Siapa Natalie?

1595 Kata
Pagi itu, udara berhembus begitu sejuk. Sama seperti hari hari sebelumnya, matahari tidak begitu hangat walaupun tak ada awan. Jam 6 pagi, Pak Toni mengetuk pintu kamar Alif yang sekarang ditempati oleh Raka, ia meminta Raka turun untuk sarapan dan bersiap siap ke sekolah. Mereka berkumpul di meja makan, kecuali Abimanyu. Pemuda itu mengulas senyum melihat banyak sekali menu di meja, biasanya ia tak menemukan apapun untuk sarapan di pagi hari dan sekarang, ia bahkan bingung mau makan apa karena banyak sekali makanan enak yang tertata. " Lucu sekali, dulu aku bingung hanya untuk sarapan karena tak memiliki apapun. Dan sekarang aku justru bingung melihat semuanya ada di depan mata. Apa ini tidak terlalu berlebihan, Bayu?" Tanya Raka Enehnya, tak ada jawaban. Ia melirik Bayu yang hanya tampak diam mematung dengan dagu bertumpu pada punggung tangannya. Tak seperti biasanya, Bayu terlihat melamun dan memikirkan sesuatu. " Bayu?" Sapa Raka sekali lagi Tak ada jawaban, ia masih diam dan berpikir. Menyadari ada yang mengganggu pikiran tuannya, Pak Toni memberi isyarat pada Raka agar membiarkannya saja. Rakapun memulai sarapannya tanpa menegur Bayu lagi. Entah apa yang ia pikirkan. Pagi itu, Bayu tak banyak bicara, bahkan di taxi, ia hanya diam mematung. Ya, pagi itu mereka memutuskan menggunakan Taxi. Raka sudah trauma dengan cara mengemudi Bayu. " Raka, kau duluan saja! Ada yang harus aku lakukan." Pinta Bayu tanpa menunggu jawaban dari Raka. Pemuda itu langsung berjalan cepat ke arah berbeda setibanya di sekolah. Raka mengernyit, ini mulai mencurigakan. Raka terdiam beberapa detik di gerbang sekolah. Hingga... " Pagi ganteng!" Sapa Natalie mentoel lengan putih Raka. " Huft." Raka menghela napas memutar bola matanya kemudian berjalan cepat menuju kelasnya. " Kemarin kau tiba di rumahmu jam berapa? Kau baik baik saja kan? Aku berusaha mengejarmu. Tapi kau menghilang." Natalie masih belum menyerah. Ia mengejar Raka dan mengikutinya. " Kenapa kau begitu dingin? Apa kau tidak takut berakhir sendirian?" Celetuk gadis itu diambang pintu berusaha memegang lengan Raka. Namun.... " Cukup!" Brak Tas yang dipegang Natalie terjatuh di lantai setelah Raka menarik lengannya kasar. Ia tampak marah, wajah tampannya memerah, ia benar benar emosi dengan sikap Natalie " Jangan mengikutiku lagi! Satu hal yang harus kau tahu. Aku lebih suka sendirian!" Tekannya menunjuk tepat di depan wajah gadis yang terkesiap itu " Jika kau terus begini, tak ada yang akan menyukaimu." Balas Natalie masih berusaha tenang walaupun matanya sudah berkaca kaca " Siapa kamu? Kau tidak berhak memutuskan apakah ada yang akan menyukaiku atau tidak. Menjauh dariku!" Ujar Raka lagi. Ia kemudian berbalik dan masuk ke dalam kelasnya. Natalie menyeka air matanya, ia menghela napas berkali kali, berusaha tenang. Walau bagaimanapun, bentakan laki laki seperti itu mampu menyakiti dan menusuk hati seorang gadis berkali kali lipat lebih pedih dari tusukan jarum. Ia berusaha tersenyum kemudian mengambil tasnya di lantai dan menyusun buku bukunya yang terburai. Raka memperhatikan gadis itu dari bangkunya, apakah ia sudah keterlaluan? Sebuah ingatan seakan kembali menguar di benaknya, ingata beberapa bulan yang lalu. Saat Natasya berusaha mengikuti dan memberikan kado untuknya. " Raka tolong terima ini, aku membuatnya sendiri." Pinta Natasya menyerahkan syal rajut ke hadapan Raka " Tidak." Jawab Raka saat itu. Bersikap jutex dan tega seperti tadi " Raka please. Kali ini saja! Tolong diterima ya." Senyum Natalie manis " Huuuu!!!" Sorak