Tentang Nicki

1711 Kata
" Siapa kau sebenarnya?" Tanya Raka dengan suara getir. Terlihat jelas, ia mulai takut. Hal ini sudah terasa begitu aneh baginya. Pemuda itu mengulas senyum misterius pada Raka kemudian berkata : " Ikut denganku!" *** " Dia Nina, Nina Alika Hendrawan, anak tiri dari Andika Hendrawan. Pengusaha Textile yang cukup ternama. Nama panggilannya Nicki." Sosok itu duduk pada bangku taman yang tampak sepi. Sementara Raka masih berdiri dengan kening mengernyit " Kenapa kau menceritakan hal ini?" Tanya Raka " Pengusaha Textile Andika Hendrawan begitu populer dan sangat disegani di masa kejayaannya. 75 tahun yang lalu." Deg " 75 ta...hun?" Perasaan Raka mulai tak enak. Sosok itu mengulas senyum kemudian mengangguk " Kau ingin tahu tentang Nicki bukan? Kenapa dia tinggal sendirian di tempat itu?" Raka mengangguk " Nicki adalah anak tunggal ibunya. Maharani Hendrawan. Ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya karena memang pekerjaan ibunya adalah wanita penghibur, mungkin dia tidak pernah tahu yang mana ayahnya. Masa kecilnya cukup kelam, dibully, dihina dan dianggap sebagai anak haram. Tapi ketika Nicki lulus sekolah dasar ibunya Maharani seperti mendapatkan sebuah undian keberuntungan. Seorang pengusaha ternama, salah satu pelanggannya, jatuh cinta padanya, berniat menikahinya. Mereka kemudian menempati rumah megah itu. Saat itulah, kehidupan Nicki berubah. Dia bagaikan ulat yang menjelma menjadi kupu kupu. Tapi sayangnya, ia jatuh cinta pada orang yang salah." Cerita sosok itu terhenti " Orang yang salah?" Raka mengernyit " Ya, dia menyukai kakak tirinya sendiri. Alif Hendrawan. Nicki tergila gila padanya, terobsesi lebih tepatnya hingga menghalalkan segala cara agar Alif tidak bisa dekat dengan wanita manapun. Nicki merasa kalau Alif diciptakan memang hanya untuknya. Karena itu ia terus mendekat dan merayu kakak tirinya. Dia merasa Alif juga mencintainya, mungkin memang Alif terlihat perhatian dan tertarik pada Nicki tapi tidak dengan mencintainya. Beberapa tahun kemudian, Alif memutuskan melanjutkan studinya di luar kota dan ia kembali dengan pasangan barunya, Dewi. Seluruh keluarga menyetujui hubungan mereka berdua kecuali Nicki. Dan seperti biasanya, seperti sebelumnya, beberapa hari sebelum hari pertunangan Dewi dengan Alif, Dewi ditemukan meninggal tenggelam di kolam renang. Padahal sudah jelas gadis itu tidak bisa berenang. Beberapa kali hal mengerikan itu terjadi. Dewi, kemudian Sarah kekasih Alif setelahnya yang kecelakaan hanya beberapa hari sebelum pernikahannya. Alif sempat mengutuk dirinya sendiri sebagai pembawa s**l sampai akhirnya ia menjadi lebih dekat dengan Nicki yang selalu bisa menjadi penenangnya. Mereka melakukan hubungan terlarang, Nicki yang memang tergila gila dengan Alif menyerahkan dirinya pada kakak tirinya itu. Alif yang putus asa pun merasa Nicki mungkin satu satunya wanita yang mampu berada di sisinya. Hubungan diam diam mereka berjalan mulus selama beberapa bulan. Sampai pada akhirnya, Andika Hendrawan mencurigai mereka. Dia meminta Maharani untuk memata matai Nicki yang terlihat berubah, sakit, demam, kemudian mengalami mual sepanjang hari hingga mengurung dirinya di kamar dan hanya mau menerima makanan jika Alif yang mengantarkannya. Dan ya, benar, dia mengandung anak dari Alif. Tidak hanya anak haram tapi juga anak terlarang. Andika marah besar, ia memaksa Alif pergi ke luar negeri, sejauh mungkin sebelum orang orang mengetahui tentang aib ini dan harga dirinya hancur berantakan. Setelah Alif pergi, Nicki dikurung di kamarnya, dipaksa untuk aborsi. Semua keluarga menentang kehamilannya, mereka ingin menggugurkan paksa anak dari rahim Nicki dengan cara apapun, tapi tidak berhasil. Tidak ada yang mempercayai Nicki dan hari harinya dihabiskan dengan penderitaan panjang sambil berharap suatu hari Alif akan datang dan membawanya pergi. Bahkan Maharani, ibunya, sama sekali tidak peduli lagi dengan Nicki. Ia sibuk dengan geng sosialitanya. Dan membiarkan Nicki merasa terkurung di rumah megah itu. Beberapa bulan Nicki berusaha bertahan dengan kandungannya. Hingga tragedi malam itu terjadi. Nicki mengalami pendarahan hebat, sendirian, saat Maharani pulang larut malam, ia melihat seluruh rumahnya sudah dipenuhi dengan noda darah dan Nicki berdiri di anak tangga menggenggam sebuah belati di tangannya. Belati yang penuh dengan noda darah. Tepat di depan mata ibunya, Nicki menggorok lehernya sendiri. 60 tahun yang lalu." Cerita sosok itu berakhir dengan satu helaan napas panjang Sebaliknya, Raka seakan tidak percaya mendengar segalanya. Ia terduduk di hadapan pemuda itu dengan wajah pucat dan kaki gemetar. Mimpi yang selama ini terus menghantuinya seakan tergambar jelas kembali. Saat ia terbangun di pemakaman, bertemu dengan seseorang yang bersimbah darah lalu menggorok lehernya sampai ia terbangun. Apakah mimpinya itu berarti tentang Nicki? Lalu kenapa harus ia yang dihantui? " Apa semua ceritamu bisa dipercaya? Nicki hantu? Kau bercanda? Aku bahkan tidak tahu siapa kau sebenarnya!" Celetuk Raka menatap sosok itu sinis. " Hmm, terkadang seseorang akan sulit menerima kenyataan jika hal itu tidak sesuai dengan hatinya bukan? Kau pikir siapa yang mau menempati rumah itu sendirian jika ia masih hidup. Sebaiknya kau kembali dan segera pergi... Karena..." " Karena?" Sosok itu berdiri, ia kemudian menaruh tangannya di dalam saku dan melangkah ke hadapan Raka dengan santainya, ia mengulas senyum misterius seperti biasanya saat memandang wajah Raka. " Mereka yang mati dipercaya bisa kembali setelah 50 tahun, Nicki sudah sangat lama menunggu Alif kembali. Dan dia ada di sini." Tunjuknya ke d**a Raka yang terhenyak tak mengerti " Kau sangat mirip dengannya." Imbuhnya kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi " Hei!!" Raka berdiri, mencoba memanggil. Tapi ia sama sekali tidak menoleh dan terus melangkah pergi " Hei!! Apa maksudmu! Jadi Alif sudah meninggal? Selesaikan dulu ceritamu!!" Teriak Raka kesal " Pulang saja dan selamatkan ayahmu sebelum terlambat!" Balas sosok itu sembari terus melangkah pergi Benar, ayah... Raka langsung berlari melawan arah menuju rumah Nicki. Sebenarnya ia tidak begitu percaya dengan cerita dari sosok yang baru ia kenal itu. Tapi jika itu memang benar, Raka tidak mau membahayakan ayahnya yang masih berada di sana. Sementara itu... Di rumah itu, Nicki tampak terdiam dengan wajah pucat di depan kompor, berdiri dengan pisau di tangannya, menatap kosong ke jendela dapur. Ia seakan tahu ada yang menceritakan tentang dirinya. Benarkah gadis bak boneka barbie itu sudah lama meninggal? " Kau tidak akan pernah pergi lagi kan, Alif?" Gumamnya gusar. Perlahan, darah segar menetes dari selangkangannya, menetes ke lantai, itu terlihat mengerikan. " Kau tidak akan pergi lagi kan?" Beberapa menit setelah itu... Raka pulang, ia berusaha membuka pintu depan, tapi terkunci. " Ayah!!!" Teriaknya mulai panik mencoba melihat suasana di dalam rumah dari jendela kaca terkunci yang tampak usang " Ayah!" Dor dor dor Berkali kali Raka mencoba menggedor jendela, ia begitu cemas dengan kondisi sang ayah. Apalagi saat ia melihat Nicki melangkah turun dari tangga dengan baju bersimbah darah dan menggenggam sebilah pisau yang masih tampak memerah " Nicki!! Buka pintunya! Nicki!!" Teriak Raka menggedor berkali kali. Nicki hanya menatapnya pucat, air matanya meleleh turun. Ia menggeleng pelan " Nicki tolong buka pintunya! Aku harus bertemu dengan ayah. Please!" Pinta Raka dengan wajah panik " Tidak, kalau aku membukanya kau pasti akan pergi seperti sebelumnya." Jawab gadis malang itu kemudian perlahan tubuhnya menghilang dan hanya menyisakan gelap. Sudah jelas, cerita sosok tadi benar, Nicki tidak mungkin manusia. " Ya Tuhan!! Nicki!! Buka pintunyaaa!! Aku harus mencari sesuatu." Dengan bingung, Raka mencari apapun yang bisa membantunya masuk ke dalam rumah itu. Hingga... Tatapannya terarah pada besi tua yang sebelumnya ia temukan tampak tergeletak di dekat pintu masuk. Raka segera mengambil dan memukulkannya pada jendela. " s**l!!" Decaknya ketika menyadari jendela itu terbuat dari kaca anti pecah. Sampai malam tiba, Raka belum berhasil masuk. Itu benar benar rumah desain orang kaya, kaca anti pecah, pintu anti maling, pemuda itu terduduk lelah, gedoran tangannya mulai melemah, keringan membasahi tubuhnya yang sexi. Segala cara sudah ia coba untuk menerobos masuk, tapi sia sia. " Nicki please!" Gumamnya lemas Sejenak, ia terdiam, mencoba mengingat semua cerita yang tadi ia dengan tentang Nicki. Mungkin ia bisa menemukan jawaban. Hingga ... Raka berdiri dari duduknya, ia seakan menemukan semangatnya kembali. Bukankah tadi sosok itu bilang Nicki sangat mencintai Alif dan ia bisa melakukan apapun demi Alif. " Nicki! Nina Alika Hendrawan! Ini aku! Aku pulang! Apa kau tidak mau membukakan pintu untukku?" Teriak Raka berusaha tenang Deg Di sana... Nicki menoleh ke arah pintu dengan air mata darah yang meluncur turun. " Alif?" Wajah cantiknya memerah " Nicki, tolong buka pintunya! Aku ingin bertemu denganmu. Tolong! Buka pintunya. Mungkin aku bisa mengingat segalanya!" Bujuk Raka Dan .... Klek Pintupun terbuka. Raka mengulas senyum lega, setidaknya ini berhasil. Ia begitu mencemaskan Abimanyu " Raka." Tampak sosok Nicki melangkah pelan dari atas tangga, tubuhnya seakan bersinar dan lampu ruangan itu pun menyala. Raka terdiam, ada rasa getir di hatinya, tapi ia harus terlihat tenang dan terpaksa mengulas senyum. Secantik apapun, hantu tetaplah hantu. " Aku sangat merindukanmu." Ujar Nicki membelai wajah Raka yang mematung merasakan dingin tangan gadis di depannya. Raka bisa melihat ada banyak kesedihan di mata gadis itu. Bau amis sangat menyengat dari tubuhnya. Ia kemudian memeluk Raka erat. " Mereka sangat jahat, aku terus menunggumu. Apa salah jika aku mencintaimu? Kita tidak memiliki hubungan darah kan? Kau ingin tahu apa yang mereka lakukan padaku?" Tanya Nicki mengusap pipi Raka. Raka mengangguk pelan. Perlahan, gadis itu menutup mata Raka dengan kedua tangannya. Lalu berbisik di telinganya... " Buka matamu!" Raka membuka matanya pelan, cahaya dari lampu kristal langsung menghantam korneanya. Tampak beberapa pelayan lalu lalang membersihkan ruangan. Jam berdenting 8 kali dan seseorang tampak tergesa gesa menuruni tangga. Anehnya, Raka tidak melihat Nicki di sisinya. Ia seakan berada di tempat yang sama tapi waktu yang berbeda. Apakah Nicki memberinya ingatan tentang masa lalu? Raka menatap sosok yang tampak tergesa gesa itu, ia sangat cantik dengan rambut yang disanggul rapi. " Nyonya Maharani, mobilnya sudah siap." Tutur seorang pria yang berpakaian supir " Hei pelayan!!" Teriak wanita itu dengan angkuhnya. Jadi dialah Maharani Hendrawan, ibu kandung Nicki. Sekarang Raka tahu dari mana wajah cantik Nicki diwariskan. " Iya nyonya?" Seorang pelayan wanita tua terlihat tergesa gesa memenuhi panggilannya. " Jangan lupa antarkan makan malam ke kamar Nina. Jangan biarkan pintunya terbuka, kunci rapat. Jangan dengarkan rengekan atau tangisannya. Setelah itu kalian semua boleh pulang." Perintahnya terdengar tanpa rasa kasihan Mendengar hal itu, Raka bergegas berlari menyusuri tangga. Ia mencoba menggedor pintu kamar Nicki, tapi jari jari tangannya seakan menembus pintu itu. Ia tidak bisa melakukan apapun hingga pelayan tadi datang dan memberikan makanan setelah membuka pintu. Saat itulah, Raka melihat jelas bagaimana kondisi Nicki. Ia terpaku, hatinya terasa begitu sakit. Bagaimana seseorang bisa hidup dengan penderitaan seperti itu Tanpa sadar air mata Raka menetes turun Apa yang ia lihat? Next Kobaran Dendam
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN