“... kecuali kalau kau ingin mati.”
Elaina meneguk salivanya pelan. Ia membalas tatapan tajam Dalen dengan sorot polos. “A-apa tidak ada pilihan lain, Tuan?” cicitnya.
Dalen menaikkan sebelah alisnya. Detik berikutnya ia kembali tersenyum miring. “Ada.”
“A-apa?”
“Cium saya.”
Bola mata Elaina bergerak ragu. “C-cium?”
“Hem.” Dalen menunjuk bibirnya. “Di sini.”
Elaina melipat bibirnya. Perlahan kepalanya mendekat, memangkas jarak di antara wajah mereka. Hingga wajah cantik itu semakin mendekat, Dalen langsung menarik tengkuk Elaina dan melahap bibir tipis gadis bermanik abu-abu muda itu.
Elaina sempat terkejut, niatnya ia hanya akan memberikan kecupan untuk Dalen. Namun, pergerakan Dalen begitu ganas, bahkan membuatnya kesulitan bernapas. Elaina mencoba mendorong d**a Dalen ketika pasokan oksigen menipis, tetapi Dalen malah bergerak semakin liar memporak-porandakan rongga mulutnya.
“Hmppp.”
Elaina akhirnya memberanikan diri memukul-mukul d**a bidang Dalen. “Astaga, kalau begini ceritanya, aku bisa lebih cepat mati hanya karena berciuman. Dia benar-benar predator gila,” batinnya.
Tampaknya Dalen tak berniat membunuh Elaina dengan ciuman ganasnya. Ia melepaskan pagutan bibirnya ketika merasa Elaina benar-benar sudah kehabisan napas. Dengan santai Dalen menjilat bibir bawahnya sembari terus menatap Elaina dengan mata elangnya.
Elaina sendiri sedang menghirup oksigen dengan rakus. Dadanya naik turun, napasnya berat, peluh bercucuran di pelipis. Meski benar-benar hampir mati kehabisan napas, tetapi Elaina tetap konsisten dengan ekspresi polosnya. Andai tidak sedang berakting, mungkin Elaina ingin sekali mengumpati Dalen saat ini.
“Kesempatanmu habis.”
Elaina menatap Dalen dengan wajah bingung. “Maksud Anda, Tuan?”
“Kau tidak melakukan apa yang saya suruh.”
“B-bukankah barusan kita sudah berciuman, Tuan?” tanya Elaina, “bahkan kau sudah mencuri ciuman pertamaku, baji-ngan,” sambungnya dalam hati.
“Saya menyuruhmu mencium, bukan dicium. Jadi, kau belum melakukan apa yang saya suruh.”
Elaina sedikit melotot. “T-tapi itu karena Anda yang tiba-tiba langsung mencium saya, Tuan. Padahal tadi saya sudah berniat mencium Anda. Saya kira ... kesepakatan kita tadi tetap sah karena kita sudah berciuman,” cicitnya lembut.
Dalen tersenyum miring. “Pergerakanmu terlalu lambat, saya bukan orang sabar. Intinya kesempatan yang saya berikan tadi sudah hangus.”
“Apa-apaan itu? Licik sekali dia. Dia sudah mencuri ciuman pertamaku, tapi sekarang dia bilang begitu?” celoteh Elaina dalam hati.
“Jadi, malam ini kau harus tetap menemani saya tidur.” Dalen menyeringai.
“Dia mempermainkanku? Pria ga-tal ini memang sengaja mempermainkanku. Sebenarnya sedari awal dia memang tidak berniat melepaskanku dengan alasan apa pun. Bagaimana bisa aku tadi bersikap bodoh, benar-benar percaya dengan kata-katanya. Sepertinya aku memang masih cukup polos untuk berhadapan dengan manusia licik semacam Dalen ini. Padahal aku sudah mengira diriku cukup licik, rupanya masih kalah dari pria iblis ini,” batin Elaina.
“Kau ingin buka sendiri atau saya yang buka?”
Suara berat Dalen mengembalikan kesadaran Elaina. “Maksud Anda, Tuan?”
“Bajumu.”
Elaina menunduk, menatap bajunya yang cukup seksi. “Baju saya?”
Dalen menggeram. Sepertinya yang disebutkannya, Dalen bukan ‘lah orang yang sabaran. Tanpa banyak tanya lagi, ia langsung merobek baju seksi milik Elaina.
“Aaaa!” Elaina menjerit kaget ketika bajunya robek, sehingga baju dalamnya terekspos jelas. Dengan cepat Elaina menyilangkan kedua tangannya di d**a. “T-tuan ....”
“Lepaskan tanganmu.”
“T-tapi.”
Dalen menyorot Elaina dengan mata semakin menajam. “Jangan pancing amarah saya.”
Elaina melipat bibirnya. Perlahan ia mulai menurunkan kedua tangannya ragu. Wajah gadis cantik itu memucat, ia sangat profesional menjalankan peran. Meski pada kenyataannya, Elaina memang cukup kaku karena ini pertama kalinya ia memperlihatkan tubuh indahnya di depan orang lain—terutama seorang pria.
Mata elang Dalen memandang area d**a Elaina tanpa berkedip. Senyum miring khas milik pemimpin Punox itu kembali tersungging di wajah tampannya. Tatapan nakal itu terlihat jelas, membuat Elaina menggeram dalam hati—menahan rasa kesal.
Tangan Elaina terkepal pelan di bawah sana. “Tatapannya itu sangat memuakkan dan menjijikkan. Ini pertama kalinya tubuhku ditatap dan dipertontonkan di depan seorang pria. Perasaan dilecehkan seperti ini tidak boleh sia-sia, Elaina. Kau harus berhasil mengikat pria iblis ini secara perlahan dan sepenuhnya berada di pihakmu, sehingga nanti bisa kau gunakan sebagai alat untuk balas dendam—membuat Paumy menderita, sehingga ia memohon untuk mati,” desis Elaina dalam hati.
