Seperti daun segar yang mengering karena panas
Seperti itu aku yang menunggumu di tengah badai derita
Menangis dan tak ada yang tahu
Menjerit dan tak ada satupun yang mendengar
Entah... Aku akan bisa melihatmu lagi...
Atau mengering, gugur dan menghilang menjadi debu
Yang aku mengerti dari cinta ini, adalah penantian yang tak menemukan arti
~ Nicki
" Tolong, perutku sakit." Rintih Nicki menahan perutnya.
" Maaf nona."
Brak
" Tolong!!" Nicki mencoba berdiri, tertatih menuju pintu yang baru saja ditutup setelah pelayan tadi menyodorkan makanan di atas lantai di dalam nampan.
" Buka Asih!! Tolong buka!!! Kenapa kalian begitu kejam." Tangis Nicki menggedor pintu.
Prank
Gadis itu menendang nampan makanan di lantai kemudian terduduk, menangis frustasi.
Ia terlihat sangat berbeda, kulitnya penuh dengan luka memar, lebam, sudut bibirnya berdarah, rambutnya acak, terlihat beberapa darah yang mengering dari beberapa luka. Sudah jelas, Nicki disiksa. Tapi kemana hati Maharani melihat putrinya begini? Kondisinya benar benar menyedihkan dan itu menyakiti hati Raka. Ingin rasanya ia memeluk dan menyelamatkan Nicki, andai bisa.
" Sayang, bertahanlah! Ayahmu pasti akan segera pulang dan menyelamatkan kita." Ucap Nicki membelai perutnya yang masih terlihat datar. Semua jendela di kamar itu terlihat dikunci rapat, bahkan ada kayu yang sengaja dipasang di luar sana.
" Nicki." Air mata Raka menetes turun. Betapa berat penantian gadis itu. Ia membuka laci kemudian memeluk sebuah foto. Foto yang membuat Raka tertegun, itu foto yang sama yang selalu Nicki lihat. Foto yang begitu mirip dengan Raka, Alif Hendrawan. Bahkan Raka merasa itu memang foto dirinya.
Gadis itu kemudian terlelap di ranjangnya sembari memeluk foto di dadanya.
" Aku tidak butuh air atau makanan, aku hanya ingin bertemu dengannya. Walaupun harus mati dan menderita ribuan kali, aku akan siap menghadapi asalkan bisa melihatnya lagi." Gumam Nicki. Ia benar benar sangat mencintai Alif. Tapi kenapa Alif tidak pernah datang? Setakut itukah ia untuk melawan ayahnya? Sementara Nicki tampak begitu menderita.
Cinta memang indah tapi begitu mengerikan
Tak lama setelah semuanya hening, banyak lampu yang mati serta para pelayan sepertinya sudah pulang... Raka mendengar ada langkah kaki mendekati kamar Nicki. Ia mendengar ada suara kunci dimainkan kemudian pintu pun terbuka. Seorang pria dengan setelan jas mahal mengulas senyum menyalakan lampu yang seketika membuat kelopak mata Nicki yang tadinya terpejam kembali terbuka. Ada raut ketakutan di wajah gadis malang itu. Ia meringkuk di atas ranjangnya, keringat dingin membasahi keningnya.
" Ayah." Ujarnya pelan
Klek
Pria yang ternyata Andika Hendrawan itu kemudian menutup pintu pelan, menguncinya dari dalam dan mengulas senyum lapar
" Bagaimana kabarmu hari ini sayang?" Tanyanya melangkah mendekati Nicki
Barulah Raka mengerti, Nicki tidak hanya menderita dalam penantiannya tapi juga di malam malam dalam tidurnya. Jari jari Raka mengepal marah melihat apa yang coba dilakukan Andika pada Nicki.
" Lepaskan! Lepaskan aku!! Tidak! Jangan lagi! Tolooongggg!!!" Teriak Nicki serak, menderita dan ketakutan. Apalagi saat Andika melepaskan sabuknya dan memukuli Nicki sembari memandangi luka lukanya dengan penuh hasrat. Ia menarik tubuh gadis itu kasar lalu mulai melecehkannya.
" Tolooongg,, hmmmpphh!!" Mulut gadis itu disumpal dengan kain kaos kaki dari Andika sembari tubuhnya digauli dengan kasar.
" Lepaskan dia b******n! Lepaskan!" Teriak Raka emosi. Tapi ia tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Nicki, hanya bisa melihat dan merasakan bagaimana menderitanya Nicki.
Tak hanya itu, Andika kemudian menggendong tubuh Nicki ke kamar mandi, mencekik dan kembali melecehkannya dengan kasar di sana.
