Payung di Tengah Hujan

1676 Kata
" Karena hanya kau yang bisa melihatku, apa aku tidak boleh mengikutimu?" Deg Raka menghentikan langkahnya, membalikkan badan ke arah Natalie yang tampak mengulas senyum. Apakah lagi lagi ia akan berurusan dengan hantu? " Tidak terlihat?" Tanyanya mengernyit Dan .. " Hahaha." Gadis itu tertawa renyah, tawa yang seakan tanpa beban membuat Raka semakin bingung " Rupanya benar kata mereka, kau percaya dengan hal hal seperti itu. Hantu? Kau bercanda? Kau bahkan terlihat lebih tertarik jika aku hantu dari pada manusia. Hahaha." Tawanya. Raka menghembuskan napasnya kesal, ia kemudian berbalik dan melangkah pergi " Hai, kau marah?" Teriak Natalie mengekori " Dengar kau sangat manis saat marah, apa ada yang pernah bilang seperti itu padamu?" Gadis itu terus mengikuti Raka " Kau bisa berhenti?" Celetuk Raka sinis. " Tidak." Jawab Natalie gamblang " Aku akan terus mengikutimu sampai kau luluh." Imbuhnya " Baiklah! Coba saja!" Tegas pemuda bermata amber itu kemudian meneruskan langkahnya. Natalie mengulas senyum memperhatikan Raka. Benar saja, sejak saat itu, Natalie mengikuti Raka seperti bayangannya saja. Hingga sewaktu pulang sekolah... Hujan gerimis terlihat turun, Raka yang sudah terbiasa dengan hujan memilih pulang saja dengan berjalan kaki, hemat ongkos dan lebih sehat menurutnya. " Hei, kau bisa sakit. Aku akan mengantarmu." Tiba tiba saja Natalie berlari ke arah Raka dengan payung di tangannya, melangkah di sisinya. Raka hanya bisa mengambil napas berat, entah bagaimana caranya mengatakan pada gadis ini, bahwa ia lebih suka menyendiri. " Kau masih tidak mau bicara denganku? Maaf, jika bercandaku tadi membuatmu marah. Aku benar benar ingin berteman denganmu." Sapa Natalie lagi. Dan seperti sebelumnya, Raka tak menjawab. Ia justru berlari meninggalkan Natalie. Dan bagai semut yang tak pernah menyerah, gadis itupun berlari mengejar Raka. Tiba tiba... Langkah Raka terhenti saat melihat mobil milik Ginjal terparkir rapi di sisi jalan, di depan g**g pemakaman umum. Kening Raka mengernyit Tak jauh dari mobil itu, tampak Ginjal berjalan masuk ke pemakaman dengan bunga yang tadi ia pesan. " Akhirnya kau berhenti juga. Aku ...." " Ssstttt." Raka meminta Natalie diam. Natalie menatap pada arah yang ditatap Raka dan menemukan Ginjal yang tampak berjalan di depan sana. " Jika mau di sisiku, diam!" Celetuk pemuda itu mengalahkan dinginnya hujan. Ia kemudian melangkah pelan mengikuti Ginjal, karena mimik wajah Ginjal terlihat berbeda sejak di sekolah tadi. Mungkin ada sesuatu yang ia sembunyikan. Sesuatu yang entah kenapa membuat Raka penasaran. Benar saja, Ginjal berhenti di sisi sebuah makam dan meletakkan mawar itu di sana. Untuk pertama kalinya, Raka melihat wajah Ginjal memerah sedih. Ia bahkan menunjukkan kasih sayang dengan membelai nisan itu lembut dan mengecupnya pelan. Makam siapa itu? Natalie yang berdiri di sisi Raka meneteskan air mata " Bukankah itu so sweet." Ucapnya membuat Raka mengernyit. Ia semakin heran mendapati air mata di pipi gadis berambut sepinggang itu. " Jika suka, bertemanlah dengannya saja. Aku pulang!" Ujarnya kemudian meninggalkan Natalie begitu saja. Anehnya, Natalie tidak mengikuti Raka lagi. Ia terdiam memperhatikan Ginjal yang tampak duduk di sisi makam. " Aneh." Celetuk Raka Setibanya di sisi jalan... Titiiit tiiiitttt " Naik!" Teriak seseorang dari dalam mobil hampir saja menyerempet Raka " Kau." Hampir saja pemuda itu emosi melihat si pengendara yang tak lain adalah Bayu. " Masuk! Aku akan mengantarmu pulang!" Teriak Bayu lagi di tengah pekatnya suara hujan " Aku bisa jalan kaki." Tolak Raka menyadari bahwa dirinya basah kuyup sementara mobil itu terlihat sangat bagus " Baiklah, kalau