Pagi harinya Shafa merasa kesulitan bernafas. Seolah ada sesuatu besar yang tengah menghimpit dadanya, dan benar saja saat wanita itu membuka mata ia melihat ada tangan kekar dan berotot tengah memeluk tubuhnya dengan erat. Siapa lagi pelakunya kalau bukan El. Shafa pun menolehkan kepalanya sekilas tak lama ia pun terlihat menggoyang pelan tangan pria itu berharap si empunya segera bangun. Namun, bukannya bangun dari tidurnya El malah semakin pulas bahkan ia terlihat tengah membenarkan posisi tidurnya dengan membenamkan wajah tampannya di ceruk leher Shafa. Merasakan hembusan nafas hangat pria itu mengenai kulitnya, membuat tubuh Shafa sontak meremang seketika. "Abang, ponselnya bunyi tuh," ucap Shafa lirih lalu mencubit pelan tangan El yang masih melingkar manis di perutnya. El mengerja

