayu membawa Natalie ke rumah mereka tapi juga dengan gampangnya Bayu mengatakan bahwa Natalie akan tinggal di sana.
" Kau pikir ini tempat penampungan?" Teriaknya kesal kemudian masuk ke dalam rumah dan membanting pintunya kasar
" Jangan kaget, dia sedang datang bulan." Ujar Bayu membuat Natalie mengulas senyum. Ia kemudian menyusul Raka masuk
" Raka dengar dulu, kasihan sekali gadis itu tidak memiliki tempat tinggal. Dari pada ngekos kan lebih baik tinggal di sini. Ada banyak kamar di sini dan lumayan kan, ada wanita cantik di sini." Bujuk Bayu
Raka menatapnya tajam
" Kenapa baru minta izin setelah membawanya ke sini? Lagipula dia pasti mempunyai keluarga kan? Suruh dia pulang! Tinggal dengan keluarga sendiri." Tukas sosok bermata amber itu
Bayu menghela napas panjang
" Kau menolaknya?" Tanyanya sekali lagi
" Ya."
" Kau tidak merasa kasihan?"
" Kenapa? Aku harus kasihan pada orang asing?" Balas Raka tak peduli
" Baiklah, kalau begitu dia akan tinggal di sini sebagai tamuku!" Senyum Bayu
" What??" Raka benar benar depresi menghadapi Bayu. Lalu kenapa dia meminta izin kalau akhirnya mengizinkan sendiri?
" Dia akan tinggal di sini sebagai tamuku. Jika kau tidak suka ya sudah jangan bicara padanya, jangan menganggapnya ada. Jangan melihatnya." Imbuh Bayu
" KAU!"
" Natalie masuklah!!" Potong Bayu
" s**l! Terserah kau saja!" Celetuk Raka saat melihat Natalie melangkah masuk
Brak
Pemuda itu membanting pintu kamarnya kasar.
" Apa tidak apa apa aku tinggal di sini? Sepertinya Raka sangat tidak menyukai itu." Tanya Natalie tak enak
" Memangnya dia pernah menyukai sesuatu? Tidak bukan? Kau boleh tinggal di kamar tamu. Anggap saja rumah sendiri."
" Tapi..."
" Sudahlah, kau belum mengingat keluargamu kan? Kau juga ingin dekat dengannya. Jadi ini adalah pilihan terbaik, kau harus berada di sini." Senyum Bayu tulus
Natalie tersenyum mengangguk
Dan saat gadis itu hendak beranjak ke kamar yang ditunjuk Bayu....
" Rakaaa!!! Rakaaaa!!!" Terdengar suara teriakan Abimanyu dari kamarnya
" Itu paman Abi, ayah Raka. Kau ingin menemuinya?" Tanya Bayu
" Beliau kenapa?" Tanya Natalie
" Dia mengidap kelainan mental dan terkadang tidak mengenali Raka. Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu bertemu dengannya." Ajak Bayu
" Tentu." Natalie pun mengikuti Bayu menuju kamar Abimanyu
Benar saja, Abimanyu terlihat ketakutan, menggulung dirinya di dalam selimut, terduduk di lantai menutup wajahnya.
" Rakaaa!! Rakaaa!!" Teriaknya histeris tapi dengan wajah tertunduk
Di sana...
Raka yang mendengar teriakan ayahnya langsung berlari ke luar.
" Ayah, kau baik baik saja?" Tanyanya khawatir. Tapi saat membuka pintu kamar ayahnya... Ia melihat Abimanyu tampak sudah tenang dengan segelas s**u di tangannya. Di sisinya, Natalie tampak perhatian memijit pundaknya lembut.
" Paman, minumlah susunya agar kau bisa tidur dengan lelap malam ini." Pinta gadis itu penuh kasih sayang.
" Apa setelah itu Raka akan pulang?" Tanya Abimanyu
Natalie mengangguk
" Dia akan segera pulang. Kau mau kan meminum susunya?"
Abimanyu mengangguk, ia tampak menurut dan meminum s**u itu habis. Natalie bahkan mengantarnya ke tempat tidur lalu menyelimutinya dengan penuh perhatian.
