Kisah tentang Natalie
Senja 3 tahun yang lalu. Seorang gadis manis dengan rambut panjang sepinggang tampak tengah duduk menggunting selebaran koran di tangannya, ia selalu menghabiskan waktu di taman belakang rumahnya yang cukup megah saat sore tiba. Senyumnya merekah, begitu manis melihat foto pujaan hatinya. Dialah Natalie 3 tahun yang lalu. Tubuhnya masih mengenakan seragam SMP dengan tas sekolah yang masih tergeletak di sisinya.
" Ehm." Sapa seseorang menegurnya dari belakang. Sosok laki laki yang berada di ingatan Natalie waktu itu.
" Hai!! Kau sudah pulang? Mana pesananku?" Tanya Natalie girang. Seketika ia berdiri dan berjingkrak layaknya anak kecil.
" Ini! Kue bolu rasa cheese plus toping coklat di atasnya. Gara gara kue ini aku harus mengantri 1 jam di toko. Dan lupa bahwa ibu memesan sandwich." Senyum pria yang tampak sangat menyayangi Natalie itu. Ia menyodorkan bungkusan kue ke tangan Natalie yang tampak berbinar binar senang.
" Sini! Sini!" Ujarnya kemudian duduk membuka bungkusan kue itu dan langsung menyantapnya.
Pria itu menatap wajah Natalie teduh. Ia membelai rambut panjang Natalie yang hampir masuk ke mulutnya karena terbawa angin.
" Apapun untukmu akan kakak belikan. Hai apa ini?" Kernyitnya melihat selebaran koran yang baru saja Natalie gunting. Keningnya mengernyit melihat gambar Raka di sana.
" Aku mau dia kak. Bisa kakak berikan?" Senyum gadis itu renyah.
" Huft, kenapa kau selalu menguntit bocah ini? Dia tidak lebih baik dari kakakmu ini. Bukankah kakak bilang, fokus belajar, fokus sekolah dan nanti carilah pasangan yang lebih baik dariku agar bisa menjagamu sepanjang waktu." Celetuk pria itu kesal kemudian mengambil foto Raka
" Kakak iiihhh mana kak!!" Teriak Natalie mengejar sosok itu. Pria itu tertawa renyah melihat adiknya begitu ceria.
" Ambil kalau bisa!!!" Teriaknya berlari memasuki rumah. Hingga....
Brak
" Aduh kalian ini!!" Teriak seorang wanita paruh baya terlihat kesal. Hampir saja ia terhuyung saat Pria itu tanpa sengaja menabraknya.
" Maaf ma."
" Kalian bukan anak kecil lagi! Kenapa setiap hari selalu bermain kejar kejaran begitu? Kamu juga! Senang sekali mengerjai adikmu." Omelnya tapi sambil tersenyum senang.
" Iya nih ma, kakak mengambil foto itu! Itu punyaku." Natalie hampir memerah menahan tangis
" Hadeeh, cowok modelan kecambah doang mau nangis. Memangnya dia tahu kamu segitunya suka sama dia? Sampai dinding kamar saja penuh dengan fotonya." Celetuk pria itu menyerahkan selebaran foto di tangannya. Natalie mengambilnya sambil merengut. Dan Mama mereka menggeleng seraya menghela napas
" Sudah sudah... Natalie, ayo ke kamar, mandi dan bersiap makan malam. Mama tidak mau melihat anak mama kumuh seperti ini. Dan kau Gie ( Panggilan Pria tadi ) ayo bantu mama di dapur!" Perintah mamanya
" Oke ma!" Natalie langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya dengan wajah riang.
Tapi bukannya mandi, ia malah bergegas mengacak acak laci, menuliskan tanda hati di selebaran foto Raka tadi kemudian mengelem bagian belakangnya dan menempelkan foto itu di dinding. Ada banyak sekali foto Raka di sana. Natalie tersenyum lebar kemudian mengecup foto itu gemas.
" Kamu ganteng banget sih. Tunggu aku ya, aku akan masuk ke sekolah itu juga. Dan pasti... Aku bisa mengajakmu untuk dating! Tunggu pokoknya." Gumamnya
Natalie benar benar menyukai Raka, terlihat jelas pesona Raka memenuhi pandangannya. Natalie bisa menghabiskan beberapa jam hanya dengan menatap dan berbicara dengan foto Raka. Bisa dating dengan Raka di suatu saat memenuhi mimpinya. Ia yakin, suatu saat nanti, ia akan bisa mewujudkan mimpi itu. Menghabiskan malam bersama crush tercintanya. Karena selama di SMP, Natalie tidak punya cukup keberanian menyapa Raka, hanya memperhatikan dari jauh setelah kejadian MOS waktu itu.
Di bawah sana, Gie tampak membantu mamanya memotong bawang. Mimik wajahnya terlihat cemas. Ia memikirkan kegilaan adiknya pada sosok Raka.
