Aaron pov “Lepaskan aku Aaron” Ucapnya, namun telingaku kini kubuat dalam mode tuli saja, tak ingin mendengar dirinya yang sesungguhnya sedari tadi terus berusaha lepas dariku. “Aaron mau sampai kapan kau seperti ini, kau tak lihat banyak orang yang memandangi kita karena kau yang terlalu lengket kepadaku” Tambahnya, “Kau berkata, kalau kau sedang marah kau hanya butuhkan sebuah pelukan yang menenangkan, tanpa ada satu buah kata atau kalimat apapun itu, cukup satu pelukan saja, maka amarahmu akan luruh semua...” Balasku mengungkit apa yang semula ia ungkapkan kepadaku, soal bagaimana caraku untuk menghadapi marahnya itu. “Iya tapi maksudku tak harus sampai selama ini” “Kau sudah memelukku sedari kita keluar dari apartemen Deph, di perjalanan, dan sekarang kita yang hampir sam