" Kau tidak lelah berdiri selama itu di sana." Sindir Bayu menyadarkan Raka. Benar saja, sejak tadi Raka hanya berdiri di ambang pintu, memperhatikan Natalie yang telaten merawat Abimanyu. Pipi Rama memerah
" Syukurlah kalau ayah sudah tenang, aku bisa fokus belajar." Celetuknya mengalihkan
" Tunggu!" Bayu menahan langkah sahabatnya itu
" Apa lagi?" Raka mengernyit
" Apa kau memang benar benar tidak tahu caranya berterima kasih? Setidaknya Natalie membantumu kan?" Senyum Bayu sengaja
" Tidak, lagi pula aku tidak memintanya." Balas Raka masih bertahan dengan gengsinya lalu beranjak kembali ke kamar.
" Dasar kulkas 2 pintu." Celetuk Bayu sembari menyesap kopi hangat di tangannya
Ia kemudian memperhatikan Natalie yang tampak membacakan buku dongeng di sisi Abimanyu. Senyum terbesit di bibirnya
Gadis itu benar benar manis.
" Maafkan aku. Aku hanya ingin melihatmu lebih lama." Gumamnya berkaca kaca
Apakah sebenarnya Bayu mengenal Natalie?
" Bayu." Senyum Natalie menutup pintu kamar Abimanyu pelan. Bayu segera menyeka air matanya.
" Kalau sudah selesai pergilah ke meja makan, Raka tidak boleh curiga bukan? Kau harus bergabung dengan kami." Ajak Bayu
Natalie mengangguk
Sejak hari itu, Natalie terlihat lebih dekat dengan Abimanyu. Kehadiran Natalie membuat Abimanyu menjadi sedikit lebih tenang. Bahkan, terkadang ia mau diajak jalan jalan ke taman luar. Raka tersenyum melihat Natalie menuntun ayahnya di taman. Kedekatannya dengan Abimanyu sepertinya mulai meluluhkan es kutub utara itu.
Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah 7 hari tinggal di sana... Raka menyapa Natalie yang terlihat sudah rapi hendak ke sekolah.
" Raka." Senyum Natalie gugup saat membuka pintu dan melihat Raka berdiri di depan pintu kamarnya.
" Hmm aku... Itu..." Raka menghela napas panjang. Mengapa rasanya begitu sulit, padahal ia hanya ingin mengucapkan terima kasih.
" Ada apa?" Tanya Natalie memancing
Raka menatap Natalie getir
" Hmm?" Natalie mengangkat sebelah alisnya, menunggu apa yang ingin dikatakan pujaannya
" Lupakan saja!" Raka justru berbalik dan hendak beranjak. Untungnya, Natalie langsung menarik lengannya.
" Kalau kau tidak mau mengatakan apapun, boleh aku yang mengatakan sesuatu?" Tanya Natalie. Entah kenapa, gadis itu terlihat semakin manis saja.
Raka mengangguk kaku, merasakan genggaman tangan Natalie yang begitu dingin di lengannya.
Bayu yang menyaksikan semua itu dari lantai atas hanya mengulas senyum sembari menggigit sebuah apel menunggu apa yang akan terjadi pada dua sejoli itu.
" Minggu depan hari valentine kan?" Tanya Natalie, sekarang justru ia yang gugup
Raka mengangguk mengatur napasnya
" Kalau kau tidak keberatan, maukah kau menghabiskan makan malam denganku di luar? Setelah itu aku berjanji, aku tidak akan mengganggumu lagi." Tanya gadis itu penuh harap
Raka terdiam, permintaan itu agak berat baginya.
" Raka?" Natalie menunggu jawabannya. Hanya itu yang mungkin bisa membuat Natalie bisa beristirahat dengan tenang dan ikhlas dengan kematiannya. Ia tidak ingin memiliki Raka, ia tahu... Dunia mereka sudah berbeda. Natalie hanya ingin impiannya terwujud. Agar Raka tahu betapa Natalie mengaguminya.
Tapi....
" Maaf, aku tidak bisa."
Deg
Genggaman tangan Natalie melonggar, ia patah hati untuk kesekian kalinya mendengar jawaban dari Raka. Mata coklatnya terlihat berair.
" Jangan berharap lebih dariku Natalie. Aku tidak ingin memberikan harapan apapun. Sebaiknya jangan berharap. Oh ya, terima kasih untuk semua yang kau lakukan pada Ayah. Itu yang ingin aku sampaikan." Ujar Raka kemudian beranjak pergi. Meninggalkan Natalie yang mematung sedih
Mendengar jawaban Raka, Bayu meremas apel di genggamannya, urat lehernya menegang dan matanya memerah.
" Apa yang membuatmu begitu istimewa sehingga bisa menyakitinya berkali kali?" Gumamnya