" Sudah, jangan dipikirkan. Namanya juga anak remaja. Wajar kalau dia punya crush dan mulai menyukai lawan jenisnya kan." Ujar Mamanya menenangkan. Sosok itu menghela napas panjang
" Tapi anak itu sangat aneh, Ma. Bayangkan saja, kata temanku yang satu bangku dengannya. Selama setahun mereka hanya berbicara seperlunya saja. Dia suka menyendiri, tidak banyak bicara dan aneh. Bagaimana bisa aku tenang membiarkan Natalie menyukainya. Lihat! Dia bahkan tidak hanya sekedar suka, seluruh kamarnya berisi wajah bocah tengik itu." Celetuk Gie geram
Mamanya mengulas senyum, mengelus punggung putra sulungnya
" Mama mengerti. Sejak kecil kaulah yang membesarkan Natalie seperti seorang ayah membesarkan putrinya. Sejak ayah kalian pergi, kau berperan penting dalam hidup adikmu. Mama senang, kalian saling menyayangi. Tapi nak, waktu berjalan dan dia bukan gadis kecil lagi. Dia berhak menentukan pilihannya suatu saat nanti." Nasehatnya
Gie mengambil napas panjang
" Entahlah."
Ya, Natalie adalah anak bungsu dari 2 bersaudara. Ia memiliki kakak laki laki yang begitu menyayanginya. Dibesarkan layaknya seorang putri dan dimanja seperti seorang ratu. Apapun keinginan Natalie akan dipenuhi oleh kakak tercintanya. Gadis itu begitu ceria, manis dan baik.
Diusia Natalie yang masih balita, ayah mereka pamit untuk mengurus bisnisnya di dubai. Tapi tidak pernah kembali lagi. Rupanya, pria itu menikah dengan selingkuhannya dan memulai hidup baru di atas penderitaan keluarganya. Untungnya, mereka memang tidak berasal dari keluarga susah dalam hal ekonomi. Ibunya, Renata Andini adalah putri ke tiga dari pengusaha sukses. Dia juga memiliki perusahaan konveksi yang lumayan maju. Cukup untuk membiayai hidup kedua putra putrinya dan memberikan kemewahan untuk mereka. Setelah usia putranya remaja, Renata memutuskan melepaskan pekerjaannya pada orang kepercayaan keluarganya, dibantu putra sulungnya yang dipanggil Gie. Mereka memilih untuk menghabiskan waktu dengan keluarga. Karena walau bagaimanapun, keluarga tetaplah yang utama.
Hingga... Hari itupun tiba.
" Kak... Aku berangkat dulu yaa. Nanti aku akan terlambat, ada pelajaran tambahan." Pamit Natalie saat mereka masih di meja makan
" No! Sarapan dulu!" Gie menahan lengan adiknya yang langsung memasang wajah masam
" Ih, aku kenyang. Ini sudah jam berapa? Aku bisa terlambat!" Gerutunya
" Gak boleh! Sarapan pokoknya. Biar nanti kakak yang antar ke sekolah." Tolak Gie
" Kakak ihhh nyebelin banget sih. Natalie sudah dewasa tahu."
" Gieee....
Pemuda itu menatap mamanya yang mengedipkan mata agar melepaskan tangan Natalie.
" Tapi Ma...
" Biarkan saja, Natalie bisa terlambat jika menunggumu. Biar Pak Sam yang antar ya." Bujuk Renata
Gie pun melepas lengan adeknya yang mencibir penuh kemenangan lalu mencium pipi mamanya
" Hati hati ya sayang!"
" Iya ma."
Natalie bergegas pergi. Tapi entah kenapa... Setibanya di pintu, gadis itu terdiam, ia kemudian menoleh, menatap kakak dan mamanya dengan tatapan berkaca kaca
" Ada apa?" Tanya Gie mengernyit melihat adiknya kembali.
Natalie mengecup pipi Gie. Membuat sosok itu mengernyit
" Natalie sayang banget sama kakak. Makasih ya untuk segalanya." Ucapnya aneh
Renata hanya mengulas senyum melihat kasih sayang antara ke dua anaknya itu.
Natalie pun bergegas pergi, meninggalkan tanya di hati kakaknya yang terdiam mematung. Ia seakan merasakan firasat buruk. Sesuatu yang besar akan terjadi.
Benar, harusnya ia tidak membiarkan Natalie pergi sendirian.
Karena ternyata, gadis itu tidak pergi ke sekolahnya. Ia meminta pak Sam mengantarnya ke sebuah rumah susun sederhana yang ternyata adalah tempat tinggal Raka
" Pak jangan bilang mama dan kakak ya kalau Natalie ke sini." Pintanya memainkan mata
" Tapi Non?"
