2. Temani Tidur

1263 Kata
“Akkhh, m-maafkan saya, Tuan!” Elaina merintih sembari memohon dengan suara lirihnya. Matanya mulai berair, ia terus memandangi mata elang Dalen, memperlihatkan betapa lemahnya ia. Rahang Dalen mengeras. Ia memangkas jarak di antara wajah mereka, lalu berdesis tepat di depan wajah Elaina. “Mata asli?” bisiknya dingin. “A-apah?” sahut Elaina terbata. Matanya terpejam ketika pasokan oksigen itu benar-benar semakin menipis. “Astaga, dia benar-benar iblis. Kalau tangannya tidak segera ditarik, aku benar-benar bisa mati,” batin Elaina. Sebelah alis Dalen terangkat, lalu ia menyeringai. “Bola matamu,” desisnya. “B-bola mata saya? I-ini asli, Tuan. Saya tidak pakai apa pun, ini mata asli saya,” sahut Elaina dengan suara semakin pelan karena lehernya masih dicekik. “Ouh?” Dalen memiringkan kepalanya. Ia sedikit merenggangkan cekikannya di leher Elaina, tetapi tangannya tak kunjung ia lepaskan. “Asli?” Elaina berusaha mengangguk. “I-yaah, ini warna bola mata asli saya, Tuan. Sa-yaah tidak pakai lensa kotak, shhh.” Dalen terus memandangi manik abu-abu muda itu. Entah apa maksud Dalen bertanya tentang warna bola mata Elaina. Orang-orang di sekitar sana semakin mematung. Masih tak ada suara lain di dalam ruangan itu, bahkan mereka semua sudah menahan napas ketakutan. Meski beberapa orang di dalam ruangan itu sudah cukup sering melihat Dalen mengeksekusi orang, tetap saja mereka merasa ngeri dan merinding. “Rambutmu?” tanya Dalen masih dengan suara dinginnya. “R-rambut saya? Ini juga asli, Tuan. Saya tidak pakai rambut palsu.” “Warnanya,” desis Dalen. “Akkh!” Elaina merintih ketika Dalen kembali memperkuat cekikan di lehernya. “Dia benar-benar orang gila. Kalau bukan demi balas dendam ini, aku tidak ingin mendekati iblis gila seperti dia,” batin Elaina antara marah dan takut. “Warna rambutmu,” ulang Dalen penuh penekanan. “Asli, Tuan, asli,” sahut Elaina cepat. Dalen tersenyum miring. Seketika pria itu melepaskan cekikannya di leher Elaina. Bruk! Tubuh Elaina pun meluruh ke lantai. Ia menarik napas dalam, menghirup oksigen serakus-rakusnya. Elaina memegangi batang lehernya dengan nada naik turun. “Aku hampir mati. Haah, kau hampir mati, Elaina. Jangan sampai usaha ini sia-sia,” batin Elaina. Sett ... Elaina terkejut ketika Dalen tiba-tiba menarik dagunya hingga kepalanya mendongak. Elaina tengah terduduk di lantai, dengan kepala tepat di antara kedua lutut Dalen. Kini jari telunjuk Dalen menarik dagunya, hingga mereka berdua beradu tatap. Sorot penuh dendam di mata Elaina tadi langsung berubah sendu. Tak sia-sia Elaina melatih dirinya selama 12 tahun ini, ia jadi begitu ahli berakting menjadi gadis manis yang polos. Bahkan tatapan sendu Elaina terlihat begitu nyata, seakan Elaina adalah gadis manja yang penurut. Dalen tersenyum miring. “Siapa namamu?” “Elaina ... Elaina Natulame,” bisik Elaina setengah serak. Dalen menjilat bibir bawahnya. Bisikan lembut Elaina yang sedikit serak seakan mampu membuncah ketenangan di batinnya. Rahang Dalen mengeras. Ia mendongak sejenak, lalu tiba-tiba Dalen berdiri, membuat semua orang terkejut dan ikut berdiri. Tanpa bersuara lagi, Dalen berjongkok lalu menarik tubuh Elaina dan menggendongnya di pundak bak karung besar. Tentu saja aksi itu mengejutkan semua orang, termasuk Elaina. Hingga Dalen keluar dari ruangan itu, semua orang melongo tak percaya. Bahkan Toris pun ikut terbengong dengan wajah bodohnya. “Kamar,” ucap Dalen dingin. “O-oh, baik, Tuan!” Toris segera melangkah keluar mengikuti Dalen, lalu segera menghubungi seseorang melalui telepon genggam. Elaina yang berada di pundak Dalen, ikut bengong sejenak. “Kamar? Dia ingin membawaku ke kamarnya di klub ini? Apa dia langsung ingin melakukan itu? Bukannya orang-orang bilang pria iblis ini anti perempuan? Bagaimana bisa baru bertemu langsung membawaku ke kamar? A-aku tidak mempersiapkan untuk hal ini,” batinnya tak percaya. *** Bruk! Elaina sempat terpekik ketika tubuhnya dilempar ke atas ranjang. Sungguh tak ada manisnya Dalen memperlakukan wanita. Tak ada waktu memikirkan hempasan itu, Elaina sudah melotot melihat Dalen