1. Menggoda Pria Berbahaya
Elaina berjalan dengan langkah gemulai menyusuri koridor klub malam itu. Kecantikannya yang tiada dua serta kemolekan tubuhnya yang begitu sempurna, menjadi modal utama bagi Elaina saat ini.
Meski Elaina tahu jika targetnya kali ini bukan ‘lah p****************g yang mudah terbuai akan kecantikan serta seksinya tubuh wanita, tetapi Elaina tetap berusaha untuk percaya diri bisa merayu Dalen Gabino.
Siapa itu Dalen Gabino? Ia adalah pemimpin mafia Punox yang tersohor akan kekejamannya. Cukup dengan menyebutkan namanya saja, orang-orang akan langsung merinding ketakutan. Dalen disebut sebagai manusia paling berbahaya di negara itu, sekaligus orang yang sangat berkuasa.
Lalu, kenapa Elaina ingin mendekatinya?
Itu karena target balas dendam Elaina adalah istri Dalen, yakni Paumy Jolneo—tersangka pembu-nuhan kakak kandung Elaina. Mengingat Paumy adalah istri Dalen, secara tidak langsung ia menjadi orang kedua yang perlu dihindari oleh orang-orang. Secara tidak langsung pula, Paumy menjadi wanita paling berkuasa di negara ini.
Oleh karena itu, jika ingin membalas dendam kepada Paumy, maka Elaina harus bisa berdiri di samping orang yang lebih berkuasa dari pada Paumy. Dan, pilihannya jatuh kepada Dalen, karena memang hanya Dalen yang bisa membuat Paumy sengsara. Itu ‘lah kenapa, Elaina bertekad ingin membuat Dalen jatuh hati kepadanya, sehingga ia bisa menyetir Dalen serta menjadikan Dalen sebagai alat untuk membuat Paumy sengsara, bahkan ma-ti.
“Hei, Cantik. Sini sama Om.”
Elaina menepis tangan seorang pria mabuk yang berniat menariknya. Ia juga menendang pria itu hingga tersungkur, karena menghambat jalannya menuju pintu ruangan VIP SS.
Elaina menatap pintu ruangan VIP SS itu dengan senyum miring. Ia menarik napas dalam, lalu diembuskan perlahan. “Kamu pasti bisa, Elaina. Ini semua demi balas dendam kematian Kakak,” gumamnya menyemangati diri sendiri.
Beberapa menit sebelumnya ...
“Elaina.”
Seorang gadis cantik yang tengah berdandan menoleh ke arah sumber suara. Elaina tersenyum kepada pria matang yang baru saja memanggil namanya.
“Kak, bagaimana?”
Pria matang itu mengangguk. “Dia sudah datang. Baru saja masuk ke ruangan VIP SS.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan segera bersiap.” Elaina berdiri dari duduknya.
“Apa harus dengan cara seperti ini, El? Dalen bukan orang sembarangan. Dia adalah orang yang sangat berbahaya, yang harusnya kita hindari. Kamu ... malah ingin mendekatinya demi balas dendam ini. Aku rasa, masih ada cara lain untuk kita balas dendam kepada Paumy, El. Tidak harus membahayakan kamu seperti ini.”
Elaina tersenyum. “Kak Rom tenang saja, aku akan baik-baik saja. Aku yakin, dan keputusan aku ini sudah bulat. Hanya dengan mendekati Dalen Gabino, rencana balas dendam ini akan lebih mudah dan cepat terselesaikan, karena hanya Dalen yang lebih berkuasa dari pada Paumy. Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi, aku ingin segera menghancurkan kehidupan Paumy,” desisnya penuh dendam.
Rom hanya bisa mengembuskan napas pelan. “Kalau ada apa-apa, kamu langsung pencet tombol rahasia di antingmu. Aku akan segera datang untuk mengalihkan perhatian, supaya kamu bisa kabur dari Dalen. Ingat, kamu harus hati-hati, karena Dalen bukan manusia baik, dia adalah mafia berhati iblis yang tidak pandang bulu, berani mem-bunuh siapa saja dengan sekali tebas,” peringatnya serius.
Elaina mengangguk. “Aku tahu, Kak.” Elaina membalikkan badan, bersiap keluar dari ruangan itu. “Bahkan sangat tahu betul bagaimana berbahayanya seorang Dalen Gabino. Dia adalah orang paling berkuasa sekaligus orang paling berbahaya di negara ini. Karena itu pula aku memutuskan untuk mendekatinya demi bisa membalaskan dendam kematian Kakak kepada wanita baji-ngan itu,” lanjutnya berdesis dalam hati.
Rom memperhatikan pergerakan Elaina keluar dari ruangan. Ia mengembuskan napas panjang, lalu mengusap wajah. “Aku minta maaf, Sayang. Aku tidak bisa menghentikan Elaina mengambil jalan berbahaya ini. Tapi aku akan berusaha menjaga Elaina—adikmu, adik kita. Cukup aku tidak becus menjagamu hingga meregang nyawa di tangan wanita bang-sat itu. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, aku harus menjaga Elaina—adik serta keluarga kamu satu-satunya, sesuai dengan amanah kamu saat itu,” gumamnya penuh beban.
***
Setelah menyemangati diri sendiri, Elaina mulai menarik gagang pintu, lalu membuka pintu ruangan VIP itu. Elaina memperlihatkan senyum terbaiknya yang begitu menawan. Selama ini senyum itu mampu memikat para pria hingga menjadi gila. Bisa dibayangkan secantik apa Elaina Natulame ini?
Fokus sepasang mata indah Elaina tertuju kepada seorang pria tampan yang duduk di kursi khusus. Meski belum pernah bertemu, Elaina bisa menerka jika pria itu ‘lah targetnya malam ini—Dalen Gabino. Apalagi tato tengkorak berdarah terlihat jelas di batang leher pria itu—tato khas milik Dalen Gabino.
“Oh, God! Kenapa aku baru tahu sekarang, kalau Klub SpoonX memiliki wanita secantik ini? Apa kamu anak baru, Sayang? Ayo ke sini, temani kami minum. Ayo, duduk di pahaku.” Seorang pria menepuk pahanya meminta Elaina segera duduk di sana.
“Heh! Apa kau cari mati? Seluruh wanita di sini adalah milik Tuan Gabino. Sebelum Tuan Gabino mengizinkan, kau tidak boleh sentuh dan bermain-main,” tegur salah seorang pria.
“Benar, apalagi wanita itu sangat ‘lah cantik, sudah pasti harus menjadi milik Tuan Gabino dulu,” timpal satu pria berbeda.
“Tuan.” Toris yang tadi terdiam, kini memanggil Dalen yang masih menunduk, sibuk dengan minumannya. “Wanita itu.”
“Sejak kapan aku mengurus wanita?” desis Dalen benci kesenangannya minum diganggu.
Toris menunduk kaku. “Maaf, Tuan. Saya kira Anda akan sedikit tertarik karena wanita itu berambut pirang dan bermata abu-abu muda.”
Pergerakan tangan Dalen terhenti. Ia menoleh ke samping di mana asistennya berdiri. “Kau bilang apa?” desisnya dingin.
Toris kembali menunduk, lalu melirik ke arah Elaina yang sedang menuangkan wine ke gelas-gelas di atas meja. “Wanita itu berambut pirang dan bermata abu-abu muda, Tuan.”
Perlahan Dalen menggerakkan lehernya. Mata tajamnya menangkap keberadaan Elaina yang tengah berjongkok di seberang meja, tengah menuangkan wine ke semua gelas kosong.
Dalen memicing. Ia memiringkan kepalanya, lalu memainkan lidah di dalam rongga mulut.
Elaina pun sadar jika Dalen tengah memperhatikannya. Dan, itu ia jadikan kesempatan untuk melirik Dalen sejenak. Elaina mengangkat kepala, lalu menciptakan suasana seakan ia tak sengaja beradu tatap dengan Dalen.
Dalen sempat terpaku melihat manik abu-abu muda milik Elaina. Hingga Elaina kembali menunduk seperti gadis malu-malu dan penakut. Rupanya Elaina akan memainkan peran sebagai gadis polos yang manis.
Dalen menyeringai. Ia menenggak habis wine dalam gelas di tangannya, lalu meletakkan gelas itu dengan gerakan cukup kasar sehingga menimbulkan bunyi cukup nyaring. Orang-orang terkesiap, termasuk Elaina.
Terkejutnya Elaina, membuatnya kembali mendongak dan lagi-lagi beradu tatap dengan mata elang Dalen. Kali ini Elaina secara nyata merasakan bagaimana mengerikannya sorot tajam pemimpin mafia itu.
Elaina meneguk ludahnya kasar. “Ternyata dia memang semengerikan itu. Meski wajahnya begitu tampan, tapi sorot matanya mampu menyabik kulit hingga terasa perih tanpa berdarah,” batin Elaina mulai merinding.
“Ke sini.”
Suara sedingin es itu bersenandung memecah sunyinya ruangan yang tadi sempat heboh. Tak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara, bahkan sekadar suara tarikan napas.
“Kau tidak dengar? Tuan Gabino menyuruhmu ke sini!” tegur Toris tegas.
Elaina terkejut. Ia mendongak, menatap Toris, lalu melirik Dalen. “M-maksudnya s-saya, Tuan?” Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Iya, kau! Cepat ‘lah, jangan membuat Tuan Gabino menunggu!” tekan Toris.
Dengan segera Elaina berdiri. Namun, kakinya tiba-tiba tersandung kaki meja, sehingga ia oleng dan terjatuh tepat ke atas pangkuan Dalen. Entah ini siasat Elaina, atau itu memang terjadi secara tak sengaja.
Orang-orang terkejut, mereka semua melotot dan menahan napas melihat Elaina sudah bertengger di atas paha Dalen. Sungguh berani! Pikir mereka. Karena selama ini Dalen disebut sangat anti kepada wanita, bahkan Paumy sebagai istrinya saja dikabarnya sangat jarang disentuh oleh Dalen.
“Dia cari mati,” batin Toris menggeleng pelan. Ia berpikir begitu, karena selama ini wanita-wanita yang berani menggoda Dalen pasti selalu berakhir mengenaskan di dalam tanah.
Grep ...
“Akkhh!” Elaina merintih ketika tangan kekar Dalen tiba-tiba mencengkram lehernya. Kedua tangannya memegangi tangan Dalen yang tengah mencekik lehernya. “Akhh, T-tuan, ssshh.”