" Sudah, bapak tunggu saja sebentar. Setelah ini saya akan ke sekolah kok. Lagipula tidak ada pelajaran di sekolah, kan sudah ujian akhir. Saya hanya ingin melihat crush saya sebentar." Ucapnya membuat supir pribadi Mamanya itu hanya bisa mengangguk pasrah.
Benar saja, tak lama setelah itu... Tampak Raka ke luar dari rumahnya. Seperti biasa, dengan wajah tampannya dan ekspresi datar yang sedingin kutub utara, pemuda itu duduk di bangku kayu di terasnya, terlihat membaca sesuatu. Natalie mengulas senyum lebar melihat Raka, hatinya berbunga bunga.
" Pak, tunggu di sini ya. Saya mau mengucapkan selamat ulang tahun untuknya." Tutur Natalie kemudian berlari sebelum supir itu sempat menjawab iya.
Tapi... Baru saja gadis itu hendak menaiki tangga menuju tempat Raka, seseorang menarik lengannya kasar dan membawanya ke balik dinding. Seseorang yang ternyata adalah Natasya.
" Kenapa kau terus mengikutinya?" Tanya Natasya dengan tatapan tajam. Natalie meringis menahan sakit di lengannya. Ia sama sekali tidak mengenal Natasya. Tapi rupanya, Natasya menyadari bahwa selama ini Natalie sering mengawasi Rakanya.
" Kamu siapa?" Tanya Natalie polos
Natasya tersenyum sinis
" Aku kekasih Raka. Jangan coba mendekatinya atau aku akan mencabik cabik tubuhmu!" Ancamnya mengerikan. Ternyata memang dari dulu, Natasya sudah melarang Natalie untuk mendekati Raka, memang dari dulu ia merasa cemburu.
" Buktinya apa kalau kau kekasihnya?" Tanya Natalie
" Berani sekali kau meminta bukti! Siapa kamu? Hanya anak SMP ganjen yang kegenitan pada calon orang."
" Sebentar lagi aku akan satu sekolah dengan kak Raka. Jadi bukan anak kecil lagi. Dan jangan mengaku ngaku pacarnya. Karena kak Raka tidak punya pacar. Lepaskah!" Natalie menghempas genggaman tangan Natasya yang memerah menatapnya.
" Berani sekali kamu!" Bentak Natasya kesal
" Kenapa? Aku tidak harus takut padamu kan? Kita lihat saja, siapa yang kak Raka pilih nanti." Natalie hendak beranjak
" Hei mau ke mana kamu!" Natasya mengejar Natalie yang berusaha menemui Raka.
Tapi sialnya, Raka tampak sudah pergi.
" Ini semua gara gara kamu!" Tunjuk Natalie kemudian berlari ke arah supirnya.
" Pak, ayo bawa saya ke sekolah Ma**a K*suma! Sekarang!" Perintahnya masuk ke mobil.
" Baik Non."
Tak mau kalah, Natasya pun bergegas memasuki mobilnya dan mengemudi kencang mengikuti Natalie. Dan benar saja, Natalie menuju ke sekolah Raka.
Gadis itu tampak ke luar dari mobil setibanya di depan gerbang sekolah Raka. Ia memegang sebuah kado dengan pita merah di tangan.
Tak jauh dari tempat Natalie berdiri, Gie, kakanya tampak menghentikan laju mobilnya. Rupanya ia memeriksa GPS ponsel Natalie dan mengikuti adiknya itu. Firasat tak enak di hatinya membuatnya cemas.
" Kak Raka!!" Teriak Natalie berusaha memanggil Raka yang tampak turun dari angkot menuju gerbang sekolahnya. Tapi Raka tak mendengar, laju kendaraan yang ramai pagi itu membuat suara Natalie tenggelam.
" Kak Raka!!" Teriak Natalie.
Melihat Raka semakin masuk ke dalam. Natalie terlihat cemas, ia tergesa gesa ingin menyeberang.
" Natalie!!!" Teriak Gie cemas
Bagaimana tidak, ia melihat adiknya tampak bergegas menyeberang jalan. Sementara seumur hidup ia tak pernah menyeberang sendirian
" Nataliee!!"
Dan benar saja, Natalie panik sendiri. Langkahnya terhenti di tengah jalan, ingin mundur tapi lalu lalang kendaraan membuatnya gugup. Hingga...
Brak
" Natalie!!!!" Teriak Gie ketakutan
Tepat di depan mata, adik tercintanya tergilis oleh sebuah box container. Tubuh Natalie tergeletak mengenaskan. Air mata menetes dari matanya sebelum akhirnya ia pergi untuk selamanya.
Dalam sekejap tubuh Natalie dikerumuni orang yang merasa simpati. Natalie meninggal karena pendarahan hebat di kepala, tangan yang hampir putus dan kaki patah. Gie memeluk jasad adiknya histeris
Tepat hari senin, 3 tahun yang lalu...
Natalie pergi