membuka beberapa kancing atas kemeja hitamnya. Gadis itu meneguk ludahnya kasar, lalu mundur ketika Dalen mendekat. Grep ... Elaina terkejut ketika Dalen menahan kakinya. “T-tuan, saya—aaaa!” Elaina menjerit kaget saat Dalen menarik kakinya sehingga tubuhnya terseret ke tepian ranjang. Dalen menunduk, lalu mengungkung tubuh Elaina dengan kedua tangan kekarnya. Dengan gerakan begitu cepat, Dalen sudah duduk di tepian ranjang, lalu menarik tubuh Elaina untuk duduk di pangkuannya. Elaina bengong tak percaya dengan gerakan secepat kilat itu. “Tak heran dia jadi ketua mafia paling ganas dan berbahaya. Bahkan gerakannya begitu cepat, secepat kilat,” batinnya kagum sekaligus ngeri. “Elaina?” Dalen berbisik sembari memainkan jari telunjuknya di area leher Elaina. Elaina diam mematung. Ia masih cukup trauma dengan cekikan Dalen pada lehernya. “I-ya, Tuan.” Dalen memandangi wajah cantik Elaina yang ia akui begitu sempurna. “Sakit?” “H-hah?” Dalen memandangi batang leher Elaina yang tadi sempat ia cekik. Bahkan bekas cekikan itu masih ada. Perlahan tangan kekar Dalen mengusap bekas cekikan itu dengan gerakan sensual, sehingga tanpa sadar Elaina memejamkan mata sembari melenguh pelan. “T-tuan.” Elaina berbisik, lalu kembali memperlihatkan ekspresi polos penuh ketakutan. Dalen berpindah ke rambut Elaina. Pria itu mengecup ujung rambut pirang milik Elaina. Dan, ini membuat Elaina tersadar akan sesuatu. “Dari informasi yang aku dapat, Dalen Gabino menyukai wanita berambut pirang dan bermata abu-abu muda. Kalau informasi itu benar, berarti sangat kebetulan sekali kamu menjadi kriteria yang sangat cocok dan pas. Bisa jadi, Tuhan pun merestui perjalanan balas dendam kita ini, El.” Kalimat penting Rom ini pun langsung terlintas di benak Elaina. “Tadi Dalen bertanya tentang bola mata dan warna rambutku. Ternyata informasi yang dicari oleh Kak Rom itu benar, ya? Dalen ini menyukai wanita berambut pirang dan bermata abu-abu muda. Berarti benar, Tuhan pun menyertai langkahku dalam aksi balas dendam ini. Aku tidak pernah berharap akan menjadi wanita pujaan yang selama ini diinginkan oleh Dalen. Tapi ... jangan cepat berbangga diri dulu, Elaina. Meski begitu, Dalen ini tetap ‘lah seorang iblis mengerikan yang kapan saja bisa menjadi pisau tajam yang mampu membunuhmu,” batin Elaina. Elaina sibuk membatin, Dalen pun sibuk dengan aroma manis di tubuh Elaina. Ia mulai memejamkan mata, menikmati aroma khas itu, hingga bibirnya mendekat ke area leher jenjang Elaina. Cup ... Elaina tertegun ketika sepasang benda kenyal itu mendarat menyapa kulit lehernya. Ia meneguk ludah kasar, lalu mulai bersuara lirih. “T-tuan.” Mata tajam Dalen pun terbuka. Ia mendongak, menyorot dingin wajah cantik Elaina. “M-maaf, Tuan, s-saya ... saya hanya bekerja sebagai pelayan klub biasa. S-saya bukan wanita panggilan yang—” Elaina menggeleng dengan mata berkaca-kaca, ia memulai aktingnya menjadi gadis lugu yang polos. Rahang Dalen mengeras. Perlahan sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring. “Pelayan biasa?” Elaina mengangguk cepat. “I-iya.” “Pelayan biasa yang seperti apa?” bisik Dalen sembari menyeringai. “P-pelan biasa yang hanya menemani klien minum,” cicit Elaina. Dalen mengangkat sebelah alisnya. “Hanya menemani klien minum? Tidak menemani klien tidur?” Elaina menggeleng cepat, benar-benar seperti gadis polos. “T-tidak, Tuan, tidak.” “Ouh?” Dalen lagi-lagi menyeringai. “Bagaimana kalau saya ingin kau menemani saya tidur?” Glek! “Ternyata dia sama saja, mana mungkin ada pria yang anti pada perempuan? Siapa yang menyebarkan kabar kalau Dalen Gabino anti perempuan? Lihat ‘lah, apa ini? Bullshit! Cih, buktinya sekarang dia sudah sangat kebelet ingin tidur bersama. Semua pria itu sama, sama-sama hidung belang,” gerutunya Elaina dalam hati. “Maaf, Tuan, s-saya tidak bisa,” tolaknya begitu pelan. “Saya tidak pernah bernegosiasi. Karena apa yang saya inginkan, harus saya dapatkan. Jika saya ingin kau menemani saya tidur, maka kau harus lakukan itu, kecuali kalau kau ingin ... mati.” Dalen berbisik penuh penekanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN