" Maafkan aku, Na." Kata kata Bayu tadi entah kenapa terus terulang di benak Natalie. Gadis itu duduk di sisi Ginjal, di ruangan yang begitu dingin dan sesak dengan aroma obat. Ia menatap kakaknya sambil memegang kotak kado di tangannya, bola matanya berkaca kaca, beberapa kali bulir bening jatuh menetes ke pipi cantiknya. " Kak... Kakak bisa mendengarku? Mungkin kakak tidak bisa mendengarku, tapi rasanya sudah sangat lama kita tidak bicara berdua seperti ini. Kak, aku bingung." Tutur Natalie, perlahan... Ia menyentuh kulit tangan Ginjal, walaupun jari jarinya tampak menembus. " Bayu sepertinya sangat mencintaiku dan bodohnya aku sama sekali tidak menyadari hal itu kak. Kakak benar, aku ini tidak teliti, aku tidak peka, aku bodoh. Bukankah aku sudah menjadi sangat kejam? Dia hampir saj