" Tidak sia sia aku menikahi ibumu! Aku mendapatkan bonus yang menarik." Ujarnya
Dan Nicki, ia berada di satu titik yang tak mampu berteriak lagi. Sekalipun ia menjerit, tidak akan ada yang mendengarkan tangisannya.
Setelah puas menyiksa, Andika keluar dari kamar itu dan mengunci pintunya dari luar. Perlahan, Nicki berdiri dengan kaki gemetar, meraba perutnya yang terasa sakit.
" Mama akan bertahan demi kamu nak, ayah pasti pulang." Isaknya sedih
" Nicki, jika aku memang dia. Tolong maafkan aku." Air mata Raka menetes turun. Jika memang ada serpihan jiwa Raka di dalam dirinya maka tak ada yang ia rasakan selain penyesalan karena menjadi pengecut. Betapa kuatnya Nicki, ia berusaha tegar, membersihkan lukanya, kemudian mengganti pakaiannya. Mungkin air matanya sudah kering. Gadis itu duduk di depan cermin dengan tatapan kosong kemudian menyisir rambutnya pelan.
Tak berapa lama setelah itu, pintu kamar Nicki kembali terbuka. Tampak wanita bernama Maharani tadi melangkah masuk
" Mama." Senyum Nicki pucat
Tapi ...
" Anak kurang ajar!"
Plak
Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Nicki yang langsung terhuyung dengan sudut bibir berdarah
" Ayahmu bilang kau melawan, melempar makanan dan bahkan menyumpahinya. Apa ini yang aku ajarkan padamu hah?" Marahnya melihat nampan makanan berserakan
Nicki hanya diam dan menangis. Sekalipun ia bersuara mungkin tak akan dipercaya lagi
" Anak bawa s**l! Harusnya aku melenyapkanmu sejak aku mengandungmu jika aku tahu kau hanya akan membuatku malu begini. Sialaaan!!" Maharani mendorong bahu Nicki hingga terduduk ke ranjangnya.
" Mama, apakah Alif menelepon hari ini?" Tanya Nicki gemetar
" Alif? Kau tidak merasa malu menanyakan nama itu? Kalian sudah melakukan aib dan mencoreng nama baik keluarga ini dan kau masih bertanya tentangnya? Lupakan Alif jika masih mau hidup!" Tunjuk Maharani berang
" Mama, aku mohon. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarnya." Isak Nicki melipat tangannya di depan d**a. Cintanya untuk Alif memang terlihat melebihi dari jiwanya sendiri.
" Kau mau tahu?" Senyum Maharani dengan wajah memerah
Nicki mengangguk senang
Bahkan derita dan pahitnya hidup akan terasa manis saat ia mendengar nama Alif.
" Alif akan segera menikah. Ia menemukan gadis dari keluarga baik baik. Jadi berhenti berpikir tentangnya. Alif sudah lama melupakanmu!"
Senyum di bibir Nicki surut.
" Itu tidak benar." Ujarnya sedih
" Lupakan dia dan belajarlah dari kesalahanmu. Aku akan pergi selama 2 hari bersama teman teman arisanku ke luar kota. Jika aku mendengar hal buruk tentang sikapmu lagi. Aku akan mengirimkanmu ke rumah sakit jiwa!" Ancam Maharani kemudian keluar dari ruangan itu dan kembali menguncinya rapat.
Bisa ditebak apa yang terjadi selama 2 hari kemudian. Nicki semakin menderita. Andika bahkan tidak berangkat ke kantor dan meliburkan pelayan hanya untuk menjadikan Nicki bulan bulanan. Ia membuat pesta di rumahnya dan menjual putri tirinya itu pada siapapun yang memenangkan undian.
Jam berdenting 9 kali saat pesta itu selesai, meninggalkan rumah yang terlihat porak poranda. Andika lupa mengunci pintu kamarnya setelah bersenang senang dengan Nicki atau lebih tepatnya menyiksa dirinya. Nicki menjerit kesakitan, perutnya terasa begitu nyeri dan darah segar membanjiri lantai ke luar dari celah celah kakinya.
" To...long." Desahnya pelan menahan sakit. Tertatih, ia melangkah ke luar, pintu tidak terkunci. Nicki mencoba meraba telfon di meja, ia justru mencoba menelepon nomor Alif yang tak terhubung. Nicki membuka buku telfon, mencoba mencari nomor baru Alif. Dan dengan tangan gemetar, ia menemukan sebuah nomor asing, bertuliskan Alif USA.
Senyum pucat mengulas di bibir pucat berdarahnya. Nicki segera menelponnya, nomor itu terhubung. Cahaya kehidupan di matanya seakan kembali, semangatnya yang hilang seakan kembali menyala.
" Ha... Halo." Suaranya menyapa setelah mendengar bunyi klik, tanda telepon diangkat.
" Nicki?"