kau mau jalan kaki, aku akan meninggalkan mobil ini di sini dan berjalan denganmu." Senyum Bayu, tidak memaksa memang tapi terdengar penuh penekanan. " Baiklah." Pasrah Raka kemudian duduk di sisi Bayu. Mobil itupun kemudian melaju menerobos hujan, sedikit ugal ugalan membuat Raka gemetar " Aku baru belajar menyetir. Jadi harap pakai sabuk pengamanmu." Ujar Bayu membuat Raka menoleh pucat. " Baru belajar dan kau mengajakku? Kau mau aku mati bersamamu?" Celetuk Raka kesal " Hahaha, bukankah setahuku kau sudah terbiasa diancam kematian? Tenang saja! Ini hanya mobil." Balas Bayu, Raka menggeleng pelan. " Ya, HANYA MOBIL. Kau pikir mobilmu anti penyok jika menabrak?" Gumamnya kesal. Untungnya, mereka tiba di halaman rumah Hendrawan dengan selamat tak kurang apapun, walaupun mobil mewah itu terlihat menderita berkali kali hampir menyerempet sisi jalan. " Tuan, anda sudah tiba?" Tanya pelayan tua yang tampak berlari menyambut. Raka mengernyit, kenapa pak tua kemarin ada lagi di sana? Ia bahkan membawakan payung untuk Bayu dan Raka " Semua pakaian anda sudah saya bawa, kamar sudah saya siapkan dan segalanya sudah tertata rapi. Anda mau masuk sekarang?" Tanyanya semakin membuat Raka ternganga " Oh ya, aku lupa bilang, aku memutuskan untuk tinggal di sini mulai hari ini." Ujar Bayu gamblang. " Apa?" " Semoga kau tidak keberatan." Bayu menepuk pundak Raka kemudian melangkah masuk ke rumah dengan santainya Ingin rasanya Raka mengutuk sosok ini. Seumur hidup ia tidak memiliki teman dan sekarang tuhan mengirimkan teman yang super duper aneh untuknya. Entah siapa yang mengajak Bayu tinggal, ia bahkan memutuskan untuk tinggal sendiri di rumah yang ditempati Raka itu, memilih kamar sendiri, bahkan seakan dialah tuan rumah di sana. " Terserahlah!" Ujar Raka kemudian berjalan menuju ruangan Ayahnya. Saat pintu dibuka, ayahnya terlihat diam menatap ke arah kaca. " Ayah, bagaimana kabarmu hari ini?" Sapa Raka memegang pundak ayahnya. Dan... " Pergi!! Kamu siapa? Pergi! Pergi!! Menjauh! Tolongg!! Dia akan membunuhku!" Abimanyu histeris, sama seperti kemarin. " Ayah. Ini aku." Raka memerah, ia terlihat sedih " Tolong! Dia akan membunuhku! Tolong!!" Teriak Abimanyu berlari ke sudut ruangan. " Ayah." Raka meneteskan air matanya " Biar aku saja." Ujar Bayu menghampiri. Ia kemudian menenangkan Abimanyu dengan mengusap pundaknya pelan " Paman, saya Bayu. Saya akan menjaga paman di sini. Paman tidak sendirian." Ujarnya Abimanyu mengernyit " Bayu? Apa kau berteman dengan Raka?" Tanya Abimanyu pucat. Bayu mengangguk pelan " Oh." Abimanyu mengulas senyum " Dia anak yang baik, sekarang sedang di sekolah. Dia anak yang baik dan tampan." Tuturnya lalu duduk di sisi ranjang " Ya, Raka anak yang baik. Sekarang makan makanan paman ya, dan minum obatnya." Pinta Bayu menyerahkan sepiring bubur dan obat di tangannya. Raka terdiam melihat sikap Bayu yang begitu lembut dengan ayahnya. Sebenarnya pemuda itu punya berapa kepribadian? Terkadang ia begitu menyebalkan dan terkadang terlihat seperti seorang penyayang. Abimanyu bahkan bersedia makan dari tangannya, meminum obat dan terlihat begitu tenang. " Thanks." Ucap Raka saat Bayu ke luar dari kamar sang ayah. " Ya, bukankah aku berguna? Aku harap kau senang aku di sini." Senyum Bayu berjalan ke arah sofa kemudian melepas penat di sana. " Kenapa kau harus tinggal di sini? Aku yakin rumahmu cukup mewah pastinya." Tanya Raka penasaran Bayu menghela napas kemudian melepas topinya, mengacak rambutnya dan bersender di badan sofa, melepas lelah. " Aku bosan di rumah. Tidak ada yang mengerti passion hidupku, dianggap aneh dan selalu diceramahi." Senyum Bayu " Kenapa dianggap aneh?" " Aku pernah mengalami kecelakaan saat berusia 7 tahun dan koma selama 1 bulan lamanya. Harapan hidupku sangat sedikit kata dokter. Tapi aku berhasil sadar, hanya saja... Saat sadar aku justru seperti hidup di dunia yang berbeda. Aku bisa melihat yang harusnya tidak terlihat, merasakan kehadiran mereka, hampir dikira gila. Dibawa ke psikiater berkali kali. Tapi tidak sembuh juga. Ya begitulah! Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Bertemu denganmu rasanya menyenangkan. Hanya pelayan tua itu yang mengerti keadaanku. Dia sudah seperti ayahku. Begitulah. Bukankah kita harus tinggal di tempat yang membuat kita nyaman?" Cerita Bayu kemudian menyesap segelas air di meja Raka sekarang mengerti, Bayu hampir sama dengannya. " Oh ya, dan ada satu alasan lain lagi." Imbuhnya Raka mengernyit " Kau!" Tunjuk Bayu " Aku? Kenapa aku?" Raka memicingkan mata " Aku khawatir seseorang akan mencoba mencelakaimu lagi. Sama seperti peristiwa kebakaran kemarin." Jawab Bayu kembali mengeluarkan korek api itu dari sakunya. Korek api mahal yang diduga milik si pelaku " Itu hanya sebuah kecelakaan! Berhenti berspekulasi yang aneh aneh." Ujar Raka kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah tangga " Hei kau mau ke mana?" Teriak Bayu " Tidur!" Jawab Raka tanpa menoleh Bayu terdiam melepas kepergian Raka. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke luar rumah, berdiri di teras, melihat ke langit lepas. Bekas hujan tadi membuat langit terlihat lebih pekat " Tuan, anda yakin ingin tinggal di sini?" Tanya pelayan tua tadi. Bayu mengangguk pelan " Jika kau mau, kau bisa pulang." Ujar Bayu " Tidak tuan, saya akan menemani anda di sini." Sosok tua itu menyelimuti Bayu dengan sweater hangat " Bukankah sejak kecil, saya yang selalu menjaga anda. Saya senang anda memutuskan tinggal. Di manapun anda berada, saya akan menemani anda jika diinginkan." Imbuhnya, membuat Bayu tersenyum haru. Ya, memang sejak kecil... Sosok inilah yang selalu berada di sisinya, tidak pernah meninggalkannya. Bahkan lebih dekat dari Barkara, ayahnya sendiri. " Beristirahatlah! Aku ingin sendiri." Pinta Bayu Pria tua itupun mengangguk hormat kemudian meninggalkan Bayu seorang diri. Pemuda itu menatap ke jalan kosong di depan sana, ia mengulas senyum tipis, menyadari sesuatu hadir di tengah sepinya. " Kenapa kau terus mengikutinya?" Tanya Bayu kemudian menoleh ke belakang. Benar saja, di belakang Bayu berdiri sosok mahluk yang tampak menguarkan bau amis darah yang begitu kuat. Sosok yang mengenakan seragam sekolah dengan darah yang terus mengucur dari kedua lengannya. Sosok yang tak lain adalah Natasya. Gadis itu terlihat benar benar pucat dan sedih " Kau bisa melihatku?" Tanyanya dengan suara serak Bayu mengulas senyum menatap Natasya. " Natasya, gadis terpopuler di sekolah yang meninggal karena patah hati dan mengiris nadinya sendiri? Kenapa kau terus mengikutinya?" Tanya Bayu lagi. " Apa kau berniat untuk melampiaskan dendammu?" Natasya menggeleng pelan " Aku tidak bisa mendekatinya. Aku tidak ingin membuatnya sedih. Aku hanya ingin melihatnya dari jauh, menjaganya." Tutur Natasya membuat Bayu mengernyit " Kau mencintainya bahkan setelah kematianmu?" Senyumnya Natasya mengangguk " Kalau begitu, mengapa kau memutuskan untuk mati dan tidak memperjuangkannya?" Natasya menatap Bayu, ia kemudian menunjukkan luka di nadinya, luka yang terlihat menganga dan mengerikan. Hampir memutus lengannya. " Ini...??" Wajah Bayu seketika memucat. Apalagi saat melihat dengan detail kondisi arwah malang itu. Ada bekas hitam di lehernya, dan darah yang mengalir dari selangkangannya. Darah itulah yang menguarkan bau amis menyengat. " Kau... Dibunuh?" Tanya Bayu akhirnya Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN