Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah insiden kebakaran, Raka kembali ke sekolah. Semuanya masih terlihat sama, sikap teman temannya masih acuh, lagi pula ia sudah biasa menerima perlakuan seperti itu. Rasanya tak asing ia ada atau tidak selalu sama saja. Raka tak memiliki teman dekat yang akan menanyakan kabarnya, ia hanya orang aneh yang selalu sendirian.
Langkahnya terhenti di koridor saat melihat Ginjal tampak duduk memijit pelipisnya tak jauh di depan sana. Terlalu malas berurusan dengan Ginjal sepagi ini. Raka hendak berbalik dan memilih arah lain. Tapi...
" Hei! Mau ke mana?" Seseorang tiba tiba merangkul pundaknya. Ya, siapa lagi kalau bukan orang yang Raka cari cari " Bayu "
Raka menghela napas, entah sejak kapan Bayu terlihat sok akrab dengannya. Orang di depannya ini bahkan tidak terlihat seperti anak orang kaya. Penampilan dan sikapnya mirip anak muda pegajulan. Lebih mudah mempercayai bahwa sungokong benar benar ada dari pada mempercayai Bayu adalah putra tunggal keluarga Baskara.
" Mau ke mana?" Tanya Bayu lagi mengangkat sebelah alisnya
" Aku tidak mau berurusan dengan Ginjal, sebaiknya putar arah saja." Jawab Raka jutek
Mendengar hal itu, Bayu mengulas senyum
" Tenang sajalah! Selama bersamaku, Ginjal tidak akan berani membullymu lagi. Ayo!" Ajak Bayu menarik lengan Raka melangkah bersamanya. Anehnya, Ginjal hanya melihat, tidak menegur apalagi membully dirinya. Biasanya, Ginjal berubah menjadi singa yang melihat mangsa saat berpapasan dengan Raka. Kali ini, ia bersikap biasa saja, melirik kemudian kembali tertunduk. Raka mengulas senyum, pengaruh Bayu ternyata lumayan besar juga.
" Ayo! Ke kantin!" Ajak Bayu
" Tidak, aku tidak terbiasa ke sana. Oia apa benar kau yang meminta orang orang memperbaiki rumah itu?" Tanya Raka
" Hei dengar, aku Bayuandra Dreenan Baskara. Sejak kecil aku tidak terbiasa ditolak apalagi oleh adik kelas sepertimu. Ayo ke kantin dan aku akan menjelaskan semuanya, menjawab semua pertanyaanmu." Tegas Bayu membulatkan matanya
Raka hanya mengulas senyum, belum sempat ia menjawab Bayu sudah setengah menyeretnya ke kantin. Situasi yang sama terjadi, gadis gadis yang biasanya cari perhatian ke Raka hanya bisa diam menatap saat ia dan Bayu masuk ke kantin. Rasanya begitu lega dan jauh lebih tenang. Apa sebaiknya Raka berteman saja dengan Bayu agar hidupnya tenang?
Mereka memesan 2 bakmie ayam dan 2 teh jeruk hangat.
" Aku ingin tinggal di sana."
" Uhuk Uhuk." Raka terbatuk saat menyeruput tehnya, mendengar apa yang Bayu katakan barusan. Mana ada tamu yang menyatakan ingin tinggal sendiri seperti itu
" Kenapa? Kau keberatan? Sekarang rumah itu juga milikku kan? Aku yang memperbaiki dan membuatnya layak huni. Selain itu kau tidak akan mampu mengurus rumah sebesar itu sendirian. Jadi aku akan membawa Pak Toni ke sana. Pelayan tua yang semalam pasti kau lihat di sana. Bukankah itu bagus, apa aku juga harus menyewa satpam dan suster untuk merawat ayahmu?" Senyum Bayu menyesap tehnya dengan santai
Raka menghela napas panjang
" Terserah kau saja!" Jawabnya singkat. Percuma mengatakan tidak, karena Bayu tidak akan menurut juga. Ia memang seperti seorang tuan muda tapi versi berbeda dengan yang ada di dunia perdrakoran. Jika di dunia film, tuan muda selalu terlihat elegan, tampan, berwibawa, sebaliknya Bayu terlihat seperti anak tak diakui yang bersikap slengean. Walaupun parasnya memang terlihat lumayan tampan juga, kulitnya bersih dan selalu wangi. Tetap saja, ia tidak terlihat berwibawa sama sekali Tuan muda dengan sikap aneh dan arogan.
" Apa kau tahu apa penyebab kecelakaan di rumahmu?" Tanya Bayu membuat Raka terdiam, meletakkan sendoknya kemudian menatap Bayu
" Tidak, itu hanya sebuah musibah." Jawab Raka
Bayu mengulas senyumnya kemudian melepaskan topi yang selalu ia pakai
" Aku menemukan ini di sekitar puing rumahmu, berjarak 50 meter saja dari sana." Bayu merogoh sakunya kemudian menunjukkan sebuah korek api di meja
" Maksudmu?" Raka mengernyit
" Lihat baik baik korek api ini. Kau tinggal di kawasan kumuh. Sedangkan ini korek api senilai puluhan juta dengan merek Dupon Lighten. Apakah ada tetanggamu yang mampu membelinya? Kalaupun ini tertinggal maka posisinya akan ada di jalan. Tidak di semak semak. Kau yakin itu hanya sekedar musibah? Bukan dibakar?"
Deg
Raka mengambil korek api itu. Benar, spekulasi Bayu tidak mungkin meleset. Tak ada tetangganya yang akan mampu membeli korek api semahal itu. Tapi siapa yang tega membakar apartemen susun sederhana itu? Sementara isinya kebanyakan hanya ibu ibu miskin dengan anak anak kecil.
" Jadi??" Bayu mengulas senyum mengangkat sebelah alisnya
" Sudahlah." Raka berdiri dari duduknya
" Aku tidak peduli rumah itu dibakar atau memang kecelakaan. Lagi pula tidak ada bukti kalau itu disengaja dan tidak ada untungnya bagiku." Celetuk Raka dengan coolnya kemudian berbalik dan melangkah ke luar dari kantin.
Bayu tersenyum mengambil kembali korek api itu
" Tidak ada untungnya karena kau tidak tahu seberapa penting kebakaran itu." Gumamnya dengan mata memerah
Ya, kau belum tahu
Di luar sana... Raka terdiam sembari terus melangkah menuju kelas. Ia memang tegar di depan Bayu. Tapi kebakaran itu menimbulkan trauma yang sangat besar. Dadanya serasa sesak setiap kali mengingat api besar yang melahap habis bangunan yang ia tempati sejak kecil itu. Ia belum siap menerima kenyataan jika memang hal itu disengaja. Siapa yang begitu tega membakar tempat tinggal banyak orang miskin begitu saja seperti itu?
Apa tujuannya?
Jauh dalam lamunannya...
Tiba tiba...
Bruk
" Awww."
Raka tersentak dari lamunannya, menyadari seseorang terjatuh di depannya, meringis memegang sikunya yang tampak memar, seorang gadis dengan rambut panjang sepinggang.
" Sorry." Ujar pemuda itu tanpa menawarkan bantuan, ia justru hendak beranjak pergi begitu saja
" Heeiiii!!" Teriak suara gadis itu
Ia berdiri dengan wajah marah. Raka menoleh santai
" Ada apa?" Tanyanya seketika membuat gadis itu terkesiap. Sepertinya ia siswi baru, dan baru kali itu ia berjumpa dengan Raka Kenziera.
" Ada apa?" Tanya Raka lagi kali ini sedikit dengan kerutan kening yang membuat wajahnya terlihat semakin sexi saja.
" Kenapa tidak membantuku berdiri? Apa begitu caramu memperlakukan seseorang yang baru saja terjatuh karena ulahmu?" Nada suara gadis itu melembut. Ia bahkan tersenyum manis meredam rasa marah di hatinya.
" Apa itu hanya salahku?"
" Eh?" Senyum manis di bibir gadis itu surut seketika
" Kalau kau hati hati, kau tidak akan terjatuh."
" Apa katamu?" Ia mulai berkacak pinggang.
" Sudahlah, kau juga tidak apa apa kan? Aku harus ke kelas." Celetuk Raka berbalik dan meneruskan langkahnya
" Dasar menyebalkan! Apakah kau tidak pernah diajari sopan santun hah? Apa begitu caramu bersikap? Kau pikir kau siapa? Aktor? Pejabat? Artis? Idol? Siapa hah? Untung ganteng kalau gak aku acak acak tuh muka. Nyebelin banget sih!" Teriak gadis itu meluapkan emosinya
" Hahaha." Tawa seseorang di belakang membuatnya menoleh geram
Tampak Bayu bersender di dinding, menertawakannya.
" Ada yang lucu?" Celetuk gadis itu merapikan almamaternya
" Ya, kau terlihat lucu. Btw namaku Bayu." Senyum Bayu mengulurkan tangannya
" Tidak penting!" Celetuk gadis itu tidak menjabat uluran tangan Bayu, malah beranjak pergi, meninggalkan Bayu yang tertegun kaget. Baru kali ini ada seorang gadis yang bersikap setengil itu.
Siapa gadis itu sebenarnya?
-Beralih ke Raka-
Pemuda itu duduk di dalam kelas, tak berapa lama kemudian Bayu datang dan duduk pada bangku di sisinya.
" Jadi kau benar benar tidak naik kelas?" Senyum Raka sinis
" Ya, guru guru di sini terlalu menyayangiku, karena itu susah sekali untuk naik kelas dan lulus. Oiya gadis tadi cantik ya." Ujar Bayu menimpali
Raka hanya diam membaca buku di tangannya.
" Kalau sikapmu seperti ini, kau akan berakhir sendirian." Celetuk Bayu
" Aku tidak peduli." Jawab Raka tanpa menatap
Bayu menghela napas panjang, tatapannya beralih ke arah jendela. Seakan ia bisa melihat ada Natasya yang tampak memperhatikan Raka dari luar sana.
" Jangan sampai ada lagi yang bernasib sama dengan Natasya." Senyum Bayu kemudian menundukkan wajah
Raka mengernyit
" Kenapa kau menyebut nama itu?" Tanyanya tak suka
" Dengar, bersikap dingin tidak selamanya membawa kebaikan. Kau bisa kehilangan segalanya. Dunia ini tidak hanya tentang dirimu dan ayahmu. Kau harus belajar membuka hati. Belajar tersenyum." Senyum Bayu menasehati
" Itu bukan urusanmu." Ujar Raka kemudian kembali membaca bukunya.
Tak lama kemudian guru yang mengajar di kelas itu masuk dan mulai mengabsen, saat tiba pada nama dibarisan ke 10...
" Ginjal!!" Teriak guru itu
Tak ada jawaban
" Ginjal tidak masuk lagi?" Tanyanya melihat ke segala sudut ruangan.
" Baiklah, ini sudah satu minggu dia bolos. Tolong sampaikan salam dari ibu agar dia segera ke ruang.....
" Hadir!" Belum selesai guru itu melanjutkan kata katanya, Ginjal tampak masuk ke kelas dengan santainya.
Entah kenapa, raut wajah pemuda itu terlihat berbeda. Ia tidak sesangar sebelumnya
" Lain kali jangan terlambat, Ginjal. Setelah jam istirahat temui guru BK!" Perintah guru itu terlihat kesal
" Baik." Jawab Ginjal tak seperti biasanya
" Kenapa dia? Apa dia terkena demam?" Senyum Raka sinis
Sebaliknya, Bayu terlihat diam menatap ke arah Ginjal.
Benar, sepanjang pelajaran... Ginjal terlihat murung. Mungkinkah karena ia masih merasa kehilangan Natasya? Saat jam belajar selesai, Ginjal juga tampak bergegas berdiri dan setengah tergesa gesa ke luar dari kelas.
Raka melihat Ginjal berjalan ke arah halaman, menemui Gojek yang mungkin ia pesan.
Sikapnya benar benar aneh
" Apa yang kau lihat?" Sapa seseorang menghentakkan lamunan Raka.
Ia menoleh dan mendapati gadis tadi tersenyum di belakangnya.
" Kau lagi." Ujar Raka dingin
" Ini punyamu?" Gadis itu menyerahkan bolpoin biru milik Raka yang memang hilang usai insiden tadi.
" Ini terjatuh tadi. Susah lho mencari kelasmu, karena aku tidak tahu namamu siapa. Aku harus mengenali satu persatu anak di setiap kelas. Beruntung tidak ada yang mirip denganmu. Aku Natalie?" Gadis itu mengulurkan bolpoin itu ke hadapan Raka.
Raka mengambilnya begitu saja kemudian beranjak pergi
" Tunggu! Kau belum mengatakan namamu kan?" Kejar gadis bernama Natalie itu mengekori
" Raka!" Jawab Raka singkat tanpa menoleh
" Apa kau tahu caranya meminta maaf atau berterima kasih?" Pertanyaan Natalie menghentikan langkah Raka. Pemuda itu menoleh sembari mengernyit tak suka
" Apa kau juga tahu tentang sopan santun? Jangan mengikuti orang asing!" Tunjuknya tegas
Natalie mengulas senyum
" Kita baru saja berkenalan, jadi sudah bukan orang asing kan." Balasnya memasang wajah imut
" Terserah kau saja!" Raka hendak meneruskan langkahnya. Sebelum...
" Lagi pula... Cuma kau yang bisa melihatku kan? Kau dan temanmu tadi.."
Deg
Langkah Raka kembali terhenti
Apa maksud Natalie sebenarnya?