Kimmy Eva : tolong liatin jadwal mahasiswa, apa ada KP jam delapan sepuluh, makul Akuntansi Keuangan Menengah.
Nunung : dosen?
Kimmy Eva : gak tau cek aja.
Giliran gosip aja gercep banget balesnya, tapi ketika aku membutuhkannya di saat-saat genting, Nunung justru mendadak offline. Aku mendesah, menaruh ponsel di nakas dengan lesu.
Punya sahabat memang nggak bisa diandalkan!
Sara beralasan dia baru saja pulang dari kuliah pengganti, dan bukannya aku nggak percaya dengan alasan tersebut, tapi aku merasa perlu memastikan dia melakukan ini bukan dengan sengaja. Karena sependek pengetahuanku, Sara mahasiswa kelas reguler yang kemungkinan dosen akan melakukan KP di malam hari cukup nihil.
Belum lagi semenjak kehadirannya Gale langsung sibuk, membersihkan kamar, mengganti seprai lalu mengeluarkan toiletries untuk kebutuhan sang adik meski perempuan itu hanya menginap semalam.
Apartemennya sendiri sangat luas, memiliki tiga kamar, kami menempati master bedroom, satu kamar dialihfungsikan sebagai ruang kerja, dan satu lagi sebagai kamar tamu yang kini dihuni oleh Sara.
Kami bisa saja lanjut melakukan aktivitas yang tertunda, tapi interupsi ini sedikit banyak pasti sudah mempengaruhinya, selagi menunggu di dalam kamar, Gale tak kunjung nongol. Aku mulai bergerak-gerak gelisah, dan ketika keluar untuk memastikan, Gale justru sedang mengobrol dengan adiknya.
"Udah semua?" tanyaku berusaha menahan decakan melihat keduanya yang kini sudah berpindah di area kitchen. "Ada yang perlu aku bantu?"
"Nggak ada Kak, tapi aku laper banget, lupa beli makan tadi di jalan." Sara menjawab, lagi-lagi sambil meringis, duduk di stool bar, sementara Gale berjibaku di pantry. "Aku mau delivery tapi Mas Gale malah masakin."
What is this? 1970? Kami memang hanya menggunakan jasa Mba untuk bebersih seminggu tiga kali, setidaknya begitulah yang Gale jelaskan ketika aku baru tiba di tempat tinggalnya.
Untuk makanan, karena aku langsung blak-blakan mengatakan nggak bisa masak, Gale memilih menggunakan jasa catering, itu juga hanya untuk makan malam kerena selama seharian kami nggak akan ada di apart serta sama-sama bekerja, dan selama tiga hari ini semua berjalan lancar.
"Kakak nggak masak?" Melihat aku yang diam aja, Sara buru-buru menambahkan. "Udah malem juga sih ya, kalaupun Kakak masak pasti udah abis."
"Kayaknya masih ada sisa menu dari makan malam tadi." Kupilih untuk membuka kabinet tempat penyimpanan yang terletak di atas counter top.
"Basi." Gale menjawab.
"Duh, jadi nggak enak gangguin pengantin baru."
Kenapa nggak memikirakan itu sebelum memutuskan untuk menginap di sini? Tapi aku nggak bisa menyalahkan Sara, kejahatan saat ini sedang merajalela, agak menakutkan juga jika membiarkan dia menyetir sendiri ke rumah di tengah malam begini.
"Kuliahnya gimana, lancar?"
"Sejauh ini sih oke."
Kuulurkan tangan untuk mengisi gelas dari dispenser. Sialnya karena aku berdiri rapat di dekat Gale, aroma masakannya seketika memeluk indera penciumanku. Dengan cekatan laki-laki itu menumpahkan sosis yang sudah dipotong-potong dari cutting board untuk diaduk bersama nasi yang sudah dibumbui. Perutku dengan ngelunjak langsung bernyanyi.
Lirikan Gale membuat wajahku terasa panas.
"Aku bisa tambahin porsi kalau kamu mau," tawarnya baik hati.
Kepalaku menggeleng, lalu bergegas kembali sembunyi di dalam kamar.
Selayaknya perempuan mengandung, aku juga mengalami napsu makan yang bertambah, dan aku sama sekali nggak menutupinya selama lima minggu belakangan, anak di dalam perutku membutuhkan aku untuk memberikan nutrisi agar dia bisa berkembang dengan layak, tapi sekarang aku justru merasa takut, dan ketakutan itu berubah jadi perasaan menggigil sampai aku memutuskan untuk merebahkan diri di kasur dan bergulung di dalam selimut.
"Kim?" Suara Gale yang memanggil dari balik bahu terdengar, lalu aroma sedap masakannya menyusul. Aku semakin memejamkan mata. "Kamu udah tidur?"
Ya ampun, bisa nggak sih dia fokus saja dengan apapun yang dikerjakan atau minimal paham dengan gestur penolakanku!
"Aku udah masakin nasi goreng buat kamu."
"Nggak laper."
"Nggak usah gengsi Kim, aku udah pisahin punya kamu dari Sara, kamu nggak suka yang amis telur kan?"
Lah, yang gengsi siapa coba?
Kenapa dia sok tahu banget? Jangan mentang-mentang kami sudah kenal dari zaman bocil, Gale jadi paham dengan mana yang kusuka dan nggak! Hei, kami saling mengobrol saja bisa dihitung jari.
Dengan sebal perlahan aku beringsut duduk, Gale sedang memegang nampan, aku megap-megap ketika suamiku itu segera memposisikan nampan tersebut di atas pangkuanku, di mana di atasnya bukan hanya tersaji sepiring nasi goreng tapi juga segelas s**u.
Apa-apaan?
Jantungku berdebar hebat.
"Mama bilang kamu selalu minum s**u sebelum tidur."
"Kapan Mama bilang begitu?"
"Udah lama."
Baiklah, Gale nggak salah, meski aku sudah meninggalkan kebiasaan masa kecilku, dia hanya berniat tulus, tapi melihat gelas berisi cairan putih kental itu membuat ketakutanku bertambah, ini mengingatkan aku dengan s**u bumil yang masih kutunda untuk dikonsumsi.
"Diabisin ya."
Tanpa menunggu sahutan, Gale sudah berdiri untuk melenggang masuk ke walk in closet, lalu keluar dalam keadaan hanya mengenakan bathrobe, kemudian menghilang di kamar mandi.
Hormon sialan.
Kenapa aku malah merasa kangen dengan Rey? Dia nggak akan melakukan hal ini, Rey juga nggak bisa masak, tapi perhatian keduanya sedikit banyak hampir mirip, bedanya Rey ...
Lupakan.
Setidaknya masakan Gale sesuai dengan aromanya, sama-sama menggugah selera, niatku yang hanya ingin menghabiskan setengah justru malah menandaskan semuanya.
"Mas udah makan belum?"
Sumpah aneh, aku malah baru menanyakan ini setelah dia kelar mandi. Mengernyit saat menghirup aroma sabunnya yang menguar di udara ketika Gale perlahan merayap naik ke atas tempat tidur. Dia baru saja pulang, dalam keadaan sangat lelah tapi justru dialah yang seperti mengurusku bukan sebaliknya.
"Udah."
"Masalah kerjaan gimana?"
Gale terdengar mendesah. "Kacau, bulan ini bisa dipastiin Fluent bakal defisit tapi itu jauh lebih baik daripada kehilangan kepercayaan pelanggan."
"Penyebabnya?"
"Hacker, aku udah antisipasi ini dari awal, tapi ternyata keamanan yang kami buat nggak cukup bikin sistem kami kebal dari kebocoran."
Jadi begitulah masalahnya. Aku nggak akan paham jika dia menjelaskan tentang IT, tapi sejauh ini Gale seperti berhati-hati, menggunakan bahasa bayi sehingga mudah buat kupahami.
"Bisa nggak lain kali ngomong dulu kalau Mas bakalan lembur di kantor?"
Aku seperti bisa merasakan laki-laki itu meringis. "Maaf Kim."
"Nggak pa-pa sih asal nggak diulangin, karena kita udah jadi suami istri, mudah-mudahan Mas ngerti pentingnya buat saling komunikasi. Aku nggak akan ganggu Mas kalau memang sibuk, aku juga bakal sering laporan kegiatan aku mulai hari ini, biar nggak saling tunggu-tungguan apalagi sampai menimbulkan kesalahpahaman di masa depan, terus aku juga bakal--"
Ocehanku mendadak berhenti saat mendengar suara dengkuran halus, ketika menoleh, mata Gale sudah terpejam, menyerah dalam lelap.
Badjingan.
Terpaksa aku harus mencoret malam ini dari jadwal rencanaku.
Kalau begini nggak ada yang bisa kulakukan selain mengukutinya, memejamkan mata dan berusaha jatuh dalam mimpi. Tapi ketika perlahan mulai hilang kesadaran, ponsel mendadak menyala diiringi suara notifikasi pesan masuk, kuraba-raba nakas untuk meraih dan memeriksanya.
Nunung : sbb, baru nyampe rumah, tadi gue udh cek, gak ada KP makul AKM, adanya malah malam kemarin, kelas P5, Pak Greg.
***