Deg
Itu benar benar suara Alifnya, Alif yang sangat ia rindukan. Nicki meneteskan air mata hanya dengan mendengar suara itu.
" Nicki itu kau?"
" Ya, Alif... Ini aku. Bagaimana kabarmu?" Tanya Nicki
Tapi...
" Shiit! Di mana ayah? Kenapa dia membiarkanmu menelfon? Bukankah kau dikurung di kamarmu?" Suara Alif terdengar marah dan itu membuat Nicki sedih. Ada apa dengan kekasihnya itu?
" Alif, tolong jemput aku! To ..long datanglah. Aku sangat menderita. Kapan kau pulang?" Tanya Nicki gemetar
" Pulang? Aku bahkan tak ingin mendengar suaramu." Bentak Alif terdengar marah
" Kenapa kau bicara begitu Alif? Kenapa kau menyakiti hatiku?" Tangis Nicki sedih
" Hah, kau mau tahu? Baik, aku akan memberitahumu. Aku sangat membencimu! Ayah memberikan bukti bahwa kaulah yang mendorong Dewi ke kolam renang, kau juga yang telah menyuruh orang untuk menabrak kekasihku yang lain. Kau gila dan aku tidak mau berurusan dengan orang gila seperti dirimu! Anak yang kau kandung juga belum tentu anakku. Kenapa? Karena kau putri ibumu! Sifat kalian pasti sama. Jadi untuk apa aku menemuimu lagi! Kau beruntung karena aku tidak melaporkan kejahatanmu ke polisi. Tapi jangan ganggu aku lagi!" Tekan Alif. Dan ....
Tut... Tut... Tut ....
Telefon dimatikan. Berkali kali Nicki mencoba kembali menghubungi Alif, tapi tidak terhubung.
" Alif, aku tidak sejahat itu. Itu semua fitnah! Alifff." Nicki menangis sesak. Ia memeluk telfon itu ke dadanya. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ia tidak tahu di mana Alif sementara pendarahannya tidak mau berhenti. Nicki sadar, mungkin ia sudah kehilangan calon bayinya. Tak ada yang bisa ia perbuat lagi selain dendam membara yang membuatnya benar benar gila
Malam itu, tepat jam 9 malam... Sama seperti denting yang selalu Raka dengar saat bangun dari tidurnya, petaka besar itu terjadi.
Saat Andika tertidur lelap di sofanya, Nicki datang dengan tubuh yang dipenuhi darah, membawa pisau daging dari dapurnya. Pria ini telah menghancurkan hati, tubuh dan namanya, maka tak ada lagi yang ingin Nicki lakukan selain membalaskan dendam
" Matilah kau!" Ucapnya geram kemudian mengalungkan belati itu ke leher Andika dan menggoroknya s***s. Andika terbangun, ia berdiri terhuyung huyung, menatap Nicki dengan bola mata memerah lalu kemudian ambruk di lantai dan menggelepar.
" Kau menyukai tubuhku kan? Kau menyukai air mataku? Sekarang aku meminta bayaran untuk semua itu! Aku menyukai penderitaan dan darahmu. Kau telah membuatku kehilangan segalanya! Kau harus mati!!" Teriak Nicki kemudian menusukkan pisau itu ke kepala Andika berkali kali hingga sosok itu meninggal dengan kondisi yang begitu mengerikan.
Nicki tertawa lepas melihat pemandangan mengerikan di depannya. Ia kemudian melangkah terhuyung menuju kamar supir pribadi keluarga itu yang terkadang juga suka memaksanya, Nicki melakukan hal yang sama. Ia membantai semua penghuni kediaman Hendrawan. Gadis itu kemudian mengunci semua pintu dan jendela. Hingga... 1 hari kemudian... Tepat tengah malam...
Maharani pulang dari liburannya, ia memencet bel dan mengunci pintu berkali kali. Anehnya, rumah itu terlihat gelap, tak seperti biasanya. Wanita itu kemudian merogoh kunci cadangan dan membuka pintunya. Bau amis langsung menguar saat ia melangkah masuk
" Sayang!! Aku pulang!! Hendro!! Asih!! Kalian di mana? Kenapa gelap begini?" Teriaknya kesal.
Tap tap tap
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Maharani mencoba mengenali sosok itu dari balik gelap
" Hei kau siapa? Kenapa semuanya dibiarkan gelap begini? Nyalakan pintunya!" Perintahnya. Tapi sosok itu masih tegap diam bergeming di sana
" Baiklah! Aku akan menyalakannya sendiri! Kenapa rumah ini bau sekali. Apa saja pekerjaan kalian selama aku pergi!" Kesal Maharani kemudian mencari saklar di dinding dan menyalakan lampu.
Tapi saat lampu menyala...
" Aaaarrkkh!!" Ia menjerit ketakutan.