sorai teman temannya di kelas. " Berhenti mengikutiku!" Pinta Raka dengan tatapan setajam elang " Terima dulu ini." Paksa Natasya Raka mengambil napas panjang " Kau akan berhenti menggangguku jika aku menerimanya?" Tanya Raka membuat Natasya mengangguk senang Pemuda itu mengulas senyum kemudian mengambil hadiah itu dari tangan Natasya " Terima kasih Raka." Natasya terlihat begitu senang. Tapi, perasaan itu tidak bertahan lama. Karena Raka tampak berjalan ke arah tempat sampah lalu membuang hadiah itu di sana. " Raka, mengapa kau membuangnya?" Tanya Natasya sedih " Aku sudah menerimanya, itu sudah jadi milikku. Jadi aku mau memakai atau membuangnya itu urusanku! Berhenti menggangguku!" Tukas pemuda itu tegas lalu masuk ke dalam kelasnya. Meninggalkan Natasya yang tampak meneteskan air matanya sedih. Tak lama setelah itu, saat jam istirahat, dan Raka tampak sibuk membaca di bangkunya... Brak Natasya meletakkan sesuatu di meja Raka, sebuah Buku catatan. " Apa lagi?" Tanya Raka jutex " Tulis saja semua yang kau pikirkan di buku ini! Aku takut kau akan berakhir sendirian karena sikapmu." Celetuk Natasya kemudian meninggalkan catatan itu di meja Raka. Sepertinya saat itu ia benar benar marah. Bagaimana tidak, Natasya sudah berusaha belajar merajut dengan baik dan mengerjakan Syal itu selama berhari hari, tapi malah dibuang di sampah begitu saja. Bukankah Raka tidak punya hati? Ingatan itu, membuat Raka terdiam sejenak. Saat inipun, ia melukai Natalie dengan cara yang sama seperti Natasya. Pemuda itu melirik ke arah Natalie yang masih tampak menyusun buku bukunya ke dalam tas. Gadis itu lalu bergegas pergi menyembunyikan kesedihannya. " s**l! Mengapa aku merasa bersalah." Gumam Raka berdiri dari duduknya. Ia hendak mengejar Natalie untuk sekedar meminta maaf. Tapi... Langkahnya terhenti di ambang pintu, menginjak sesuatu di lantai. Raka mengernyit, itu seperti sebuah foto kecil. Namun... Saat pemuda itu mengambilnya... Bola matanya membundar, itu secarik foto yang diambil dari koran. Foto dirinya saat mendapatkan beasiswa beberapa tahun lalu. Kenapa bisa ada di tempat saat Natalie terjatuh tadi? Apakah Natalie memang mengenal Raka sebelumnya? Di sana... Natalie menangis memeluk tasnya di toilet sekolah. Sikap Raka tadi benar benar kasar, tapi itu bukan pertama kalinya Raka bersikap begitu padanya. 4 tahun yang lalu... Saat ia pertama masuk ke sekolah menengah pertama, dan Raka sebagai pembinanya... Raka juga melakukan hal yang sama padanya. Saat itu, Natalie datang untuk meminta tanda tangan Raka sebagai salah satu panitia MOS. Dan mengambil kesempatan, Natalie meminta foto bersama Raka yang memang banyak dikagumi oleh teman temannya. Tapi bukan sikap ramah yang ia dapatkan, Raka justru menolak dan membentaknya di depan semua siswi. Ya, Natalie memang mengenal Raka sejak dulu sebagai idolanya. Karena itu, ia begitu bahagia bisa melihat Raka kembali. Natalie mengoleksi banyak foto Raka yang ia ambil diam diam dan ia letakkan di dinding kamarnya. Raka adalah Crush rahasia baginya. Gadis itu kemudian menatap cermin di depannya. Bayangan wajahnya terlihat cantik di sana, entah kenapa Raka terus menolaknya. " Aku tidak akan menyerah. Kesempatan kali ini tidak akan aku sia siakan." Gumamnya menyeka air mata. Sebelum.... " Apa kau yakin dia akan menerimamu?" Celetuk sebuah suara. Natalie langsung menoleh ke belakang, tak ada siapapun di sana. Bulu kuduknya merinding. Teringat desas desus ada siswi yang mati bunuh diri di toilet beberapa minggu lalu. " Mungkin hanya perasaanku saja." Natalie bergegas membasuh wajahnya. Dan hendak beranjak. Tapi... " Jangan berharap banyak padanya, Raka tidak akan menjadi milikmu." Suara itu muncul lagi. Natalie menoleh dan melihat bayangan Natasya yang perlahan muncul, tersenyum di sana dengan darah tercecer di mana mana. " Berhenti mengganggunya!" Imbuh Natasya tersenyum lebar, mengerikan. " Aaaahh hantuuu!!!" Teriak Natalie ketakutan. Ia berusaha membuka pintu, tapi pintu itu justru terkunci " Tolong!!" Teriak Natalie, keringat dingin membanjiri keningnya. Apalagi saat Natasya perlahan berjalan ke arahnya " Kenapa kau takut padaku? Lihat dirimu." Bisik Natasya Natalie memutuskan menutup mata, ia menggeleng dan komat kamit membaca doa. Berharap setelah membuka mata, hantu Natasya menghilang. " LIHAT DIRIMU!!" Bantak Natasya di telinga gadis itu. Natalie membuka mata, seketika... Pantulan wajahnya terlihat di cermin pintu toilet Tapi.... Wajah cantik gadis itu seketika memucat. Bagaimana tidak, ia melihat bayangan wajahnya sendiri dengan kepala berdarah, bahkan ada luka menganga di bagian keningnya yang cukup mengerikan. Tangannya penuh dengan luka terbuka, seragamnya bahkan seakan berubah warna tersiram dengan darah. " Kenapa kau merasa takut padaku?" Senyum Natasya kemudian menghilang. " Natalieeee!!!!" Teriakan itu seakan kembali terngiang di kepalanya " Awasss!!!" Teriak seorang laki laki yang bayangannya terlihat buram di ingatan Natalie. Lalu... Bruk Sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi, Natalie tak ingat apapun lagi setelahnya Gadis itu meraba kepalanya, benar... Ada banyak sekali darah yang menetes dari sana " Siapa aku?" Gumamnya dengan suara gemetar dan air mata meleleh turun " Aku... Masih hidup kan?" Tanyanya bercermin. Kenapa aku terus berada di sekolah? Berapa lama aku di sini? Di mana truk itu? Teriakan siapa itu? Siapa aku? Di mana rumahku? " Aku masih hidup kan?" Gumamnya terduduk lemas di lantai toilet Kenapa yang aku ingat hanya Raka? Kenapa hanya dia? Di mana rumahku? Siapa aku sebenarnya? Siapa laki laki itu? " Aaaaarrkkkhhh!!!" Teriak Natalie frustasi Sementara itu... Di lain tempat... Bayu tampak menemukan sesuatu di semak semak sekolah, diantara tumpukan sampah. Sebuah sapu tangan hitam dengan sedikit bercak darah tak terlihat dan sudah mulai mengering. " Kau sedang apa, Bayu?" Sapa seseorang memegang pundaknya. Bayu menoleh, ia melihat Ginjal berdiri di belakangnya dengan wajah pucat. " Aku mencari sapu tanganku." Jawab Bayu dingin. " Sapu tangan itu? Apa kau yakin itu milikmu?" Senyum Ginjal curiga. " Bukan urusanmu!" Balas Bayu menatap Ginjal tajam " Apa yang sedang coba kau pecahkan kali ini? Terlalu ikut campur urusan orang lain tidaklah baik untuk kesehatan." Gumam Ginjal saat Bayu hendak beranjak pergi. Bayu menghentikan langkahnya, berbalik dan mengulas senyum. Ia sama sekali tidak takut dengan Ginjal ataupun sikap kasarnya selama ini. Tentu, Ginjal bukan apa apa bagi seorang tuan muda seperti Bayu. " Oh Ya, Ginjal... Aku lupa menanyakan sesuatu. Apa kau merasa kehilangan korek apimu?" Sindir Bayu dengan senyum sinisnya Sekarang, giliran Ginjal yang menatapnya tajam. Senyum di wajahnya surut. " Apa maksudmu?" Tanyanya " Aku yakin kau lebih tahu apa maksudku! Sebaiknya jangan menggangguku. Atau kau akan tahu... Siapa Bayuandra Baskara yang sebenarnya. Ingat itu!" Jawab Bayu dengan kerennya. Pemuda itu kemudian melenggang pergi, meninggalkan Ginjal yang merapatkan rahang dan mengepalkan jari jarinya menahan emosi. Sapu tangan apa yang Bayu temukan itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN