"Kamu bohong ya Sar?"
Sebenarnya aku bukan tipikal orang yang suka mengkonfrontasi, tapi penting bagiku memastikan hal seperti ini nggak terulang lagi di masa depan.
Sara tampak meringis karena tiba-tiba ditodong saat sedang menuang jus orange dari botol di dalam kulkas. "Kakak tau?"
"Memang kamu abis ngapain sih? Ada acara di kampus? Atau kamu ada rapat BEM?"
Aku nggak akan menghakiminya, berhubung aku tahu Ibu Ratu cukup protektif terhadap anak perempuannya.
FYI, nggak seperti aku yang hanya dua bersaudara, Gale ini anak sulung dan laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara, sang adik nomor dua seumuran denganku sudah menikah dan tinggal di Medan, terakhir Sara si anak bungsu.
"Iya Kak, Ibu nggak setuju karena aku pulang malem terus, sekarang kalau ada apa-apa di kampus aku pasti alasannya karena KP atau tambahan kelas languange, untungnya ada Mas Gale yang bisa dijadiin tempat transit. Kakak nggak marah kan?"
"Sejak kapan kamu kayak gini?"
"Dari semester tiga Kak."
Sekarang dia sudah semester lima, itu artinya sudah setahun dia main kucing-kucingan dengan Ibu Ratu.
"Lain kali ngomong dulu kalau mau nginep ya, sekarang kan Mas kamu udah nikah, bukannya Kakak nggak bolehin tapi bisa aja Kakak sama Mas lagi nggak ada di tempat pas kamu dateng."
Atau sedang melakukan aktivitas yang nggak boleh diganggu, tambahku dalam hati.
Sara menatapku dengan pendangan agak lain, alisnya tampak mengernyit. "Tapi kan apartemen Mas, sama aja dengan tempat tinggal aku juga, kenapa harus izin? Apalagi aku cuma nginep semalam--"
Tangangku terangkat, praktis menghentikan ucapan Sara, sementara sesuatu dalam perutku terasa naik dan mendesak. Buru-buru aku ngibrit ke kamar dan mengunci diri di dalam kamar mandi.
Morning sickness sejujurnya membuatku tertekan karena relatif sulit dikendalikan. Dan nggak seperti namanya, mual serta muntah ini bisa mendadak terjadi kapan saja. Hanya dalam kasusku ketika pagi hari, rasanya seperti dua kali lebih berat.
"Kim?"
Gale mengetuk pintu, aku menghidupkan shower, keran di westafel sampai full serta flush toilet secara bersamaan untuk mengatasi suara muntahan, tapi kuyakin dari nada suaranya yang terdengar cemas di luar sana, upayaku hanya berakhir sia-sia.
"Kamu nggak pa-pa?"
Lama-lama aku mulai bosan dengan pertanyaan ini, begitu menarik beberapa lembar tisu dan membersihkan kekacauan yang kubuat, Gale tampak standby, sudah berdiri di depan pintu.
"Kamu sakit?"
"Aku nggak pa-pa."
"Muka kamu pucet banget, aku buatin sarapan, tolong dimakan dulu sebelum berangkat kerja ya."
"Makasih."
"Kamu yakin nggak mau diperiksa?"
"Aku cuma kecapekan dan efek pancaroba, nanti juga membaik sendiri."
"Kantor kita searah biar aku antar kamu ke kampus."
Lebih baik mengalah daripada membantah lalu menimbulkan kecurigaan. Jadi setelah basa-basi menanyakan keadaan dan memastikan Sara sudah pulang, aku segera melompat di kursi penumpang mobil Gale selayaknya istri yang patuh.
"Mas nggak bakal lembur kan?"
Gale mendrop aku persis di parkiran gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusantara tempat di mana aku bekerja. Dahi laki-laki itu tampak terlipat, sudut-sudut matanya kelihatan mengerut, dia seperti sedang berpikir keras untuk menjawab pertanyaanku.
Haruskah kuulangi ocehan semalam?
"Kalau Mas harus ngina--"
"Aku usahakan."
Well, itu jawaban yang singkat, padat, dan nggak jelas versiku.
Aku butuh kepastian.
Apakah wajar jika pengantin baru terus-terusan ditinggal pasangan?
Fix sih, aku istri kedua, sementara istri pertamanya adalah pekerjaan.
"Kalau gitu aku ikut."
Nekat.
Lebih baik mengubur semua gengsi daripada rencanaku buyar.
Sesuai prediksi, Gale langsung menoleh dengan cepat, matanya melebar terkejut. "Aku nggak mungkin bawa kamu ke kantor," katanya ngeri.
"Kenapa?"
"Di sana isinya laki-laki semua."
Apakah itu masalah?
"Aku kan sama Mas."
Jangan bilang dia nggak punya ruangan khusus untuk istirahat di gedung perusahaannya?
Aku juga nggak ada sih, tapi Gale kan founder, dan selayaknya manusia yang sering menghabiskan waktu sampai menginap di kantor, pasti dia menyediakan kamar tidur yang proper, kan?
Sekarang yang kupikirkan justru kalau kami nina-ninu di sana, apa itu akan terdengar oleh karyawannya?
Sial, mungkin ini memang ide yang buruk.
"Kamu bakalan bosan."
"Aku bakalan lebih bosan kalau Mas nggak nemenin aku di apart."
Dengarlah itu?
Nada bicaraku sudah macam j****y yang manja dan merajuk karena nggak dituruti keinginannya. Jika sedang dalam mode waras aku pasti merinding mendengar suaraku sendiri.
"Oke, aku nggak akan lembur."
Nah, itu baru suami!
Dengan semangat aku segera menarik kelly bag, lalu membuka seatbelt, bahkan meraih dan mengecup punggung tangannya. Gale tampak mengerjap ketika aku melakukan hal tersebut.
"Makasih udah antar aku Mas, hati-hati di jalan."
Suamiku hanya menggumam nggak jelas ketika aku beringsut keluar mobil dan menutup pintu.
Senyumku masih tersungging lebar ketika menatap kepergian pajero itu sebelum berbalik dan menemukan sepasang mata dari balik kacamafa berframe browline tengah menatap tajam.
"Mas suami?"
Aku mengangguk, merangkul lengan Nunung untuk mengajaknya memasuki ruangan kami, temanku hanya berdecak.
"Bisa-bisanya nikah nggak ngundang-ngundang."
"Cuma akad."
"Seenggaknya gue dilibatkan, apa gue udah nggak dianggap sahabat? Terus kenapa tiba-tiba nerima lamaran perjodohan dan mutusin Rey?"
Kuremas lengannya lebih kencang agar menurunkan volume suara.
Bahaya, semua karyawan umumnya berkumpul di depan ruangan BAAK untuk melakukan absensi menggunakan finger print. Dan tempat itu nggak pernah sepi alias selalu penuh manusia, kalau sampai ada yang mendengar, aku malas menjelaskan.
"Masih aja private, sok exclusive banget mentang-mentang udah jadi aktor chungmuro, mungkin memang bagusnya diputusin aja sih cowok kayak gitu. Berasa nggak dianggap jadinya."
"Chungmuro?"
"Kalau di Korsel kayak semacam gelar buat artis kelas A yang punya banyak pencapaian dan prestasi, kalau di sini nggak tau deh sebutannya apaan."
Oke, perlu kuperjelas bahwa hanya aku dan Rey yang tahu soal kehamilan ini, dan menceritakannya ke Nunung meski dia sudah seperti saudara kandung, cukup beresiko.
"Woilah makin cakep aja si Rey, bener nggak sih orang kayak dia tuh jomblo?"
Suara-suara heboh dari meja rapat di tengah ruangan langsung menyambutku ketika melenggang memasuki tempat yang di depan pintunya bertuliskan Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan.
Nunung auto melipir menuju ke mejanya, malas nimbrung, aku pun melakukan hal yang sama. Jantung cenat-cenut tiap kali nama itu dibahas.
"Bukannya kemarin dia baru aja keciduk jalan bareng cewek di Ubud?" Mba Farika, ibu-ibu beranak satu, menyahut.
"Bukan itu mah temennya." Si Juhi dengan baik hati menimpali. "Dia beneran jomblo kok, gue malah berharap dia bakalan cinlok sama Nagisa Tsani, cocok banget mereka kalau dilihat dari klip potongan video behind the scene film baru yang bakalan tayang."
"Apa judulnya?" Neo, satu-satunya laki-laki di dalam ruangan ikutan nyamber.
"Hello Dara," jawab Juhi, matanya kemudian melebar ketika menyadari kehadiranku. "Ya ampun Ibu, kapan nongol sih? Cuti nggak ngabarin, kita kelabakan nggak ada Ibu di sini."
"Tolong forward jadwal UTS dengan nama-nama pengawasnya dong, Hi."
"Siap Buk." Dengan sigap fresh graduate itu pun menuruti perintahku dan melompat ke mejanya.
"Baru dateng langsung kerja aja Bu, mau nitip sarapan nggak?" Neo menawarkan.
"Loh daritadi kalian memangnya belum sarapan?"
Iya benar, meja rapat itu nggak kosong, di atasnya ada gorengan, potongan buah-buahan, bahkan bungkus plastik berisi sterefoam yang kuyakin isinya adalah bubur ayam favorit Juhi.
"Ini sih belum ada apa-apanya Bu, ronde kedua lah, hari ini bakalan sibuk ngurusin dosen pada mau KP sebelum UTS, belum lagi mahasiswa yang jadwalnya tabrakan."
Karena aku sudah menikmati sandwich buatan Gale, maka dengan halus aku menolak.
Aktivitas berlanjut di meja masing-masing, dan sesuai dugaan Neo, hari itu cukup ramai diisi dengan persiapan menuju UTS. Meski pembasahan soal Rey masih terus berdegung.
Daya tarik laki-laki itu memang nggak kaleng-kaleng, tiap video dan fotonya menurut netizen selalu berdemage, aku nggak heran kalau Juhi tergila-gila, aku pun dulu begitu, dan walaupun sudah memblokir semua akses komunikasi, tapi video dan fotonya tetap berseliweran di medsosku ketika membuka IG.
Rupanya dunia memperlakukan Rey dengan baik, karena alih-alih terpuruk dia terlihat semakin bersinar. Sebuah fotonya yang nggak sengaja terklik untuk kublok, membuatku tertegun.
Dia tersenyum lebar, merangkul seorang perempuan dengan senyum lebar yang sama, dengan background green area lokasi syuting, captionnya berbunyi.
My enemy to lovers.
Lalu tagnya berupa seorang artis papan atas yang juga disebut oleh Juhi, akun milik Nagisa Tsani, lawan mainnya dalam film teranyar.
Helaan napas berat terembus dari bibirku, tanpa sadar tangan terangkat mengelus perut yang mulai menonjol.
"It's okay, you'll be fine. Mama will take care of you."
***
Aku sengaja menggunakan lingerie ketika menyambut Gale pulang.
Pakaian dinas itu berpotongan baby doll merah menyala dengan bahan lace tembus pandang yang mempertontonkan lekuk tubuhku serta thong yang kukenakan di baliknya.
Nggak perlu dideskripsikan gimana reaksi Gale ketika melihatku, mata melebar, mulut menganga, napas berubah pendek-pendek.
Ekspresi itu hanya berlangsung sepersekian detik, karena wajahnya yang lempeng langsung berganti datar.
Dan alih-alih segera nyosor seperti yang kuharapkan, Gale justru perlahan melipir ke ruang kerjanya, lalu mengurung diri di sana, membiarkan aku menunggu cukup lama.
"Mas?"
Selama hampir seminggu aku belum pernah masuk ke sini, dan kesan pertamaku tentang ruangan Gale adalah seperti markas CIA, PC bertebaran di meja panjang yang disusun di kanan dan kiri dengan dinding yang kedap suara.
"Udah makan?"
"Udah."
Aku menimbang-nimbang. "Kapan Mas--"
"Masih ada bug yang belum aku selesaikan, nanti aku nyusul."
Okelah.
Dia sepertinya sudah paham dengan apa yang kuinginkan, jadi kututup lagi pintu itu lalu menunggunya di tempat tidur.
Berdebar tiap melewati detik perdetik, mataku mulai memberat karena seharian bekerja, aku nggak tahu sudah berapa lama menguap sampai mataku terasa berembun.
Dan ketika tersadar, aku dikejutkan dengan suara alarm dari atas nakas, tanganku meraba-raba untuk mematikan benda itu, kemudian menyadari satu hal.
Mataku seketika membuka, celingak-celinguk, menangkap sosok Gale yang terlelap di sampingku dengan cahaya matahari yang mengintip melalui gorden jendela.
Sialan.
Aku malah ketiduran!
"Masss!"
***