Dalen tiba-tiba berdiri sembari terus menggendong Elaina. Perlahan ia mulai menaiki hamparan empuk itu, dan membaringkan tubuh Elaina sembari terus menghirup aroma manis dari batang leher Elaina.
Detik demi detik berlalu, kini jari kekar Dalen mulai membuka kancing kemejanya hingga terbuka sempurna. Dengan gagahnya pemimpin mafia itu melempar kemeja hitam itu ke sembarang arah, mengekspos tubuh kekarnya yang begitu menggoda. Bahkan Elaina terpaku di bawah sana, matanya tak berkedip memandangi deretan roti sobek tertata menyegarkan di perut Dalen. Otot lengan yang begitu menggugah, dan otot bahu menambah kesan hot pada pria tampan berusia 37 tahun itu.
Hingga pergerakan tangan Dalen berselancar di ikat pinggang, kesadaran Elaina mulai kembali. Gadis cantik yang terbilang masih muda itu meneguk ludahnya kala Dalen membuka ikat pinggang. Elaina semakin membatu kala jari tangan nan panjang itu membuka kancing atas celana, lanjut kepada resleting, hingga celana itu melorot ke bawah, mata Elaina pun melotot sempurna.
Glek!
Elaina meneguk salivanya susah payah. Di bawah kungkungan tubuh kekar Dalen, ditemani temaramnya cahaya lampu, wajah Elaina memerah hingga ke daun telinga. Meski kondisi ruangan tak cukup cahaya, tetapi Dalen menyadari wajah merona Elaina dan bisa menangkap kegugupan gadis cantik itu.
“Berapa umurmu?” tanya Dalen di sela aksinya terus membuka celana.
“D-dua puluh dua tahun, Tuan,” sahut Elaina tergagap. “Astaga, apa yang ada di balik celananya itu? K-kenapa besar sekali?” lanjutnya semakin tergagap dalam hati.
Dalen menaikkan sebelah alisnya. “Dua puluh dua tahun? Masih muda, yang penting sudah cukup umur,” bisiknya serak, “pertama kalinya?”
“A-apanya?”
“Bermain dengan pria seperti ini?”
“I-ini pertama kali, Tuan,” jawab Elaina jujur. Jangankan bermain panas seperti ini, sekadar tidur satu ranjang pun tak pernah. “Dasar om-om m***m,” gerutunya dalam hati.
Jika dilihat dari perbedaan umur antara Elaina dan Dalen, sah-sah saja Elaina memanggil ‘om’ kepada Dalen. Elaina masih berusia 22 tahun, sedangkan Dalen sudah berusia 37 tahun, perbedaan umur mereka adalah 15 tahun. Apakah Dalen bisa dipanggil sebagai pe-dofil? Mungkin tidak, karena Elaina sudah cukup umur untuk melakukan adegan dewa-sa ini.
“Kau boleh berteriak dan menjerit sesukamu.” Dalen berbisik sembari memulai aksinya menggerayangi tubuh seksi Elaina.
Meski Elaina masih belum benar-benar telan-jang, tetapi gadis itu tak nyaman sedari tadi. Apalagi Dalen terus menatap tubuhnya dengan sorot nakal.
Elaina memejamkan mata, mencoba bersahabat dengan rasa benci dan rasa sakitnya. “Tenang, Elaina. Bukankah ini memang rencanamu? Terserah jika orang-orang akan menge-capmu sebagai wanita mura-han, tapi kamu memang hanya bisa jual kecantikan dan tubuh indahmu ini untuk menarik perhatian Dalen. Tidak ada cara lain, jika memang harus memberikan kepera-wanan ini ... aku rela, asal kematian Kakak bisa segera dibalaskan.”
Tanpa sadar, air mata menetes di sudut mata Elaina yang sedang terpejam. Dan, hal itu tertangkap oleh mata elang Dalen. Meski semua ini sesuai dengan rencana Elaina, tetapi sebagai seorang gadis yang masih suci, tentu saja Elaina merasakan sakit karena harus merelakan kesuciannya itu kepada pria yang bukan suaminya.
Rahang Dalen mengeras. Seketika mood-nya hancur dan rusak karena melihat air mata Elaina. “Pergi.”
Desisan dingin itu mengejutkan Elaina. Kelopak matanya seketika terbuka dan terpaku melihat ekspresi mengerikan Dalen.
“Pergi dari sini!” bentak Dalen.
Elaina terlonjak. Dengan segera ia duduk, lalu turun dari ranjang. Gadis itu melirik Dalen sejenak, lalu merapikan baju robeknya, kemudian berlari ke arah pintu. “Seorang Dalen melepaskan tawanannya hanya karena melihat si tawanan menangis? Tidak mungkin sekali pria iblis seperti dia punya rasa iba ‘kan?” batin Elaina bertanya-tanya.
Dalen memandang tajam pintu kamar yang masih terbuka setelah Elaina berlari pergi dari sana. “Padahal seluruh wanita berlomba-lomba ingin naik ke ranjangku. Bahkan tak sedikit yang melakukan cara licik memberiku obat demi bisa tidur denganku, tak terkecuali Paumy. Tapi dia? Dia malah menangis, seakan begitu tidak ingin tidur denganku? Wanita ini benar-benar memancing batasku. Jangan kira karena sekarang kau bisa kabur, kau mengira sudah bebas dariku. Aku melepaskanmu untuk menangkap kembali, ayo kita bermain-main,” desisnya menyeringai penuh makna.